Kamis, 02 Mei 2013

Raden Ayu Siti Hartinah



Istri Presiden

Pada suatu hari, istri Panglima Kostrad, Ny Soeharto kedatangan seorang penjual batu akik. Si penjual adalah warga negara Indonesia keturunan India. Ny. Soeharto tidak menunjukkan minat terhadap barang dagangannya. Si penjual pun menjual komoditas lainnya, meramal nasib.
Mula-mula si peramal menyebutkan masa lalu Siti Hartinah Soeharto. Merasa banyak kecocokan, akhirnya nyonya rumah mita diteruskan meskipun hanya sekadar iseng. Hingga kemudian si peramal itu berkata, "Madam, suami madam akan berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan presiden yang sekarang."
Ny. Soeharto tidak lantas percaya. Menjadi perwira tinggi AD saja sudah demikian berat tugasnya. Si peramal pun tidak memaksa kliennya untuk percaya. Ia hanya perlu bayaran sebagai imbalan jasa ramalannya. Akhirnya, dibayarlah si peramal itu sesuai dengan yang diminta.
Pada tahun 1967, Sidang Istimewa MPRS secara aklamasi mengangkat Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Ini berarti, Ny. Soeharto yang tadinya adalah istri prajurit kini menjadi istri presiden. Menduduki jabatan presiden, baik oleh Soeharto maupun istrinya tidak pernah terpikirkan sama sekali.
Ny. Soeharto yang telah terbiasa dengan kehidupan di lingkungan angkatan bersenjata merasa istilah "pejabat" mengandung arti kesementaraan. Namanya "pejabat" artinya belum definitif. Jika MPRS menganggap tugasnya sudah rampung, maka MPRS sangat mungkin mengangkat orang lain menjadi presiden tanpa embel-embel "pejabat".
Perasaannya mengatakan, jabatan suaminya itu tidak akan lama. Itulah sebabnya, pada saat Jenderal Soeharto dilantik dan diambil sumpahnya oleh MPR, Ny. Soeharto biasa-biasa saja di rumah dan tidak hadir menyaksikan peristiwa yang bersejarah itu. Meskipun ia mengucapkan syukur kepada Tuhan yang menakdirkan suaminya memimpin negeri ini. Namun, ia tetap belum merasa sebagai istri presiden. Sebab menurutnya, Presiden RI masih Bung Karno. Padahal saat itu sebenarnya ia telah menjadi ibu utama Indonesia dalam usia 44 tahun.
Pada saat diangkat menjadi pejabat presiden, Jenderal Soeharto sempat menolak dengan alasan tidak yakin mampu mengemban tugas berat. Ia juga beralasan tidak mempersiapkan diri untuk memangku jabatan presiden. Setelah banyaknya desakan, ia akhirnya bersedia meski dengan syarat dicoba dulu untuk satu tahun.
 

Pada bulan Maret 1968, MPRS menggelar Sidang Umum ke-V. Kembali pimpinan partai politik dan pejabat TNI Angkatan Darat mendesak agar Pak Harto menerima jabatan presiden dengan alasan tidak ada tokoh nasional yang lain. Sekali lagi, Soeharto menyatakan menolak. Namun, kali ini sikap keras kepalanya dapat dilumpuhkan setelah mendapat penjelasan bahwa tugasnya itu adalah untuk membela kepentingan rakyat. Soeharto yang selama puluhan tahun berperang demi rakyat tergelitik hati nuraninya. Kalau menolak itu berarti takut. Sedangkan menolak untuk membela kepentingan rakyat? Mustahil dilakukannya. Akhirnya ia pun bersedia.
Pada tanggal 27 Maret 1968 MPRS mengangkat Pejabat Presiden Soeharto menjadi Presiden RI ke-II. Ny. Siti Hartinah Soeharto yang tadinya tidak merasa menjadi istri presiden akhirnya benar-benar menjadi ibu negara.

Pada masa awal kegiatannya sebagai ibu negara, aktivitas sosialnya menjadi fokus perhatiannya. Di samping itu, ia pun mulai memperhatikan istana kepresidenan yaitu Istana Negara dan Istana Merdeka. Di luar Jakarta masih ada istana kepresidenan lainnya yaitu Istana Bogor, Istana Cipanas, Istana Yogyakarta (Gedung Agung), dan Istana Tampak Siring di Bali.
Meskipun menata kembali istana kepresidenan, namun keluarga presiden lebih memilih tinggal di rumah sendiri (Jln. Cendana). Alasannya, tinggal di rumah sendiri lebih bebas, tidak jauh dari masyarakat, lebih sering bertemu masyarakat. Hal ini berbeda dengan tinggal di istana. Di sana setiap tamu harus mencatatkan diri, harus diperiksa, dan lain sebagainya. Sedangkan di rumah, seluruh keluarga dapat bolak-balik keluar masuk dengan bebas.
Perubahan dalam protokol istana dapat terlihat setelah Ibu Tien memberi perhatian untuk membenahinya. Bangunan istana yang merupakan peninggalan zaman Belanda rata-rata sangat kokoh. Tinggal kini diisi dengan berbagai perangkat yang menonjolkan keindonesiaan. Maka, ukiran jati dari Jepara dalam ukuran besar mengisi ruang-ruang istana. Selanjutnya, interior istana dipercantik dengan pewarnaan yang menarik. Ruangan resepsi diberi karpet taiping. Warna merah untuk Istana Merdeka dan warna hijau untuk Istana Negara.
Menu makanan pun mendapat perhatian dari first lady. Kalau dulu yang disajikan adalah menu Indonesia, maka untuk menghormati negara asal tamu kini diseimbangkan antara menu Indonesia dengan menu asing. Dengan demikian, para tamu merasa dihormati dan tetap dapat menikmati hidangan khas Indonesia.
Pemberian cendera mata pun tak luput dari perhatiannya. Pada awal kedatangan tamu negara, tidak ada persediaan apa-apa untuk tamu negara. Ketika Perdana Menteri Jepang berkunjung, sounvenir yang diberikan adalah satu set kursi ukiran Jepara. Selanjutnya diputuskan bahwa cendera mata haruslah benda-benda hasil kerajinan Indonesia. Kalau tamu itu kepala negara, maka akan diberi keris emas buatan Bali sedangkan istrinya akan diberi liontin emas. Pada saat itu harga emas belum terlalu tinggi. Namun, dalam perkembangannya, souvenir untuk tamu negara diubah menjadi sendok garpu dari perak buatan Yogyakarta.
Perayaan ulang tahun kemerdekaan yang dihadiri para corp diplomatik yang ada di Jakarta biasanya dimeriahkan dengan memotong tumpeng ukuran besar. Ibu Tien tampaknya tidak sreg dengan kebiasaan tersebut. Akhirnya dicari pola lain untuk mengganti kue tart. Selanjutnya pemotongan kue tart diganti dengan pemotongan tumpeng. Masalahnya adalah siapa yang akan membuatnya. Akhirnya diputuskan pembuatan tumpeng dilakukan di Cendana agar dapat terkontrol.
Lukisan-lukisan penghias dinding istana pun tak luput dari perhatian ibu negara. Lukisan-lukisan yang dianggap tidak cocok dimasukkan ke museum istana. Kemudian dipilih lukisan-lukisan para pelukis Indonesia dari berbagai aliran.
Banyaknya barang berharga peninggalan Presiden Soekarno membuat Ibu Tien memikirkan perlunya tempat baru untuk menyimpannya. Kebetulan ada ruangan kosong di paviliun kanan Istana Merdeka. Paviliun ini kemudian dijadikan museum istana untuk menyimpan barang-barang berharga. Ibu Tien menganggap barang peninggalan Bung Karno sebagai barang berharga. Sayangnya, penataan terhadap peninggalan itu tidak begitu baik. Kalau tidak ditata, mungkin saja barang-barang tersebut mudah hilang dan tak ada yang tahu. Ratu Juliana dari Kerajaan Belanda tercatat sebagai tamu negara pertama yang mengunjungi museum istana.
Museum istana menyimpan benda-benda koleksi budaya Indonesia dan cendera mata yang berasal dari negara-negara sahabat untuk Presiden dan Ibu Tien. Museum itu juga memiliki ruang tersendiri yang mengoleksi benda khusus. Ruang Raden Saleh misalnya, menyimpan enam buah lukisan raden Saleh yang terkenal. Dua di antaranya merupakan koleksi Kerajaan Belanda yaitu "Perkelahian dengan Singa" dan "Penangkapan Diponegoro". "Perkelahian dengan Singa" dikembalikan Ratu Juliana kepada pemerintah Indonesia ketika Presiden dan Ibu Tien melakukan kunjungan kenegaraan ke Belanda tahun 1970.
Meskipun ruang Istana Negara telah dipercantik, namun tidak menyisakan satu ruangan pun untuk kantor Ibu Negara. Akhirnya Ibu Tien memilih ruangan duduk belakang di rumahnya Jalan Cendana sebagai kantornya. Di tempat yang sederhana itu ia menerima macam-macam tamu dari berbagai kalangan, organisasi, para pemimpin, kalangan profesi, panitia amal, seminar, perlombaan, yayasan, paguyuban, sampai kepada tamu-tamu penting seperti duta-duta besar negara asing yang ditempatkan di Jakarta.
Di tempat kediaman itu pula setiap tahunnya menerima ribuan tamu yang berbondong-bondong datang untuk bersilaturahmi, saling memaafkan pada hari raya idulfitri. Sebab, rumah di Cendana terbuka untuk siapa saja yang datang.
 

Di Istana Merdeka memang ada ruangan kerja Ibu Negara. Di sini ia sering menerima tamu penting seperti istri-istri duta besar atau tamu-tamu resmi lainnya.
Istana Negara sering pula digunakan menjadi tempat berbagai konferensi yang diadakan badan-badan internasional yang bergerak di bidang kesehatan, donor darah, pendidikan, dan lain-lain. Ibu Tien Soeharto selalu hadir dan menyampaikan pidatonya pada acara tersebut. Dalam salah satu pidatonya pernah mengatakan, masalah kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang teramat penting di samping keutuhan akan pangan, sandang, perumahan, dan pendidikan.
Istri-istri kepala perwakilan dan badan-badan internasional pun sering diundang dalam acara minum kopi (Coffee Morning) di istana. Di sini selain bertukar pikiran, mereka juga disuguhi atraksi yang menarik, seperti kesenian tradisional, makanan khas Indonesia, yang tujuannya agar undangan itu bisa lebih memahami kekayaan budaya Indonesia. Acara Coffee Morning dengan demikian telah menjadi sarana promosi wisata Indonesia.
 

Ibu Tien juga adalah pencinta bunga, khususnya anggrek dan melati. Bunga adalah lambang keindahan. Pada Pekan Industri Bunga Desember 1975 Ibu Tien menyampaikan pidato yang berisi antara lain, bunga-bunga yang berwarna-warni dapat membuat kehidupan ini serasa menyejukkan dan menggairahkan. Cinta terhadap bunga akan menambah kecintaan terhadap tanah air yang indah ini. Cinta kepada keindahan dapat memperhalus budi pekerti.
Sebagai bekas pandu, perhatiannya pada gerakan kepanduan tidak pernah surut. Tahun 1961 gerakan kepanduan dilebut mejadi satu wadah yaitu Gerakan Pramuka. Tahun 1967 Ibu Tien termasuk dalam jajaran kepemimpinan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Pembinaan Pramuka memerlukan sarana yang memadai. Sedangkan di Cibubur terdapat lahan yang luas milik Kwartir Nasional, tetapi karena kekurangan dana, lahan itu terlambat pemanfaatannya bagi gerakan Pramuka. Setelah Ibu Tien diberi wewenang untuk mengelolanya, barulah lahan seluas 233 ha itu diubah menjadi lahan untuk rekreasi, sarana pendidikan, dan olahraga.

Taman Mini Indonesia Indah


 

 
Ketika mengunjungi Disneyland di Amerika Serikat dan menyaksikan taman budaya Timland di Thailand, memberi inspirasi bagi Ibu Tien untuk membangun sebuah taman yang menyajikan keindahan budaya dan lingkungan alam Indonesia. Ibu Tien amat menyadari bahwa kekayaan alam dan budaya Indonesia tidak kalah dengan kekayaan alam dan budaya negara lain. Membangun sebuah miniatur Indonesia menurutnya adalah suatu keniscayaan.
Suaminya, Pak Harto, selalu berkata bahwa Indonesia menjadi negara besar karena sejarahnya yang panjang, perjuangan bangsanya yang hebat, dan kebudayaannya yang tinggi. Betapa indahnya rumah-rumah adat dan betapa beraneka ragamnya kebudayaan mulai dari Sabang sampai Merauke. Ia juga ketika berkunjung ke berbagai daerah di tanah air melihat dengan mata kepala sendiri betapa indahnya budaya bangsa Indonesia.
Pada bulan Maret 1971, dalam rapat pleno Yayasan Harapan Kita, gagasan ini diutarakan. Setelah memahami maksud dan tujuan dari gagasannya itu, tidak satu pun peserta pertemuan yang tidak setuju. Semuanya mendukung gagasan Ibu Tien. Meskipun demikian, dukungan dari masyarakat luas tidak didapat dengan mudah. Terjadi perbedaan pendapat dalam menyikapi gagasan Ibu Tien itu.
Aksi-aksi protes menentang pelaksanaan proyek pembangunan taman mini terus terjadi. Lambat laun aksi demo semakin membesar. DPR yang terbentuk dari hasil Pemilu 1971 dan belum memiliki tata tertib maupun komisi-komisi, segera membentuk panitia khusus untuk secara lugas mendudukkan persoalan pada relnya, agar gagasan Ibu Tien itu lebih jelas, transparan, dan dipahami.
Setelah melakukan public hearing dengan berbagai komponen seperti mahasiswa, pengurus Yayasan Harapan Kita (YHK), Konsultan proyek, dan Gubernur DKI, Pansus DPR menyimpulkan bahwa telah terjadi kesenjangan komunikasi dalam menanggapi proyek itu. Masyarakat masih traumatis dengan berbagai proyek mercu suar yang pernah dibangun pada masa Orde Lama. Di samping itu, ada beberapa pihak yang berusaha memancing di air keruh, memanfaatkan isu proyek MMI sebagai isu politik untuk kepentingan mereka. Pak Harto pernah berkata, "Saya tahu bahwa ada kelompok tertentu yang ingin menjadikan proyek yang kami cita-citakan sebagai isu politik."

Pansus DPR akhirnya menanyakan berbagai pertanyaan kepada YHK. Salah satunya adalah mengenai sasaran dari pembangunan miniatur Indonesia Indah yang dijawab oleh YHK untuk membangun dan mempertebal rasa cinta tanah air dan bangsa; memupuk, membina persatuan dan kesatuan bangsa; meningkatkan apresiasi, menjunjung tinggi kebudayaan bangsa melalui upaya penggalian dan menghidupkan kembali kebudayaan yang diwariskan nenek moyang; meningkatkan pariwisata serta menjadi tempat promosi bagi daerah-daerah di seluruh Indonesia; memajukan kerajinan rakyat dan sebagai tempat rekreasi yang bersifat pendidikan bagi rakyat.
Tindakan Pansus DPR ini pada akhirnya dapat meredam suara-suara kontra yang sebelumnya terdengar nyaring. Pembangunan proyek MII pun dapat dilanjutkan secara bertahap. Semua pihak akhirnya memahami dan mengerti duduk persoalannya. Aksi unjuk rasa pun berhenti sama sekali. Pembangunan proyek itu akhirnya dapat dilanjutkan dengan suasana yang tenang.
Pada tanggal 27 Juni 1972 dimualilah pembangunan proyek MII di lokasi yang sekarang ini berada (Cibubur). Luas tanah untuk proyek ini adalah 100 ha. Pembangunan memakan waktu tiga tahun. Waktu ini adalah reltif cepat. Yang pertama dibangun adalah peta maharaksasa Indonesia (arcipel Indonesia) yang merupakan miniatur Indonesia dibangun di atas tanah seluas 8,5 ha. Arcipel itu menggambarkan kepulauan nusantara di atas hamparan lautan (danau-danau buatan) yang sekaligus berfungsi sebagai tempat rekreasi olah raga air. Di seputar arcipel itu berdiri rumah adat dari 26 propinsi.
Selain itu ada juga bangunan joglo yang terdiri dari Pendopo Agung Sasono Utomo dan Sasono Langen Budoyo yang merupakan centrum seluruh rumah adat yang berdiri di atas garis lurus menghadap ke barat segaris dengan Tugu Api Pancasila dan gerbang TMII. Di sana juga ada Gedung Pusat Percontohan Niaga, Museum Indonesia, rumah-rumah ibadah agama-agama resmi di Indonesia, gedung pusat pengelolaan, taman buah, taman bunga, taman burung, air terjun buatan, fasilitas restoran dan warung-warung, tempat pameran, teater, dan sebagainya.
 

Proyek Miniatur Indonesia Indah berakhir ketika hasilnya berupa sebuah Taman Mini Indonesia Indah diresmikan pada tanggal 20 April 1975. Dalam pidato acara peresmian, Ibu Tien mengemukakan, "Ciri utama taman ini adalah penampilan Indonesia yang besar dalam bentuknya yang kecil."
Ibu Tien juga mengucapkan terima kasih kepada mereka yang tidak setuju pembangunan proyek ini. Karena, "Ketidaksetujuan mereka itu sebenarnya ingin mengingatkan kami agar kami tidak berbuat salah, dan dengan begitu mendorong kami bekerja lebih hati-hati."
Ia memberi apresiasi kepada seluruh masyarakat Indonesia. "Tanpa pengertian itu," katanya, "taman ini tidak mungkin terselesaikan. Pembangunan taman ini hanya mungkin terselesaikan dengan adanya gotong royong masyarakat dan akan kami persembahkan kepada masyarakat." Ia mengatakan, sumbangannya adalah sekadar melontarkan gagasan mengenai perlunya sebuah tempat yang bisa menampung berbagai keunggulan bangsa, sedangkan pengerjaannya dilakukan oleh seluruh komponen bangsa.
Taman mini yang telah diresmikan itu dianggapnya baru pada tahap permulaan. "Taman yang kita saksikan sekarang ini memang belum selesai. Nanti, Insya Allah masih perlu dikembangkan dan diperluas lagi sehingga pengunjung akan mendapat gambaran yang utuh mengenai Indonesia.
Presiden Soeharto dalam pidato peresmiannya mengatakan berdirinya taman itu berkat hasil gotong-royong seluruh rakyat Indonesia. "Tanpa keragu-raguan sedikit pun saya mengatakan bahwa taman ini adalah milik seluruh bangsa Indonesia."
 

Pada tahun 1984, di taman itu telah berdiri sebuah teater film termegah yang lain dari yang lain. Teater Film Keong Emas. Arsitekturnya menyerupai keong raksasa berwarna kuning keemasan. Interiornya nyaman dan membuat siapa saja merasa nikmat saat menonton film mengenai Indonesia yang Indah.
Pengakuan secara formal diberikan oleh Asosiasi Pariwisata Asia Pasifik (PATA) terhadap TMII yang menyerahkan PATA GOLD AWARD kepada Ibu Tien Soeharto oleh Presiden PATA yang datang langsung ke Indonesia pada tanggal 19 Juli 1987. Tidak semua objek wisata mendapat kesempatan untuk meraih penghargaan PATA. Pemberian penghargaan itu karena TMII tidak sekadar sebagai tempat hiburan dan rekreasi, melainkan juga TMII berhasil meningkatkan dan mengedepankan nilai-nilai luhur budaya bangsa, sebagai sarana pembinaan generasi muda untuk memahami kepribadian bangsa, dan teknologi modern yang dikembangkan TMII tetap berpijak pada kepribadian bangsa.
Dua pekan sebelumnya, Presiden Soeharto meresmikan Museum Keprajuritan di dalam komplek TMII. Dalam museum ini digelar episode sejarah yang diwujudkan dalam bentuk diorama, fragmen, patung dan relief, benda antik serta tokoh-tokoh pahlawan Indonesia dari abad ke-7 sampai 19. Ibu Tien memiliki pandangan mengenai museum sebagai bukan sekadar tempat kumpulan benda-benda mati. "Yang kita lihat sebenarnya adalah penampilan kembali kisah-kisah yang panjang dan dalam dari sejarah, pikiran dan cita-cita, pesan-pesan dan karya besar, kejayaan dan kegembiraan masa lampau mungkin juga keruntuhan dan kepedihannya.
Jumlah pengunjung TMII terus bertambah dari tahun ke tahun. Pada tahun 1988 jumlah pengunjung mencapai 37 juta orang. Enam tahun kemudian telah membengkak menjadi 74 juta orang. Jumlah pengunjung pelajar dan mahasiswa terus meningkat setiap tahunnya. Sedangkan fasilitas TMII pun terus mengalami penambahan dari tahun ke tahun seiring dengan perkembangan zaman.
Perpustakaan Nasional
Keberadaan gedung Perpustakaan Nasional yang megah di Jalan Salemba Jakarta sekarang ini tidak terlepas dari perhatian Ibu Tien akan pentingnya pengelolaan buku pustaka. Keberadaan perpustakan nasional itu sendiri memiliki riwayat yang panjang.
 

Pada tanggal 24 April 1778 di Batavia berdiri lembaga ilmiah bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Lembaga ini mengoleksi buku dari beberapa pejabat yang bermurah hati. Pada akhir abad ke-19, perpustakan ini menerima terbitan ilmiah dari berbagai sumber di bebrapa negara. Tahun 1913 Pemerintah Hindia Belanda mewajibkan setiap penerbit untuk mengirimkan barang cetakannya kepada perpustakaan itu. Maka, jadilah Bataviaasch Genootschap sebagai perpustakaan terbesar di Asia karena banyaknya koleksi buku yang dimiliki.
Pada Perang Dunia II, sumbangan buku dri penerbit otomatis berhenti. Selama Pemerintahan Militer Jepang, lembaga ini sama sekali tidak berfungsi. Namun, koleksi buku yang amat berharga sama sekali tidak diusik oleh balatentara Jepang, Sehingga seluruh buku koleksi yang ada selamat melewati masa genting.
Setelah Indonesia merdeka, perpustakaan itu masih berada di tangan swasta dan dikelola oleh pustakawan Belanda. Tahun 1950, perpustakaan itu berganti menjadi "Lembaga Kebudayaan Indonesia" dengan status tetap swasta namun dipimpin oleh orang Indonesia. Namun, beratnya pengelolaan perpustakaan dan minimnya anggaran, pada tahun 1962, Lembaga Kebudayaan Indonesia menghibahkan seluruh kekayaannya kepada pemerintah Indonesia. Meskipun demikian nasibnya tetap saja suram dan perpustakaan yang pernah menjadi terbesar di Asia itu turun derajatnya menjadi bagian dari museum pusat.
Pada masa Orde Baru, perhatian terhadap perpustakaan mulai pulih. Namun, itu bukan masalah mudah mengingat lokasi perpustakaan menyebar di beberapa tempat. Adalah Mastini Hardjoprakoso yang pada waktu itu menjabat kepala perpustakaan museum pusat memiliki ide cemerlang mengangkat citra perpustakaan. Ia merancang pameran surat-surat kabar. Berbagai berita yang pernah diterbitkan zaman Gubernur Jenderal Daendels (1810), Raffles (1812), Perang Diponegoro (1825), berdirinya Boedi Oetomo, Sumpah Pemuda, sampai media masaa yang terbit waktu penjajahan Jepang hingga proklamasi dipamerkan.
Sayang, pejabat dari P dan K tidak muncul. Pejabat dari Pusat Lembaga Perpustakaan juga tidak ada yang datang. Yang memenuhi undangan malahan dari Departemen Penerangan, Departemen Luar Negeri, dan para wartawan. Para wartawan inilah yang menulis laporan tentang pameran itu.
Ulasan dan komentar wartawan itu rupanya menarik perhatian Ibu Tien. Ibu Tien pun merencanakan melihat pameran. Ibu Tien menunjukan minat yang besar terhadap keberadaan perpustakaan yang merupakan dokumentasi sangat berharga dalam perjalanan sejarah bangsa. Namun, ia juga menjumpai hal yang mengenaskan karena melihat gudang tua yang lembab dan basah di mana tersimpan berbagai macam terbitan dan dokumen yang sudah sangat lama.
Ia menyadari pentingnya perawatan dokumen. "Dokumen-dokumen itu antara lain harus tersimpan dengan baik dan teliti dalam Perpustakaan Nasional. Sekali dokumen itu rusak atau hilang, maka kita kehilangan sumber yang tidak ternilai harganya dan barangkali tidak pernah tergantikan untuk selama-lamanya. Sejak itu tergerak hati saya untuk membangun gedung Perpustakaan Nasional yang memenuhi syarat dan mampu menampung kebutuhan ke masa depan yang jauh," katanya.
Keinginan Ibu Tien mendapat sambutan positif dari Pak Harto. Gagasan untuk membangun Perpustakaan Nasional pun mendapat dukungan dari pengurus dan badan pendiri Yayasan Harapan Kita.
Pada tanggal 8 Desember 1985 pembangunan gedung Perpustakaan Nasional dimulai. Gedung itu dibangun dalam dua tahap. Tahap pertama selesai Desember 1986 dan tahap kedua selesai Oktober 1988. Kini bangsa Indonesia bisa tersenyum telah memiliki gedung perpustakaan nasional yang pantas dibanggakan.
Rumah Sakit
Perhatian Ibu Tien terhadap masalah kesehatan cukup besar. Tingginya angka kelahiran dan juga tingkat kematian ibu-anak pada saat persalinan membuatnya berpikir untuk membangun rumah sakit khusus. Di samping itu, kelahiran anak merupakan harapan baru bagi Indonesia masa depan yang lebih maju dan mampu bersaing dengan bangsa lain.
 

Pada tahun 1974 dimulailah pembangunan Rumah Sakit Anak dan Bersalin yang terletak di Jalan S. Parma Jakarta. Peresmian RSAB dilaksanakan pada hari Ibu 1979.
Sementara itu, tingginya penderita jantung di Indonesia dan kurangnya fasilitas kesehatan yang memadai membuatnya berpikir untuk membangun rumah sakit khusus melayani penderita jantung. Sebab, banyak orang Indonesia yang menderita penyakit jantung terpaksa harus berobat ke luar negeri karena tidak tersedia perawatannya di sini.
Enam tahun setelah peresmian RSAB, di lokas yang sama diresmikan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita. Meskipun memakai nama Harapan Kita, juga Taman Mini Indonesia Indah dan Perpuskaan Nasional, seluruh pengelolaannya diserahkan kepada pemerintah. Tidak dilakukan oleh Yayasan Harapan Kita.
Inilah sumbangan Ibu negara bagi bangsa Indonesia yang akan dikenang selalu oleh masyarakat Indonesia. TI, Dari berbagai sumber

Sabtu, 12 Januari 2013

Falsafah Orang Batak Toba Dalam Dalihan Natolu

dalihan natolu

Kalau diartikan langsung “Dalihan Natolu” adalah “Dalihan” artinya sebuah tungku yang dibuat dari batu, sedangkan “Dalihan Natolu” ialah tungku tempat memasak yang diletakkan diatas dari tiga batu. Ketiga dalihan yang dibuat berfungsi sebagai tempat tungku tempat memasak diatasnya. Dalihan yang dibuat haruslah sama besar dan diletakkan atau ditanam ditanah serta jaraknya seimbang satu sama lain serta tingginya sama agar dalihan yang diletakkan tidak miring dan menyebabkan isinya dapat tumpah atau terbuang.
Dulunya, kebiasaan ini oleh masyarakat Batak khususnya Batak Toba memasak di atas tiga tumpukan batu, dengan bahan bakar kayu. Tiga tungku jika diterjemahkan langsung dalam bahasa Batak Toba disebut juga dalihan natolu. Namun sebutan dalihan natolu paopat sihalsihal adalah falsafah yang dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak.
Sehari-hari alat tungku merupakan bagian peralatan rumah yang paling vital untuk memasak. Makanan yang dimasak baik makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarga. Biasanya memasak di atas dalihan natolu terkadang tidak rata karena batu penyangga yang tidak sejajar. Agar sejajar maka digunakanlah benda lain untuk mengganjal. Dalam bahasa sehari-harinya kebanyakan orang Batak Toba tambahan benda untuk mengganjal disebut Sihal-sihal.
Contoh umpasa Batak Toba yang menggunakan kata Dalihan Natolu : “Ompunta naparjolo martungkot sialagundi. Adat napinungka ni naparjolo sipaihut-ihut on ni na parpudi. Umpasa itu sangat relevan dengan falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal sebagai sumber hukum adat Batak.”
Apakah yang disebut dengan dalihan natolu paopat sihal-sihal itu? dari umpasa di atas, dapat disebutkan bahwa dalihan natolu itu diuraikan sebagai berikut :
Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna.


Berikut penjabaran singkat tentang makna filsafah Dalihan Natolu dalam kehidupan Batak Toba serta contoh penerapan bersosial dalam adat Batak Toba.
1. Somba marhula-hula
Hula-hula dalam adat Batak adalah keluarga laki-laki dari pihak istri atau ibu, yang lazim disebut tunggane oleh suami dan tulang oleh anak. Dalam adat Batak yang paternalistik, yang melakukan peminangan adalah pihak lelaki, sehingga apabila perempuan sering datang ke rumah laki-laki yang bukan saudaranya, disebut bagot tumandangi sige. (artinya, dalam budaya Batak tuak merupakan minuman khas. Tuak diambil dari pohon Bagot (enau). Sumber tuak di pohon Bagot berada pada mayang muda yang di agat. Untuk sampai di mayang diperlukan tangga bambu yang disebut Sige. Sige dibawa oleh orang yang mau mengambil tuak (maragat). Itulah sebabnya, Bagot tidak bisa bergerak, yang datang adalah sige. Sehingga, perempuan yang mendatangi rumah laki-laki dianggap menyalahi adat.
Pihak perempuan pantas dihormati, karena mau memberikan putrinya sebagai istri yang memberi keturunan kepada satu-satu marga. Penghormatan itu tidak hanya diberikan pada tingkat ibu, tetapi sampai kepada tingkat ompung dan seterusnya.
Hula-hula dalam adat Batak akan lebih kelihatan dalam upacara Saurmatua (meninggal setelah semua anak berkeluarga dan mempunyai cucu). Biasanya akan dipanggil satu-persatu, antara lain : Bonaniari, Bonatulang, Tulangrorobot, Tulang, Tunggane, dengan sebutan hula-hula.
Disebutkan, Naso somba marhula-hula, siraraon ma gadong na. Gadong dalam masyarakat Batak dianggap salah satu makanan pokok pengganti nasi, khususnya sebagai sarapan pagi atau bekal/makan selingan waktu kerja (tugo).
Siraraon adalah kondisi ubi jalar (gadong) yang rasanya hambar. Seakan-akan busuk dan isi nya berair. Pernyataan itu mengandung makna, pihak yang tidak menghormati hula-hula akan menemui kesulitan mencari nafkah.
Dalam adat Batak, pihak borulah yang menghormati hula-hula. Di dalam satu wilayah yang dikuasai hula-hula, tanah adat selalu dikuasai oleh hula-hula. Sehingga boru yang tinggal di kampung hula-hulanya akan kesulitan mencari nafkah apabila tidak menghormati hula-hulanya. Misalnya, tanah adat tidak akan diberikan untuk diolah boru yang tidak menghormati hula-hula (baca elek marboru).
2. Manat Mardongan Tubu.
Dongan tubu dalam adat Batak adalah kelompok masyarakat dalam satu rumpun marga. Rumpun marga suku Batak mencapai ratusan marga induk. Silsilah marga-marga Batak hanya diisi oleh satu marga. Namun dalam perkembangannya, marga bisa memecah diri menurut peringkat yang dianggap perlu, walaupun dalam kegiatan adat menyatukan diri. Misalnya: Si Raja Guru Mangaloksa menjadi Hutabarat, Hutagalung, Panggabean, dan Hutatoruan (Tobing dan Hutapea). Atau Toga Sihombing yakni Lumbantoruan, Silaban, Nababan dan Hutasoit.
Dongan Tubu dalam adat batak selalu dimulai dari tingkat pelaksanaan adat bagi tuan rumah atau yang disebut Suhut. Kalau marga A mempunyai upacara adat, yang menjadi pelaksana dalam adat adalah seluruh marga A yang kalau ditarik silsilah ke bawah, belum saling kimpoi.
Gambaran dongan tubu adalah sosok abang dan adik. Secara psikologis dalam kehidupan sehari-hari hubungan antara abang dan adik sangat erat. Namun satu saat hubungan itu akan renggang, bahkan dapat menimbulkan perkelahian. seperti umpama “Angka naso manat mardongan tubu, na tajom ma adopanna’. Ungkapan itu mengingatkan, na mardongan tubu (yang semarga) potensil pada suatu pertikaian. Pertikaian yang sering berakhir dengan adu fisik.
Dalam adat Batak, ada istilah panombol atau parhata yang menetapkan perwakilan suhut (tuan rumah) dalam adat yang dilaksanakan. Itulah sebabnya, untuk merencanakan suatu adat (pesta kimpoi atau kematian) namardongan tubu selalu membicarakannya terlebih dahulu. Hal itu berguna untuk menghindarkan kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan adat. Umumnya, Panombol atau parhata diambil setingkat di bawah dan/atau setingkat di atas marga yang bersangkutan.
3. Elek Marboru
Boru ialah kelompok orang dari saudara perempuan kita, dan pihak marga suaminya atau keluarga perempuan dari marga kita. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar istilah elek marboru yang artinya agar saling mengasihi supaya mendapat berkat(pasu-pasu). Istilah boru dalam adat batak tidak memandang status, jabatan, kekayaan oleh sebab itu mungkin saja seorang pejabat harus sibuk dalam suatu pesta adat batak karena posisinya saat itu sebagai boru.
Pada hakikatnya setiap laki-laki dalam adat batak mempunyai 3 status yang berbeda pada tempat atau adat yg diselenggarakan misalnya: waktu anak dari saudara perempuannya menikah maka posisinya sebagai Hula-hula, dan sebaliknya jika marga dari istrinya mengadakan pesta adat, maka posisinya sebagai boru dan sebagai dongan tubu saat teman semarganya melakukan pesta.

Senin, 07 Januari 2013

Revolusi Sosial Sumatera Timur (2)

Keterlibatan Komunis menghancurkan Kerajaan-Kerajaan Di sumatera Utara tidak dapat dipungkiri:

Tragedi Tagal 12 malam 13 Maret 1946:
Pada satu malam itu jugak (tgl12 malam 13 MAret 1946).. 5 buah kerajaan Kesultanan Melayu di Sumatra dihapuskan dan di jarah Oleh Revolusi Sosial :
- Kerajaan Langkat
- Kerajaan Kota Bahran
- Kerajaan Asahan
- Kerajaan Serdang
- Kerajaan Deli
Juga kerajaan;
Kerajaan Bilah
Sultan Bidar Alam Syah IV dibunuh dengan dipenggal kepalanya.. istannya dirompak dan dibakar
Kerajaan Panai
Kerajaan Mahmud Aman Gagar Alam Syah dibunuh satu keluarga.
Kerajaan Labuhan Batu
YDP Tengku Al Haji Muhammad Syah dan keluarganya dibunuh.
Kerajaan Serdang dan Kerajaan Deli
Sultan2 dibunuh.. tapi istananya selamat kerana didiami pegawai pemerintah.
Kerajaan Langkat
Istananya dibakar dan dirompak, SEMUA kerabat sultan Langkat dibunuh dengan dibakar hidup2.. termasuk Tengku Amir Hamzah
Lebih kejam lagi,  Puteri2 Sultan Langkat di perkosa di hadapan Sultan Langkat sendiri sebelum dibunuh.
Kerajaan Asahan
Kesemua kerabat lelaki Tengku Musa dan anaknya dibunuh kejam.  140 orang yang memakai gelaran “Raja”, “Tengku”, “Wan” semuanya dibunuh.
Kerabat2.. pembesar2 negeri dan rakyat2 yang bersimpati semuanya dibawa ke Kem Tahanan di Tanah Karo negeri batak untuk disiksa, dirogol dan dibunuh.
Semua kekejaman ini dilakukan oleh buruh buruh perkebunan yang didatangkan dari jawa dan dihasut oleh Komunis dan mengatakan  bahwa Raja-Raja Melayu adalah bersekolkol dengan Belanda untuk menindas rakyat kecil
Istana Kota Bahran.. sebelum penghapusan etnik Melayu :

Ditinggalkan oleh perompak begitu saja setelah puas menjarah dan membakar

ISTANA TANJUNG PURA.. Istana yang paling indah :
Istana Bedagai Rantau Panjang Kerajaan Serdang :

Istana Puri Kerajaan Melayu Medan
Dan lain2 istana2, masjid2 dan rumah2 peninggalan raja2 Melayu yang dibakar dan dihapuskan bukti peninggalannya oleh pejuang Revolusi sosial  

Revolusi Sosial Sumatera Timur (1)

Revolusi Sosial Sumatera Timur adalah gerakan sosial di Sumatera timur oleh rakyat terhadap penguasa kesultanan Melayu yang mencapai puncaknya pada bulan Maret 1946. Revolusi ini dipicu oleh gerakan kaum komunis yang hendak menghapuskan sistem kerajaan dengan alasan antifeodalisme. Revolusi melibatkan mobilisasi rakyat yang berujung pada pembunuhan anggota keluarga kesultanan Melayu yang dikenal pro-Belanda namun juga golongan menegah pro-Republik dan pimpinan lokal administrasi Republik Indonesia.

Latar belakang

Karena sulitnya komunikasi dan transportasi, proklamasi kemerdekaan 17 Agustus baru dibawa oleh Mr. Teuku Muhammad Hasan selaku Gubernur Sumatra dan Mr. Amir selaku Wakil Gubernur Sumatra dan diumumkan di Lapangan Fukereido (sekarang Lapangan Merdeka), Medan pada tanggal 6 Oktober 1945. Pada tanggal 9 Oktober 1945 pasukan AFNEI dibawah pimpinan Brigjen T.E.D. Kelly mendarat di Belawan. Kedatangan pasukan AFNEI ini diboncengi oleh pasukan NICA yang dipersiapkan untuk mengambil alih pemerintahan dan membebaskan tawanan perang orang-orang Belanda di Medan.[2] Pada pertengahan abad ke-19, perkebunan tembakau tumbuh dengan pesat di wilayah kesultanan Deli  sehingga mengakibatkan migrasi buruh (koeli) perkebunan yang diangkut oleh Belanda. Pada awal abad ke-20, hampir separuh penduduk Sumatera Timur adalah buruh pendatang yang banyak dieksploitasi oleh Belanda.
Meletusnya revolusi sosial di Sumatera Utara tidak terlepas dari sikap sultan-sultan, raja-raja dan kaum feodal pada umumnya, yang tidak begitu antusias terhadap kemerdekaan Indonesia karena setelah Jepang masuk, pemerintah Jepang mencabut semua hak istimewa kaum bangsawan dan lahan perkebunan diambil alih oleh para buruh. Kaum bangsawan tidak merasa senang dan berharap untuk mendapatkan hak-haknya kembali dengan bekerja sama dengan Belanda/NICA, sehingga semakin menjauhkan diri dari pihak pro-republik. Sementara itu pihak pro-republik mendesak kepada komite nasional wilayah Sumatera Timur supaya daerah istimewa seperti Pemerintahan swapraja/kerajaan dihapuskan dan menggantikannya dengan pemerintahan demokrasi rakyat sesuai dengan semangat perjuangan kemerdekaan. Namun pihak pro-repbulik sendiri terpecah menjadi dua kubu; kubu moderat yang menginginkan pendekatan kooperatif untuk membujuk kaum bangsawan dan kubu radikal yang mengutamakan jalan kekerasan dengan penggalangan massa para buruh perkebunan.

Revolusi Sosial Maret 1946

Amir Hamzah salah satu korban Revolusi Sumatera Timur
Di Tanjung Balai, Asahan 3 Maret 1946 sejak pagi ribuan massa telah berkumpul. Mereka mendengar bahwa Belanda akan mendarat di Tanjung Balai. Namun kerumunan itu berubah haluan mengepung istana Sultan Asahan. Awalnya gerakan massa ini dihadang TRI namun karena jumlahnya sedikit, massa berhasil menyerbu istana sultan. Besoknya, semua bangsawan Melayu pria di Sumatera Timur ditangkap dan dibunuh. Hanya dalam beberapa hari, 140 orang kedapatan mati, termasuk para penghulu, pegawai didikan Belanda, dan sebagian besar kelas tengku. Di Tanjung Balai dan di Tanjung Pasir hampir semua kelas bangsawan mati terbunuh. Sedangkan di Simalungun, Barisan Harimau Liar membunuh Raja Pane. Gerakan ini juga memakan korban yang terjadi di Tanah Karo. Di daerah kesultanan besar, Deli, Serdang, dan Langkat Persatuan Perjuangan mendapat perlawanan. Serdang yang memang dalam sejarahnya anti-Belanda tidak terlalu dibenci masyarakat dan juga terlindung karena ada markas pasukan TRI di Perbaungan. Sedangkan istana Sultan Deli terlindung karena adanya benteng pertahanan tentara sekutu di Medan sedangkan istana Langkat juga terlalu kuat untuk diserbu. Pergolakan sosial berlanjut pada 8 Maret. Sultan Bilah dan Sultan Langkat ditangkap lalu dibunuh. Berita yang paling ironis adalah pemerkosaan dua orang putri Sultan Langkat, pada malam jatuhnya istana tersebut, 9 Maret 1946 dan dieksekusinya penyair terkemuka Tengku Amir Hamzah. Meskipun pemerkosa ditangkap dan dibunuh namun revolusi telah melenceng jauh.
Gerakan itu begitu cepat menjalar ke seluruh pelosok daerah Sumatera Timur oleh para aktivis PKI, PNI dan Pesindo. Puluhan orang yang berhubungan dengan swapraja ditahan dan dipenjarakan oleh lasykar-lasykar yang tergabung dalam Volksfront. Di Binjai, Tengku Kamil dan Pangeran Stabat ditangkap bersama beberapa orang pengawalnya. Istri-istri mereka juga ditangkap dan ditawan ditempat berpisah.
Pada tanggal 5 Maret Wakil Gubernur Mr. Amir mengeluarkan pengumuman bahwa gerakan itu suatu “Revolusi Sosial”. Keterlibatan aktivis Partai Komunis dalam revolusi sosial di Sumatera Timur memberikan kontribusi besar; terlebih lagi tanggal 6 Maret 1946, Wakil Gubernur Dr. Amir secara resmi mengangkat M. Joenoes Nasoetion, yang juga ketua PKI Sumatera Timur sebagai Residen Sumatera Timur. Untuk meminimalkan korban Revolusi Sosial, Residen Sumatera Timur M. Joenoes Nasution untuk sementara waktu bekerjasama dengan BP.KNI maupun Volksfront, dan Mr. Luat Siregar diangkat menjadi Juru Damai (Pacifikator) untuk seluruh wilayah Sumatera Timur dengan kewenangan seluas-luasnya.

“Inong Balee”, Sepanjang Sejarah Aceh

 
 
Kerajaan Aceh Darussalam adalah kerajaan Islam yang berdiri setelah beberapa kerajaan kecil seperti kerajaan Samudra Pasai, kerajaan Pereulak, kerajaan Pedir yang bergabung dibawah Kerajaan Aceh Darussalam. Keberadaan kerajaaan Aceh Darussalam dimulai oleh Sultan Ali Mughayat Syah sebagai pendiri Kerajaan Aceh Darussalam.
Setelah berdirinya kerajaan ini maka sultan Alaidin Mughayat Syah mulai memperkuat dan memperluas kekuasaan kerajaan Aceh Darussalam dengan menyerang Portugis di kerajaan Daya (Aceh Jaya sekarang), berikut menyerang Portugis yang ada di kerajaan Pedir (Kabupaten Pidie sekarang), dan setelah itu menyerang Portugis yang ada di kerajaan Samudra Pasai (Geudong Aceh Utara sekarang), berikutnya ke kerajaan Pereulak, kerajaan Beuna, dan kerajan Aru di Sumatra Timur serta malaka di Semenajung Malaysia.
Kerajaan Aceh Darussalam mencapai masa kejayaannya pada masa kepemimpinan sultan Iskandar Muda, namun demikian ada peristiwa menarik pada masa sultan Alauddin Riayat syah Al-Mukammil (yang memerintah Kerajaan Aceh Darussalam mulai 997-1011 H atau 1589-1604 M) dimana pada masa sultan Alauddin Riayat syah Al-Mukammil terjadi pertempuran antara armada selat malaka Aceh dengan armada Portugis. Didalam pertempuran tersebut sultan Alauddin Riayat syah Al-Mukammil memimpin sendiri armadanya dengan dikawal oleh dua orang laksamana.
Pertempuran teluk Haru berakhir dengan hancurnya armada Portugis, sementara dua orang laksamana Aceh bersama seribu prajuritnya syahid, Kemenangan armada Selat Malaka Aceh atas armada Portugis disambut gembira oleh seluruh masyarakat Kerajaan Aceh Darussalam, namun demikian laksamana Malahayati merasa geram dan marah kepada Portugis mestipun peperangan dimenangkan oleh armada Aceh. Laksaman Malahayati adalah istri salah satu laksamana yang syahid dalam perang laut Haru tersebut. Laksamana Malahayati diangkat oleh sultan Alauddin Riayat syah Al-Mukammil menjadi komandan protokol istana Darud Dunia.
 
Karena geram dan tidak senang terhadap Portugis kemudian Malahayati memohon kepada sultan Alauddin Riayat syah Al-Mukammil agar membentuk sebuah armada Aceh yang prajurit–prajuritnya adalah para wanita janda, dimana suami mereka telah syahid dalam perang teluk haru, permohonan Laksamana Malahayati dikabulkan oleh sultan Alauddin Riayat syah Al-Mukammil dan laksamana Malahayati diangkat sebagai panglima armada tersebut. Armada ini kemudian disebut dengan sebutan armada Inong Balee (armada wanita janda) dengan mengambil teluk Krueng Raya sebagai pangkalan armada.
Bila ditelusuri Keumala Hayati (Laksamana Malahayati), sewaktu muda pernah mendapat pendidikan militer pada pusat pendidikan tentara Aceh yang bernama pusat pendidikan Asykar Baital Makdis. Para instrukturnya, antara lain terdiri dari para perwira Turki Usmani dalam rangka kerja sama dengan kerajaan Aceh Darussalam.
Malahayati memilih pendidikan angkatan laut, karena dalam tubuhnya telah mengalir darah prajurit laut. Ayah dan kakek laksamana Malahayati adalah para prajurit armada perang laut Aceh. Semangat dan kecintaan laksamana Malahayati terhadap laut Aceh dan kebenciannya terhadap Portugis serta kematian suaminya dimedan perang Haru menjadi latar belakang terbentuknya pasukan Inong Balee pada kerajaan Aceh Darussalam yang dibentuk pada masa sultan Alauddin Riayat Syah Al-Mukammil melalui izin yang diberikan kepada laksaman Malahayati untuk membentuk armada perang yang terdiri dari janda-janda yang telah ditinggalkan oleh suami mereka yang gugur dimedan perang dalam mempertahankan wilayah kerajaan Aceh Darussalam.
Sebelum armada Inong Balee turun Ke arena Perang Para pasukan Inong Balee Ini Diberikan Pelatihan Militer, yang dilatih oleh laksamana Malahayati agar kemudian para Inong Balee ini menjadi mahir dalam mengunakan senjata dan mampu mengendalikan kapal-kapal serta memiliki kemampuan fisik yang kuat sehingga menjadikan pasukan ini menjadi pasukan yang tangguh.
Latihan militer tersebut diberikan di benteng Inong Balee yang sekarang terletak di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar untuk mencapai tempat tersebut kita harus melintas 1 kilo meter dari jalan krueng raya. Keberadaan benteng Inong Balee di tepi jurang dan dibawahnya terdapat pantai dengan batuan karang.
 

Benteng Inong Balee ini juga berfungsi sebagai benteng pertahanan sekaligus sebagai asrama penampungan para janda yang suaminya telah gugur dalam pertempuran. Selain itu juga digunakan sebagai tempat penempatan logistik perang. Dari posisi dan letak benteng Inong Balee sangatlah strategis sebagai wilayah pertahanan.
Pasukan Inong Balee yang dibentuk oleh sultan Alauddin Riayat syah Al- Mukammil merupakan armada perang yang semua personilnya terdiri dari para janda–janda yang ditinggalkan oleh suaminya, pasukan Inong Balee ini di pimpin oleh laksamana Malahayati.
Nama armada Inong Balee inilah juga yang kemudian menjadi nama sebuah kesatuan dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh yang seluruh anggotanya terdiri dari para perempuan-perempuan Aceh, Baik yang sudah menikah maupun yang masih gadis.
Setelah terbentuknya armada Inong Balee yang terdiri dari para janda, maka berikutnya adalah peran armada ini dalam mempertahankan Kerajaan Aceh Darussalam, armada ini sangat berjasa dalam menjaga laut Aceh dari penjajahan Portugis yang ingin menguasai wilayah Aceh dan mengambil kekayaan Aceh dengan langkah pertama yang coba dirintis yaitu menguasai laut sebagai jalur transportasi pada saat itu.
Salah satu peristiwa yang mengangkat nama Malahayati adalah peristiwa Houtman bersaudara, Ketangguhan armada yang dipimpin oleh laksamana Malahayati membuat portugis dan negara Eropa lainnya risih, karena armada Inong Balee Aceh telah memiliki seratus buah kapal perang, yang setiap kapal dilengkapi dengan meriam-meriam dan lila-lila.
Kapal terbesar dilengkapi dengan lima meriam. Untuk ukuran zaman itu, armada Inong Balee dipandang sebagai armada yang kuat di selat malaka bahkan di samudra Asia Tenggara, seperti yang di jelaskan oleh Deny Lembard dalam bukunya kerajaan Aceh dizaman Iskandar Muda.
Laksamana Malahayati adalah anak dari laksamana Mahmud Syah Bin-Laksamana Muhammad Said Syah, bin Sultan Salahuddin Syah (memerintah Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 936 sampai dengan 945 H atau 1530 sampai dengan 1539 M).
Kegagahan dan ketangguhan Malahayati dan armada nya telah terbukti dimana pada tanggal 21 juni 1599 M pasukan Belanda yang dikepalai oleh Cornelis de houtman dan Frederijk de houtman, diserbu oleh pasukan Inong Balee karena kedua bersaudara yang memimpin pasukannya berkhianat terhadap pemerintahan kerajaan Aceh yaitu dengan menyamarkan kapal perang menjadikannya kapal dagang, oleh sebab itu maka atas kejelian armada Aceh diketahuilah niat Cornelis de houtman dan Frederijk de houtman, sehingga armada Inong Balee menyerang pasukan Belanda tersebut.
 
Akhirnya Cornelis de houtman mati ditikam oleh laksamana Malahayati dengan rencongnya sedangkan saudaranya Frederijk de houtman ditawan oleh armada Inong Balee dan diserahkan Kerajaan Aceh Darussalam. Seorang penulis wanita, Marie van zeggelen, dalam bukunya: Oud Glorie, antara lain menulis yang diterjemahkan sebagai berikut:
” Dikapal van leeuw telah dibunuh cornelis de houtman dan anak buahnya oleh laksamana malahayati sendiri, sementara sekretaris rahasianya menyerang frederijk de houtman dan ditawan nya serta dibawa kedarat. Davis dan tomkins menderita luka…”
Selain itu di Kerajaan Aceh Darussalam dikenal juga dengan nama sukey Inong kaway istana atau resimen wanita pengawal istana yang dibentuk oleh Sultan Muda Ali Riayatsyah V (Memerintah dalam tahun 1011 sampai dengan tahun 1015 H atau 1604 sampai dengan tahun 607 M). Semuanya terdiri dari wanita, baik yang masih gadis maupun wanita muda yang telah bersuami dan sukey ini dipercaya oleh sultan untuk mengawal kerajaan Darud Dunia.
Hal ini membuktikan bahwa di Aceh telah adanya suatu penghargaan terhadap perempuan, sehingga perempuan selalu mengambil andil di dalam perpolitikan Aceh sejak masa Kerajaan Aceh Darussalam hingga sekarang. Tidak ada perbedaan yang mendasar antara laki-laki dan perempuan yang ada hanyalah perbedaan bentuk jenis kelamin yang kemudian membedakan fungsi perempuan dalam kehidupan biologis.
Di dalam rentetan sejarah sering terdengar nama-nama besar para wanita Aceh sebagai orang yang berperan secara langsung maupun tidak langsung dalam berbagi upaya perjuangan hak-hak Aceh, misalkan Tengku Fatimah, Pocut Baren, Tengku Fakinah, Pocut Meurah Intan, yang oleh kita perlu mengabadikan semangat perlawanan mereka, Mereka adalah beberapa wanita Aceh yang memperjuangkan Aceh dan masih banyak perempuan lainnya yang setia akan kemerdekaan Aceh dan kejayaan Aceh sebagai negara yang berdaulat.
Tradisi militer perempuan Aceh kemudian terus berkembang hingga sultan Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh Darussalam Aceh (1607-1636 M), sehingga sampai pada tahun 1873 Belanda memaklumatkan perang dengan kerajan Aceh Darussalam, patriotisme perempuan Aceh yang begitu besar juga terlihat pada masa perang dengan Belanda.
Demikian rindangnya sejarah Aceh, dan peran perempuan Aceh dalam lingkaran sejarah khususnya pasukan inong balee yang telah menyisakan monumen sejarahnya di Aceh. Jika boleh kiranya pemerintah memperhatikan hal ini semua.

Barus 1000 tahu yang lalu

PELETAKAN BATU PERTAMA PEMBANGUNAN TUGU RAJA TOGA LAUT PARDEDE DI LUMBAN JABI-JABI - BALIGE

Setelah terbentuknya panitia pembangunan Tugu Raja Toga Laut Pardede di Jakarta oleh beberapa keturunan Raja toga Laut Pardede yang berdomisili di jakarta sekitarnya (sejabodetabek)
maka diputuskanlah agar semua keturunan Raja Toga Laut Pardede ikut serta dalam Napak tilas show force keliling kota Balige pada tanggal 18 Agustus 2007, dengan rute dimulai Losmen Toga Laut Tawar, Tugu Naga Baling, Makam Raja Bona Ni Onan Pardede & Raja Paindoan Pardede dan ber akhir di Lumban Jabi-jabi / Tugu Raja Toga Laut Pardede, yang kemudian dengan kata-kata sambutan, oleh Tokoh-tokoh Sonak malela dll.