Selasa, 31 Maret 2009

Anak Raja Toga Laut Pardede mencari Jodoh



HUTUR BALLUK

Lumban Jabijabi - Balige

Alkisah dimulai dari sebuah keluarga Raja Toga laut Pardede yang bermukim di lumban Jabijabi Balige, (sekarang tugu Panjaitan berdiri,dan dprd). Sudah tiga hari hujan tidak henti-hentinya membasahi bumi, Sedangkan keluatga dekat dalam keadaan khawatir menunggu kelahiran anak pertama dari Raja Toga Laut , bersamaan suara guntur terdengar suara bayi, mendadak seisi rumah bergembira, segala puji-pujian dilantunkan sanak keluarganya kepada oppu Mulajadi Na Bolom (pada saat itu belum ada agama samawi)

Seorang anak laki-laki (putra pertama) telah hadir dalam keluarga Raja Toga Laut Pardede, yang diberi nama "Hutur Baluk" dari seorang ibu boru Samosir

Memang apa yang dikatakan orangtua "dang dao tumis sian bonana", begitulah suatu perumpamaan tentang perangi Hutur Baluk yang hampir sama dengan perangai dari Raja Toga Laut Pardede setelah Hutur BAluk beranjak dewasa, kebijaksanaan, kharisma dan ketangkasan dan sebagainya sangat menonjol

Pada suatu hari setelah Hutur Baluk dewasa sang ibu menyuruh anaknya untuk pergi martandang kekampung Tulamgnya, karena ibunya sangat ingin bermenantukan boru dari itonya sendiri, keinginan ibunya tidak ditolaknya, setelah mohon doa restu dari kedua orang tuanya, Hutur Balukpun berangkatlah kekampung Tulangnya, dengan berbekal sedikit pengetahuan tentang tabiat dari tulangnya yang terbilang keras, untuk itu dia dibekali dengan strategi menghadapi tulangnya yang baik hati itu.

Singkat cerita Hutur Balukpun sampailah kekampung Tulangnya, sesampai dirumah tulangnya, dia ditegur seorang wanita setengah berumur "Siapa kau tanyanya", HUtur Balukpun menjawabdengan penuh hormat karena tahu wanita itu adalah pasti Nantulangnya, sembari dia menyodorkan tangannya untuk menyalam wanita itu "Ahu si Hutur do nan tulang" sian Balige. "Ba ho do i hape bere, tu jabu ma hita", sambut Nan tulangnya dengan senang dan gembira akan kehadiran berenya (anak dari edanya yang kawin dengan Raja Toga Laut Pardede yang bernama Ramot Parulian boru Samosir}

"Rumita bahen jo minuman ni pariban mon", seru Nantulangnya memanggil Borunya sambil mengasi tahu anak namborunya dari BAlege datang."Olo Inong" sebuah suara dari arah dapur menjawab, Hutur Baluk mendengar suara itu saja sudah membayangkan kecantikan boru tulanngnya, diapun tidak sabar melihat boru tulangnya yang berna si Rumita. Seorang gadis desa muncul dari dapur dengan membawa secangkir minuman,Mata Hutur Baluk tidak lepas memandangi sang gadis si boru tulang, meskipun gadis desa yang masih terbilang belia, namun kecantikannya lumayan mempesona. Tingkah Hutur Baluk tidak lepas dari perhatian nantulangnya.

"Satokin nai mulak ma tulang mu sian pasar", tegur nantulangnya membelah keheningan, Hutur tersentak akan seruan nantulangnya.Tidak berapa lama muncul seorang laki-laki yang sudah berumur dan sangat berwibawa. Hutur Baluk Tahu pasti itu Tulangnya , tanpa menunggu nantulangnya memeperkenalkannya dia langsung menyalami Tulangnya. "Siapa kau" tanya pendek dengan bahasa toba samosir yang sangat medok. Anakni Amang ( sebuah panggilan terhadap besan)par Balige do hasida, Oo, jawabnya singkat, "sudah makan kau" tanya tulangnya lagi, kembali sang nantulang menjawab "tetapi menunggu tulangnya dia katanya baru mau makan". Maka merekapunmakan bersama-sama

Tulang Hutur Baluk dikenal di Onan Runggu samosir sebagai Paruma Bolon, dan sangat berwibawa dan tegas dalam memutuskan sesuatu, kepribadian tulangnya tersebut dari awal sudah diberi tahu oleh Ibunya, Tulangnya sudah mengerti apa tujuan Hutur Baluk Datang,oleh karena itu sang tulang akan menguji berenya untuk mengetahui sejauh mana tanggung jawab berenya itu kalau borunya si Rumita jadian dengan Hutur BAluk, apakah sama besar tanggung jawabnya dengan Bapaknya si Raja Toga LAut

Didalam tradisi Batak apabila orang tua menyuruh anaknya pergi berkunjung (martandang) ke kampung tulangnya maka siorang tua sudah cukup yakin bahwa sianak tidak akan mempermalukan mereka, secara tidak langsung mereka ingin memberitahu besannya (hula-hulanya) bahwa mereka telah berhasil mendidik anak mereka dengan baik, dan layak untuk diambil sebagai menantu.

Oleh karena itu Tulang Hutur paruma bolon mulai menatar berenya, mulai dari bertani (ke hauma), betrnak (marmahan) kerbau samapai adu kanuragan berupa berpencak silat , semuanya dapat dilalu Hutur Baluk dengan baik, Tulangnya pun sangat bangga akan berenya itu, dan sikapnyapun berobah, sangat menyayangi berenya tersebut.

Hutur Baluk selalu berusaha mendekati Rumita si boru tulang tetapi selalu sia-sia, meskipun demikian HUtur Baluk tidak terlalu kesepian atau jenuh di kampung tulangnya kebetulan ito dari Rumita ada tiga orang. (Putra dari pa Ruma Bolon ada tiga orang. 1- Op.Sori Batu.2- Op. Raja podi. 3- Raja Baringin), dengan mereka-mereka inilah Hutur Baluk bergaul selama di Onan Runggu Samosir kampung Tulangnya.

Setelah berapa lama Hutur Balukun berniat pulang ke BAlige, sedangkan niatnya untuk memeprsunting boru tulangnya (boru samosir) mengalami kendala karena Rumita telah dijodohkan tulanngnya kepada pria lain namun demikian Tulangnya mencoba menjodohkannya dengan adik Rumita,tetapi Hutur Baluk tidak begitu tertarik karena dia sudah termakan pandangan pertama pada Rumita, Dengan berjiwa besar Hutur baluk menolak niat baik tulangnya, sebagai anak Raja Hutur Baluk memohon pamit pada tulangnya.

"Tulang mulak ma jolo ahu tulang, alana nunga tung mansai masihol ahu tu dainang di huta," Hutur berpamitan dengan alasan rindu kepada ibunya, mendengar kata-kata berenya si Nantulang Miris, dia merasakan kekecewaan berenya. NAmun Hutur Baluk tidak seperti dugaan nantulangnya, bagi dia kewajibannya sebagai anak dan juga bere sudah dilaksanakan, dalam adat batak apabila seorang anak laki-laki berniat untuk berumah tangga , maka orang tuanya menyuruh anaknya martandang kekampung tulangnya atau harus terlebih dahulu menjajakinya(menanyai) Tulangnya,

Seperti dikatakan diatas tadi Hutur Baluk tidak terlalu kecewa setelah mengetahui tambatan hati dalam pandangan pertama Rumita telah dijodohkan, dengan diantar semua keluarga tulangnya Hutur BAluk pun pulang ke Balige, dengan dioleholehi seperangkat pusaka oleh tulangnya.Sesampainya di Balige Hutur Baluk berusaha menunjukkan kegembiraan didepan Inongnya(ibunya),

"Bagaimana amang, kabar tulang dan nan tulangmu" tanya Ibunya pada HUtur Baluk, "Tulang dan Nantulang sehat-sehat saja dan aka Lae dan pariban itu semua baik-baik sama aku kata Hutur Baluk menyenangkan hati Ibunya, Cantikkan boru tulang mu si Rumitan itu, susul ibunya bertanya pada Hutur Baluk tak sabar, Cantik sekalipun Inong, tetapi sudah dijodohkan tulang rupanya, jadi aku terlambat kata Hutur Baluk sambil ketawa, takut dia melihat kedua orang tuanya kecewa. "Apa kau bilang" seru ibunya setengah berteriak, "Si Rumitan dijodohkan dengan orang lain tanpa sepengetaguanku!, lanjut ibunya dengan penuh kekecewaan.


"Sudahlah, memang kita yang salah", potong among nya Hutur Baluk si Raja Toga Laut Pardede, meredakan kekecewaan isterinya si boru samosir. "Semua orang akan berebut mengambil borunya lae si paruma Bolon menjadi menantunya, siapa cepat pasti dia yang dapat, kalau tidak cepat dan tangkas aku dulu belum tentu boruni rajai dapatku", kata Siraja Toga Laut Pardede sambil guyon memujimuji isterinya, akhirnya Siboru Samosir ibunya Hutur Balukpun dapat tenang, tidak mengumpat dan marah-marah lagi, meskipun dalam hatinya dia sedih dan kecewa. Tetapi melihat anaknya sedikitpun tidak menunjukkan kekecewaan, si boru samosirpun dapat memaklumi, sembari mengamati anaknya si Hutur Baluk dalam hatinya dia berkata sendiri bahwa anaknya bukan lah pemuda sembarangan, sejak anaknya Hutur Baluk Sepulang dari kampung Tulangnya bertamabh cakap,matang Ganteng, pintar, dan sakti, Si Boru Samosir yakin itonya pasti mengajari anaknya dengan bermacam-maca ilmu, hal inilah yang membuat si ibu tenang, masalah jodoh anaknya sangat banyak anak gadis orang yang berebut jadi isteri dari anakku itu pikir si boru Samosir membesarkan hatinya.

Suatu hari Hutur Baluk berpamitan dengan kedua orang tuanya karena dia denga kawan-kawannya mau jalan-jalan (martandang) ke uluan , Raja Toga Laut hanya berpesan kepada anaknya agar tidak membuat masalah dikampung orang, danbertingkah lakulah seperti anak raja (Raja pangalahom), mudah-mudahan kau akan mendapat hal-hal yang baik (parsaulian), setelah mendapat bekal dari orang tuanya diapun berangkat dengan kawan-kawannya.

Hutur Baluk sekedar mengikuti kawan-kawan saja karena mereka sudah cukup lama berpisah, selama ditinggal nya pergi kekampung tulangnya di Onan runggu Samosir, mereka sampai ke sibisa martandang dari kampung yang satu kekampung yang lain, disetiap kampung mereka diterima dengan baik karena ke empat pemuda tersebut bertingkah laku baik dan sopan santu layaknya anak raja. Dua kawan Hutur Baluk sudah mendapat pasangan tambatan hati, namun Hutur Baluk belum juga tergerak hatinya untuk menggoda anak gadis disetiap kampung yang singgahi mereka, hingga kahirnya tinggal dua orang mereka belum menemui pasangan yang cocok , sedangkan teman nya yang dua orang lagi sudah asyik bercengkrama dengan pasangannya yang bermarga boru Manurung dan boru Torus, berselang berapa lama kawannya yang bermarga Siahaan pun menemui gadis idamannya boru sirait, melihat kawannya yang bermarga siahaan itu juga sudah mendapat pasangan Hutur Balukpun merasa kecil hati, sebenarnya tanpa disadari cukup banyak gadis-gadis mengharap Hutur Baluk melirik mereka dan mangajaknya marhusip- husip (berbincang bincang). akhirnya tingal dia sendiri yang belum mempunyai pasangan, tanpa diduganya melintas dihadapannya seorang anak gadis yang mirip dengan boru tulangnya si Rumita boru Samosir, dia tersentak dari lamunannya dan langsung menegur anak gadis tersebut: " Rumita!" tegur Hutur Baluk sekenanya, sigadis tersebutpun menoleh ke arah Hutur Baluk, "ahai ito", jawab sigadis dengan suara yang lembut , membuat Hutur Baluk terpana sambil berbisik dihatinya, tak kusangka bisa aku menemui gadis yang rupawan mirip dengan boru tulangku bahkan lebih manis lagi, suaranyapun mirip dengan Rumita, hanya lesung pipitnya mebuat perbedaannya dengan Rumita. Penemuan tersebut membuat Hutur Baluk tidak perduli lagi akan ajakan teman-temannya untuk pulang, "Kalianlah duluan jawabnya tegas. Karena mereka berteman sejak kecil maka teman-temanyapu tidak tega meninggalkan Hutur Baluk sendirian di Uluan.

Setelah tiga hari merekapunpulang ke Balige, dengan membawa kenangan manis, mereka telah menemui jodoh mereka, tinggal pelamaran dari pihak orang tua mereka kepihak keluarga perempuan.

Setelah tiba saatnya maka berangkat lah utusan si RAja Toga LAut Pardede ke Uluan melamar si Boru Parnoboto boru Sirait. untuk menjadi Parsoduk bolon (isteri) dari Raja Hutur Baluk Pardede

Sekianlah dulu turi-turian ini disajikan kalau ada kurang dan lebihnya mohon dimaafkan, kami sangat mengharap perbaikan-perbaikan, agar tidak sebatas wacana kisah tersebut diatas.

Catatan:

1- Semoga dapat menambah kecintaan pada nak keturunan Raja toga Laut-Thp.

2- Untuk menambah motivasi bagi keturunan Raja toga Laut Pardede, kami mengharapkan tulisan-tulisan baik berupa mytos dan cerita orang tua kita - Thanks

3- dan dapat menghubungi e'mail: "Togapard@yahoo.com"

Senin, 02 Maret 2009

PERLU KITA MENGENAL YANG AKAN MENJADI PEMIMPIN N.K.R.I. YANG PLURALISTIK.


Latar Belakang Sri Sultan Hamengkubuwono X Mencalonkan Diri Menjadi Capres 2009 – 2014

Sejak Pangeran Mangkubumi. Sultan Hamengkubuwono adalah patriotik

Mudah-mudahan kita dapat menyajikan/memperkenalakan beberapa Capres untuk priode 2009-1014


MENGAPA SAYA MENERIMA DESAKAN GERAKAN TIM PELANGI PERUBAHAN UNTUK MENCALONKAN DIRI SEBAGAI KANDIDAT PRESIDEN RI 2009-2014?

Pada bulan April 2006, beberapa teman dari Jakarta – diantaranya Soegeng Sarjadi, Sukardi Rinakit (SSS), Kristanto Hartadi (Sinar Harapan), Nico (Sinar Harapan), Sudaryanto (Pergerakan Kebangsaan) Jusuf Suroso (SSS) Yanto Sugiharto (wartawan) -- menemui saya di Kraton Kilen, Yogyakarta. Kedatangan mereka untuk mendiskusikan masa depan bangsa dan negara. Sebab jelang 10 tahun reformasi, arahnya makin tidak jelas. Dalam diskusi itu berkembang wacana politik masa depan, termasuk sosok pemimpin yang ideal, yang mampu menjawab tuntutan rakyat. Jawaban saya waktu itu, “ya mari kita lakukan bersama-sama”. Saya minta kepada teman-teman untuk mencermati situasi yang masih terus berkembang.

Suhu politik nasional terus berkembang dengan semakin dekatnya pelaksanaan pemilu 2009. Beberapa lembaga survey mulai melakukan jejak pendapat tentang sosok calon presiden, dan nama saya tercantum dalam polling tersebut. Namun hasil jejak pendapat lembaga survey itu cukup dinamis. Oleh karena itu ketika nama saya berada di urutan atas, saya tidak merasa besar kepala. Sebaliknya, ketika ada di urutan bawah saya tidak kecil hati. Dinamika jejak pendapat ini menarik perhatian banyak kalangan dan masyarakat. Dan dengan berjalannya waktu, aspirasi tadi terdengar oleh pihak-pihak lain. Beberapa teman dan komunitas masyarakat datang menemui saya dan mendorong saya agar bersedia menjadi calon presiden 2009. Intinya, saya didaulat untuk melakukan perubahan lewat kesediaan menjadi calon Presiden pada pemilu 2009 melalui apa yang mereka sebut dengan ‘Gerakan Pelangi Perubahan’.

Alasan mereka kurang lebih sama, reformasi baru dalam tataran membebaskan rakyat dari belenggu kekuasaan yang otoriter ke kehidupan yang demokratis. Rakyat bebas berbicara, berunjuk rasa sekedar menentang kenaikan harga. Namun, reformasi belum berhasil mengantarkan rakyat bebas berkreasi, ber-ekspreasi, berproduksi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan kata lain reformasi gagal mengantarkan rakyat hidup lebih sejahtera lahir batin. Bahkan, pemenuhan kebutuhan pokok rakyat mulai dari garam sampai pesawat terbang bergantung pada substitusi impor.

Dalam kapasitas saya sebagai Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat, Gubernur/ Kepala Daerah DI Yogyakarta maupun pribadi saya ikut prihatin. Merasa ikut bertanggungjawab terhadap perkembangan terakhir pasca reformasi ini. Namun sesuai dengan konstitusi kedudukan saya sebagai Sultan tidak bisa berbuat banyak untuk membantu rakyat. Keberadaan Kesultanan Yogyakarta terbatas sebagai simbol budaya. Sebagai Gubernur DI Yogyakarta pada era otonomi Daerah Tingkat II, dan saat itu pula keistimewaan Yogyakarta mulai dipertanyakan. Sebagai pribadi bukan hanya prihatin dan berpangku tangan, saya ikut bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa dan negara. Maka, ketika ada yang mendorong saya untuk maju menjadi Calon Presiden saya terima kasih. Yang jelas saya tidak berambisi pada kekuasaan apalagi harta. Sesuai dengan kedudukan saya selama ini, saya tidak butuh apa-apa lagi, baik materiil maupun immaterial. Maka, kalau saya harus berkiprah di kancah nasional semata-mata untuk mengabdikan sisa umur saya pada negara dan rakyat Indonesia, sesuai dengan pesan mendiang almarhum Hamengku Buwono IX.

Di tengah-tengah kehidupan masa kini yang cenderung pragmatis, Yogyakarta tidak terelakan dari serbuan gaya hidup seperti itu. Saya berusaha untuk tetap mempertahakan nilai-nilai budaya, serta usaha menjaga kelestarian lingkungan Yogyakarta. Sesuai dengan kultur budaya masyarakat kita yang paternalistik, saya dituntut memberikan keteladanan bagi segenap warga masyarakat. Satu hal yang tidak mudah untuk dilakukan adalah kebiasaan raja-raja dimasa lalu yang mempunyai lebih dari satu isteri. Dan sudah menjadi tradisi, manakala seorang raja tidak memiliki anak laki-laki sebagai calon pengganti, salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan melakukan poligami. Tetapi saya berkeputusan untuk tidak melakukan itu. Mengapa ? Karena trah Kesultanan Yogyakarta bukan hanya saya, tetapi masih ada saudara saya yang lain.

Paska reformasi memang telah melahirkan banyak anak-anak muda di panggung politik nasional. Tetapi ternyata dalam waktu 10 tahun terakhir ini belum ada tanda-tanda lahirnya pemimpin baru yang mampu menjawab berbagai problematik dan tantangan masa depan bangsa ini. Krisis ekonomi yang terjadi ternyata berimbas pada krisis multi-dimensi, termasuk krisis kepemimpinan. Sementara kita belum bisa keluar akibat krisis 1998, kini sudah dihadapkan pada krisis global yang dampaknya lebih dasyat lagi. Ini tantangan warga bangsa ini untuk menghadapinya, termasuk memilih calon pemimpin yang mampu dan memiliki konsep untuk menghadapi krisis global tersebut.

Selasa 28 Oktober 2008 lalu. saya harus menjawab pertanyaan dan desakan warga bangsa ini, tentang kesiapan saya untuk mengantarkan mereka menuju masa depan Indonesia kearah yang lebih baik, dengan jalan saya harus bersedia menjadi presiden periode 2009-2014. Adapun tugas yang terutama adalah untuk menyiapkan konsep bagaimana Indonesia keluar dari krisis baru dan mengantarkan pemimpin masa depan bangsa ini.
Kesanggupan saya untuk menerima daulat rakyat ini berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

Pertama, meski terlahir dalam lingkungan istana kerajaan, semangat keberpihakan kepada rakyat dan komitmen pada perjuangan bangsa selalu tertanam dalam diri saya. Karena komitmen seperti itu telah menjadi pilihan sikap dan tradisi keluarga. Komitmen Kasultanan Yogyakarta pada perjuangan bangsa Indonesia tidak perlu diragukan lagi.

Dalam buku otobiograpi Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang berjudul “Tahta Untuk Rakyat”, jelas sekali digambarkan bagaimana keberpihakan beliau pada rakyat telah lama menjadi semangat dan jiwa yang melekat pada diri sultan-sultan Yogyakarta dalam menjalankan kepemimpinannya. Semangat dan jiwa keberpihakan pada rakyat ini juga merupakan pengamalan dari konsep filosofis “Manunggaling Kawulo-Gusti”, yang berarti bersatunya rakyat dengan pemimpin dalam mewujudkan cita-cita bersama.

Sejarah membuktikan bahwa Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat mampu menjalankan komitmennya untuk membela kepentingan rakyatnya. Hamangku, Hamengku dan Hamengkoni, dalam rangka menegakkan keadilan dan kebenaran serta meningkatkan kualitas hidup rakyat. Bukti sejarah ini juga diungkap dengan jelas dalam memoar Rahmi Hatta (isteri Mohammad Hatta), Mohammad Roem (Diplomat RI pada masa awal kemerdekaan), SK Trimurti (Istri Sayuti Melik – penulis naskah Proklamasi) dan TB. Silalahi, Frans Seda serta Rosihan Anwar (tokoh Pers Indonesia nasional) yang juga dimuat dalam buku “Tahta untuk Rakyat” ini.

Sejarah mencatat bagaimana semangat keberpihakan pada rakyat ini telah menempatkan Yogyakarta menjadi bagian yang penting dalam perjuangan panjang menuju kemerdekaan dan kedaulatan NKRI.

Sejak berdirinya tahun 1755, Kasultanan Yogyakarta menunjukkan perlawanannya pada VOC. Bahkan jauh sebelumnya, saat Sultan Pertama masih bergelar Pangeran Mangkubumi, beliau sudah bahu membahu bersama rakyat melawan VOC. Sikap anti VOC ini yang membuat para ulama dan kiai lalu menggabungkan diri dengan perjuangannya. Lalu terbentuklah jaringan ulama nusantara yang kuat di sepanjang jalur Blora, Madiun, Pekalongan, Banyumas hingga Cirebon.

Dalam bidang keagamaan, Sri Sultan Hamengku Buwono I juga memberikan perhatian yang besar pada masalah spiritualitas dan kegamaan. Dan kasultanan memberikan penghormatan yang tinggi terhadap para kiai atau ulama tarekat yang saat itu dianggap sebagai orang suci. Konsep keraton sebagai kekalifahan juga hasil dari pemikiran para ulama. Dari sini, komunitas-komunitas Islam yang dipimpin ulama menggunakan mesjid sebagai kegiatan umat dan bahkan memberikan kesempata para ulama keraton untuk naik haji ke Mekkah.

Perlawanan terhadap kolonialisme ini diteruskan oleh Sultan berikutnya, hingga masa Daendels sebagai Gubernur Jenderal Belanda dan masa jatuhnya kekuasaan di tanah Jawa ke tangan Inggris pada akhir tahun 1811. Sebagai konsekwensi atas perlawanannya, Yogyakarta diserang bertubi-tubi, dan Sultan pada masa itu ditangkap dan diasingkan. Perlawanan demi perlawanan terus terjadi, termasuk pecahnya Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro dari tahun 1825-1830.

Semangat perlawanan kepada kaum penjajah ini terus berlangsung, tidak hanya dengan mengangkat senjata, tetapi juga dalam wujud perjuangan intelektual, yang ditandai dengan lahirnya Budi Utomo. Pada masa pendudukan Jepang, keberpihakkan pada rakyat ditunjukkan secara lebih taktis. Pada masa itu, Sri Sultan menggerakkan pembangunan selokan irigasi yang dikenal dengan Selokan Mataram sepanjang 50 kilometer lebih untuk menghindari rakyatnya dari kerja paksa (rodi).

Selain keberpihakan pada rakyat, kasultanan Yogyakarta juga berpandangan ke depan dalam konsep kebangsaannya. Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, kasultanan Yogyakarta dan Pakualaman mengeluarkan amanat yang dikenal dengan nama Maklumat 5 September 1945, yang berisikan ketegasan Nageri Ngayogyakarto Hadiningrat dan Negeri Paku Alaman yang bersifat kerajaan merupakan Daerah Istimewa Yogyakarta dan menjadi bagian dari Republik Indonesia. Dan dukungan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sudah final.

Komitmen dukungan pada NKRI dibuktikan dengan kiprahnya pada masa-masa awal kemerdekaan. Dalam memoarnya, Rahmi Hatta menulis bagaimana kasultanan dengan rela hati menggaji kabinet Presiden Soekarno, termasuk presiden dan wakil presidennya. Bukti kecintaan yang tulus pada Republik ini. Dalam masa-masa sulit itu, Yogyakarta juga pernah dua kali difungsikan sebagai ibu kota RI, yakni pada tahun 1946 dan pada tahun 1949 dengan pertimbangan bahwa Yogyakarta lebih aman dan bahwa pihak kasultanan bersama dengan rakyat Yogyakarta menunjukkan dukungan tegas mereka pada semangat dan cita-cita revolusi.

Konsistensi kecintaan terhadap Indonesia juga terlihat dari penolakan kasultanan terhadap iming-iming kekuasaan dari Belanda pada masa-masa agresi militer I dan II. Sri Sultan waktu itu dengan tegas menolak permintaan Belanda agar tidak ikut campur dalam masalah RI dan Belanda. Dan berangkat dari kasus ini pula kemudian Serangan Umum 1 Maret 1949 dirancang bersama dengan Tentara Rakiyat Indonesia untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih ada.

Semboyan “Tahta untuk Rakyat” tetap relevan dalam era demokrasi saat ini. Bersama-sama dengan mahasiswa dan rakyat, menggelorakan reformasi tahun 1998. Apel akbar atau Pisowanan Agung untuk menggemakan reformasi, yang ternyata berhasil menumbangkan rezim Orde Baru. Pada tahun 2006, dalam sebuah orasi budaya dan politik bertajuk “Malam Bhakti Pertiwi”, dengan kesadaran penuh saya menyatakan tidak bersedia lagi menjadi Guberbur DIY setelah selesainya masa bhakti pada tahun 2008. Di hadapan rakyat, Saya menegaskan pentingnya untuk mengaktualisasikan Roh Yogyakarta dengan roh baru, roh kemajuan, roh demokrasi yang berkeadilan, sesuai akar budaya yang dimiliki dan tantangan masa depan. Sebagaimana tersirat dalam puisi “Kesaksian” yang saya bacakan dalam orasi waktu itu. Suara hati nurani rakyat adalah suara yang harus di dengar, dan atas dasar itu pula seorang pemimpin harus bersikap. Hati rakyat dan hati pemimpin haruslah satu untuk bersama-sama mewujudkan masa depan bangsa yang cerah.

Kedua, saya memang bagian dari Reformasi di Indonesia. Jadi, ini adalah tanggung jawab saya juga untuk meluruskan dan menuntaskan agenda-agendanya.

Sepuluh tahun sudah perjalanan reformasi yang dikumandangkan sejak tahun 1998 lalu. Kini segenap rakyat bisa meng-evaluasi apakah dalam sepuluh tahun ini telah terjadi perubahan ke arah yang lebih baik. Apakah agenda-agenda reformasi telah berjalan sesuai dengan harapan mereka. Apakah demokrasi yang ada saat ini benar-benar dirasakan membawa perbaikan bagi kesejahteraan bangsa dan rakyatnya. Hanya rakyatlah yang bisa menjawab. Dan Pemilu 2009 ini akan menjadi penentu. Penentu apakah rakyat masih percaya dengan janji-janji seperti menjelang pemilu 1999 dan 2004 lalu?

Sejak saat digulirkannya reformasi, saya tidak hanya menunjukkan keberpihakan pada rakyat dalam wujud sikap politik, tetapi juga dalam laku kultural. Saya tergugah untuk ikut turun ke jalan, begitu ada kabar bahwa Yogyakarta akan dilanda kerusuhan. Dan syukurlah situasi di Yogyakarta akhirnya kembali damai dan tenteram. Saya juga berkesempatan untuk bersama-sama dengan teman-teman mengeluarkan Dekalarsi Ciganjur. Sebagai laku kultural, saya juga mendukung lewat laku puasa dan doa. Dan dari awal saya pesankan bahwa reformasi haruslah berjalan dengan damai, tanpa kekerasan, sebagaimana tarmaktub dalam “Maklumat Yogyakarta” yang saya bacakan di depan lebih dari sejuta manusia yang berkumpul di Alun-Alun Utara waktu itu. Dan jika saya dipercaya untuk melaksanakan agenda reformasi ini, mari kita lakukan bersama.

Ketiga, keterlibatan saya dalam Reformasi bukan sekadar dipaksa oleh mahasiswa. Dengan penuh kesadaran, saya mendukung Reformasi karena bangsa Indonesia membutuhkan perubahan.

Perubahan harus dilakukan dan reformasi adalah gerbang utamanya. Tetapi, reformasi bukanlah hanya order baru minus Soeharto lalu selesai, mengingat rezim Orba adalah ibarat rangkaian gerbong-gerbong kereta api yang tidak cukup diganti masinisnya saja. Reformasi bukanlah hanya sekedar penerbitan undang-undang yang baru dan selesai. Reformasi bukan pula hanya penggantian pucuk manajemen atau re-alokasi anggaran. Setelah sepuluh tahun berjalan, belum banyak terjadi perubahan dan perbaikan yang bisa dinikmati oleh rakyat.

Bangsa ini sudah tercabut dari budayanya dan melupakan jati diri bangsanya. Agenda reformasi harus dilanjutkan secara menyeluruh, termasuk pembentukan karakter bangsa, sehingga mampu menghantarkan bangsa ini menuju pemulihan kehidupan yang lebih baik sejajar dengan bangsa-bangsa didunia. Kita harus ciptakan sejarah peradaban baru yang membanggakan bagi segenap karya cipta bangsanya.

Keempat, pentingnya untuk menanamkan kesatuan dan persatuan bangsa dengan menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, dan UUD’45 dan menjaga keberagaman budaya.

Kesatuan dan persatuan bangsa dengan menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 1945 serta Bhinneka Tunggal Ika adalah harga mati yang harus terus ditegakkan dan dipelihara segenap Bangsa Indonesia. Pemerintah harus mampu bersikap tegas dalam melindungi dan mengayomi seluruh bangsa secara adil, tanpa membedakan golongan, keyakinan, dan agama.

Pancasila harus menjadi dasar dan arahan dari semua kebijakan yang ada. Ini adalah ideologi yang harus tetap dipegang teguh, tidak boleh digantikan. Dan UUD 1945 haruslah menjiwai semua peraturan perundangan yang ada demi terjaganya persatuan Indonesia dan tercapainya cita-cita mewujudnya keadilan sosial dan masyarakat yang adil dan makmur.

Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi strategi kebudayaan dan menjaga nilai-nilai dan kearifan-kearifan lokal yang selama ini telah menjadi sumber kekuatan. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan, dan oleh karena itu pentingnya bagi generasi muda untuk menjaga harmoni, menjauhi sikap fanatisme sempit dan saling curiga, dan menempatkan perbedaan sebagai rahmat. Semangat persaudaraan lintas agama dan lintas suku, etnis dalam konteks keberagaman harus disebarkan dalam bingkai toleransi sehingga melahirkan persaudaraan antar sesama anak bangsa.

Kelima, reformasi yang semula merupakan harapan rakyat telah gagal, tercemar oleh kehadiran rezim yang korup. Korupsi telah merusak pranata sosial, melibatkan aparat penegak hukum dan pengawasan (jaksa, polisi hakim, anggota DPR dll) melahirkan disparitas sosial dan ekonomi tinggi dan maraknya usaha perdagangan ilegal, perilaku anarkisme telah menjadi gejala umum, politik premanisme dan maraknya organisasi para-militer meluluh-lantakan semangat ke-bhinnekaan. Jiwa dan semangat reformasi telah pudar menjadi anti-klimaks, ketika negara tidak mampu lagi menjamin adanya kepastian hukum.

Keenam, disorientasi para penyelenggara negara (eksekutif, yudikatif, dan legislatif), tidak menjunjung tinggi daulat rakyat. Kekuasaan seharusnya tidak dilihat sebagai tujuan, tetapi harus diletakan sebagai sarana untuk melayani rakyat. Sikap dasar pelayanan yang demikianlah yang harus selalu dipegang teguh. Syarat sebagai pemimpin ada empat hal: Pertama, harus bisa mengayomi seluruh rakyat. Kedua, berani mengambil keputusan dan tegas dalam menjalankan peraturan-perundangan. Ketiga, satunya kata dan perbuatan. Harus berani mengatakan yang benar itu benar dan salah itu salah. Keempat, tidak mempunyai ambisi lain kecuali upaya mensejahterakan rakyatnya. Sikap ini harus dilakukan para penyelenggara negara.

Ketujuh, kehadiran saya, bila dianggap pantas dan layak untuk memimpin bangsa Indonesia, saya akan merestorasi kembali sistem penyelenggaraan negara dan mendongkrak lahirnya calon-calon pemimpin baru berkelas dunia untuk melanjutkan tongkat kepemimpinan nasional.

Karena negera ini memerlukan seorang negarawan yang berkelas dunia, bukan sekedar politisi, atau karena ketua partai. Negeri ini memerlukan pemimpin yang bisa diterima seluruh golongan masyarakat. Pemimpin yang tidak melihat sekat-sekat golongan dan kepentingan. Berkuasa tetapi tidak menguasai. Pemimpin yang tidak ambivalen. Pemimpin yang transendetal, yang mampu berbicara melalui kerja nyata dan memberi suri tauladan. Sebagai pemimpin, negarawan harus mampu dan mau bekerja keras untuk mengikis berbagai kesenjangan yang ada, baik sosial maupun ekonomi.

Sebab tantangan Indonesia di masa datang akan semakin kompleks. Maka kesadaran kebangsaan dengan jiwa dan roh baru harus menjadi tekad dan komitmen bersama seluruh bangsa. Negara ini harus ditopang pemerintahan yang akuntabel, yang berpihak kepada rakyat.

Gerakan Tim Pelangi Perubahan Harus Diwujudkan

Tatkala bandul pendulum mulai bergerak menjauh dari amanat reformasi, rakyat mendesakkan kembali pentingnya pelurusan dan penuntasan reformasi. Reformasi bukanlah hanya order baru minus Soeharto lalu selesai. Mengingat, rezim Orba adalah ibarat rangkaian gerbong-gerbong kereta api yang tidak cukup diganti masinisnya saja. Reformasi bukanlah hanya sekedar penerbitan undang-undang yang baru dan selesai. Reformasi bukan pula hanya penggantian pucuk manajemen atau re-alokasi anggaran.

Dan rakyat kembali kecewa. Ketika reformasi yang dimotori para mahasiswa menjadi tidak terkontrol dan akhirnya kembali berakhir menjadi permainan para elit politik. Lembaga-lembaga eksekutif, yudikatif dan legislatif kini lagi-lagi didominasi orang-orang yang tidak paham tentang makna hakikat dan tujuan reformasi. Mereka-mereka yang dulu menjadi penonton aksi demo mahasiswa dan rakyat kini menjadi penguasa, elit politik (penguasa dan pengusaha) seolah-olah yang menentukan nasib rakyat dan negeri ini. Jiwa dan semangat reformasi telah pudar menjadi anti-klimaks.

Dan anti-klimaks ini nampak sebagai usaha by design oleh elit-elit anti-reformasi, yang memang sudah dilancarkan sejak bergulirnya reformasi, antara lain dengan menunggangi demonstrasi damai menjadi kebrutalan, dan ganti menuduhkan sangkaan makar atau komunis terhadap para aktifis pergerakan, dengan membentuk kelompok-kelompok reformasi tandingan yang menghadang para mahasiswa, dan dengan tetap mempertahankan kadernya di lembaga-lembaga kenegaraan. Akibatnya, rakyat kembali menjadi obyek dan bukan subyek dari reformasi itu sendiri. Mayoritas rakyat tetap marjinal.

Itulah sebabnya, saya sepakat bahwa ‘Agenda Reformasi’ harus dilanjutkan secara menyeluruh, termasuk pembentukan karakter bangsa sehingga mampu menghantar menuju pemulihan kehidupan yang lebih baik dan sejajar dengan bangsa-bangsa di dunia. ‘Gerakan Tim Pelangi Perubahan’ melalui restorasi agenda reformasi ingin menghadirkan sejarah peradaban baru yang membanggakan bagi segenap rakyat Indonesia.

Bangsa ini sudah tercabut dari budayanya dan melupakan jati diri bangsa. Sementara, reformasi yang telah digulirkan rakyat sejak tahun 1998 lalu – yang diharapkan akan menjadi titik balik perbaikan bangsa – ternyata masih mandul dan bahkan kehilangan gaung dan tajinya. Setelah sepuluh tahun berjalan, belum banyak terjadi perubahan dan perbaikan yang bisa dinikmati oleh rakyat. Korupsi masih saja merajalela, disparitas sosial dan ekonomi yang tinggi, praktek demokrasi kekuasaan, anarkisme yang menguat di tengah masyarakat, maraknya organisasi para-militer, lunturnya semangat ke-bhinneka-an, politisasi hukum, dan sebagainya merupakan bukti betapa lemahnya institusi yang bernama “negara”. Karena sudak tideak mampu menjamin rasa aman dan tiadeanya kepastian hukum.

‘Gerakan Tim Pelangi Perubahan’ menyadari bahwa untuk bisa membawa bangsa ini seperti cita-cita ketika negeri ini di proklamirkan, bangsa ini memerlukan seorang negarawan, bapak bangsa bukan sekadar politikus. Negeri ini memerlukan pemimpin yang bisa diterima seluruh golongan masyarakat. Pemimpin yang bisa melayani dan melindungi seluruh rakyatnya. Tidak hanya melindungi kepentingan kelompok, apalagi hanaya untuk kepentingan keluarganya. Pemimpin yang tidak melihat batas-batas golongan dan kepentingan. Berkuasa tetapi tidak menguasai. Pemimpin yang tidak ambivalen. Pemimpin yang transendetal, yang mampu menyerap suara hati rakyat dan menjawabnya melalui kerja nyata dan suri tauladan. Pemimpin yang mampu mengayomi, menciptakan rasa aman dan rasa keadilan bagi seluruh rakyat.

Menyadari bahwa tantangan Indonesia pada tahun-tahun mendatang akan semakin kompleks, maka kesadaran kebangsaan dengan jiwa dan semangat serta nilai-nilai luhur budaya bangsanya harus menjadi komitmen dasar pembangunan seluruh bangsa ini. Untuk itu Negara ini harus ditopang pemerintahan yang akuntabel, yang berpihak kepada rakyat sesuai dengan tuntutan Agenda Reformasi untuk mensejahterakan rakyatnya. Menejemen penyelenggaraan negara untuk kemakmuran rakyat, bukan demi kantong segelintir elite politik atau penguasa dan keluarganya.

Apakah ‘Gerakan Tim Pelangi Perubahan’ akan berhasil? Terpulang pada hasil kerja keras baik Tim Pelangi Perubahan maupun HB X itu sendiri. Harapan kita, eksekusi kehendak bebas kita – lewat pikiran, perkataan, maupun perbuatan – semakin menambah kebaikan bagi sesama dan diri kita. Atas dasar itulah, ‘Gerakan Pelangi Perubahan’ hadir. Selanjutnya, saya serahkan kembali kepada rakyat Indonesia. Karena, buat saya bukan menang atau kalah. Tetapi, kemuliaan Tuhan menggelora di muka bumi persada Indonesia

Minggu, 15 Februari 2009

Batak Toba language

Language family: Austronesian, Malayo-Polynesian
Sumatra Batak
Southern
Batak Toba

Total speakers: 2,000,000

This article includes a list of references or external links, but its sources remain unclear because it lacks inline citations. Please improve this article by introducing more precise citations where appropriate.

The Batak Toba language is an Austronesian language that originates from Northern Sumatra, in Indonesia, mostly west of Lake Toba. There are approximately 2,000,000 speakers worldwide. There is a traditional Batak Toba script alphabet referenced below.

Herman Neubronner van der Tuuk was involved in translating the Bible into Toba Batak.

Name of the language

The name of this language arises from a complex history of ethnic identity in colonial and post-colonial Indonesia. Some refer to the language as "Toba Batak" and others, as "Batak Toba." The two orders have different meanings, and one may be considered more polite than the other.

The term Batak refers to a population larger than that which exclusively speaks Batak Toba. There are seven Batak languages attributed to this population. The term Toba refers to the geography surrounding and to the west of Lake Toba. So, whether one prefers to describe the language as "Batak Toba" or "Toba Batak" depends upon whether one intends to depict the geography by the language, or the people by the geography. Both orders are technically correct since they describe the same language, but the inflections are distinctly different.

To complicate matters for English speakers, the Batak Toba language itself uses a reverse noun-adjective descension order. That is, the second noun descends to adjective form and the first remains a noun. Thus in the language itself, the second noun descends to adjective form and the first remains a noun. Hence the term "Batak Toba" refers to a population by their geography of origination. To some, that is more polite than the term "Toba Batak" which seemingly refers to a Geography by the type of people who originated there. But in light of the noun-adjective reversal in English, importance of noun order is lost amid the reversals and it becomes difficult to ascertain which order seems more polite. But to a speaker of the language, the order matters.

Batak script

The Berkeley Script Encoding Initiative (accuracy challenged), http://www.linguistics.berkeley.edu/sei/index.html, states that

  • the script is written from left to right, or vertically upon bamboo
  • in most Batak communities only the datu (priests) are able to read and write script where it is mainly used for producing calendars and magical incantations

The Unicode Consortium described the Batak script in a first technical report proposal for computer coding of the Batak Toba Language at http://www.unicode.org/Public/TEXT/UTR-3.TXT. One must search the file for the term ("Batak") to find the reference; there are no page numbers. The Consortium referred to Neubronner van der Tuuk, H.: A Grammar of Toba Batak (1971; translated version of the original: Tobasche spraakkunst, 1864-1867, 2 vols.).

Unicode notes that the phonetic system of the script is similar to the scripts of the Philippines (Tagalog).

References

Sabtu, 27 Desember 2008

RAJA BONA NI ONAN HINGGA RAJA TOGA LAUT PARDEDE

KATA PENGANTAR:

Sudah cukup banyak yang membuat Tarombo, Baik TArombo secara keseluruhan, maupun Tarombo kelompok marga tertentu. Semuanya layaknya kita hargai atas upaya-upaya tersebut, karena sangat bermanfaat bagi generasi muda dan juga menambah kecintaan kita akan budaya batak. Bertarombo bagi orang batak adalah awal bercerita atau berkisah (sejarah) kepada anak cucunya, siapa mereka dan siapa leluhur mereka, dengan demikian prinsip-prinsip Dalihan Natolu lebih mudah dijelaskan kepada anak cucunya.
Karena saya adalah keturunan Raja Bonan Ni Onan Pardede, maka saya mencoba menutur apa yang saya ketahui tentang tarombo Raja Bonan nionan Pardede melalui keterangan Opung saya Lobe Tinggi Pardede dari Parapat dan Bapak saya sendiri Aman Toga Pardede yang berdomisili di Balige dan berdasarkan tulisan - tulisan yang ahli dibidangnya seperti Mangaraja Asal Siahaan dengan Buku tarombonya "Tarombo Raja Sibagot Ni Pohan".
Meskipun demikian Saya sangat mengharapan masukan tentang Tarombo "Raja Bona Ni Onan" ini, demi mengurangi kelemahan-kelemahan yang terdapat didalam susunan saya ini.- Mauliate - Horas !

PETUAH DARI SI BAGOT NI POHAN BAGI KETURUNANNYA.
Sebelum kita mulai merenungi dan menghayati isi tarombo ini, alangkah baiknya kalau kita mengetahui asal usul marga Pardede, yang akan dimulai dari Omputa Si Bagot Ni Pohan, yang menurut kisahnya bermukim/marharajaon di Lumban Gorat Balige.
SiBAgot Ni Pohan adalah anak pertama dari Tuan Sorba Dibanua dari ibu boru Pasaribu (Nai anting malela). Si BAgot Ni Pohan kawin dengan boru PAsaribu dari Tarabunga dan mempunyai anak 4 (empat) orang yaitu:
1- Tuan Sihubil.
2- Tuan Somanimbil.
3- Tuan Dibangarna,
4- Raja Sonakmalela.
Sibagotni Pohan cukup dikenal akan kebijaksanaannya, kare pintar menyenangkan orang serta luas pengetahuannya. Anak-anaknya dididik dengan baik dan diajarkan dengan berbagai-bagai pengetahuan baik mengenai kepemimpinan, ilmu tentang perbintangan, dan yang sangat ditekankan kepada anak-anaknya agar selalu berbuat baik dan menjauhkan segala kejahatan. Setelah anak-anaknya beranjak dewasa kelakuan anak-anaknya tersebut menjadi bahan pembicaraan dan di senangi setiap orang melihatnya.
Menjelang ajal Si Bangot Ni Pohan memberi wejangan-wejangan yang sangat berarti bagi keturunannya. Adapun wejangan atau petuah-petuah tersebut sbb: "Saya sudah tua, apabila saya meninggal, kalian berempat anak-anakku harus selalu mengingat semua apa-apa yang saya ajarkan pada kalian dan yang sangat penting adalah:
1- Kalian harus baik-baik dan saling menyayangi dan mencintai juga saling mengalah dan mengingatkan, kalian harus jauhkan perselisihan dan cintailah perdamaian "ai metmet bulung baja, memet do bulung ni banebane.Ndang adong laba ni namarbada, alai lehetan do na mardamedame".
2- Kalian harus satu hati dan selalu kalian musyawarah dalam setiap ada pekerjaan kalian, agar tercapai tujuan kalian. "Aek godang do aeklaut, dos ni roha do sibahen nasaut."
3- Kalian tidak boleh meninggalkan adat serta hukum yang berlaku pada adat batak, dalam rangka menghadapi dongan tubu, hulahula, boru serta ale-ale. "Asa unang lupa horbo sian bara na, sai unang ma peut ulos sian sangkotanna.". Harus selalu lurus dilaksanakan hukum (uhum), dan sama kesemua orang.
4- Harus sopan santun kalian menghadapi semua orang, "Pantun do hangoluan, tois do hamagoan", Tidak boleh kalian menghina, dan sinis kepada orang yang miskin dan orang didalam kesusahan, tetapi kalian harus menyayangi dan mengasihi mereka.
5- KAlian harus menghormati orang tua dan didengar kata-katanya."Ai tahuak manuk di taonbara ni ruma, halak na pasangap natuatua, i do na martua."

Salah satu keturunan Si Bagot Ni Pohan melalui jalur anak bungsunya (Raja Sonakmalela, yaitu Raja Bona NI Onan dirajakan sebagai anak dari Raja Sonakmalela, (Napitupulu anak bungsu dari Raja Sonakmalela), Memang ada beberapa versi tentang status Pardede(Raja Bona Ni Onan). Ada yang mengatakan sebagai cucu dari Napitupulu dan ada juga yang mengatakan sebagai anak bungsu dari Napitupulu. Namun hal itu tidak pernah lagi dipermasalahkan, yang Pasti "Raja Bona Ni Onan" adalah keturunan Si Bagot NI Pohan dari anaknya Raja Sonak malela.- TH.P

Jumat, 19 Desember 2008

SEJARAH TUGU RAJA TOGA LAUT PARDEDE


SEJARAH PEMBANGUNAN TUGU RAJA TOGA LAUT PARDEDE
(Th.Pardede)

Lumban Jabi-jabi adalah sebuah perkampungan yang dihuni/ditempati oleh keturunan Raja Sonakmalela terbungsu,bungsu dari Raja Sonakmalela dan bungsu dari Raja Bona ni onan Pardede, dan bungsu dari Raja Paindoan yaitu Raja Toga Laut Pardede dengan keturunannya. Dan sejak dahulu Lumban Jabi-jabi adalah tempat pertemuan Raja-raja batak setiap hari Jumat (hingga sekarang hari pekan/ pasar di Balige Raja adalah hari Jumat . (DR. L.Manik)

Lumban Jabi-jabi berlokasi dipusat kota Balige, dan di Lumban ini ada sebuah sumber mata air yang sangat jernih (mual Jabi-jabi), menurut ceritanya, semua raja-raja batak dahulu termasuk Sisinga mangaraja ke XI pernah maranggir dimual ini.

Perpindahan keturunan Raja Toga Laut dari Lumban jabi-jabi, ke Hauma bange, sangat berkaitan dengan perlawanan opung Guru somalaing Pardede dengan saudara-saudaranya terhadap Belanda dan juga oleh karena Lumban Jabi-jabi smenjadi pusat kegiatan pejuang-pejuang Batak yang dipelopori Guru Somalaing Pardede, dan Lumban Jabi-jabi juga disebut “Balobung” karena pejuang-pejuang penentang Belanda yang menjadi buron selalu mencari perlindungan ke Lumban Jabi-jabi.

Oleh karenanya segala cara diupayakan oleh Belanda untuk mematahkan perjuangan beliau yang sangat gigih, karena Opung Guru Somalaing mengadakan perlawanan terhadap belanda bukan saja dengan fisik tetapi juga dengan kekuatan spiritual (menggalang keyakinan asli orang-orang Batak melalui Parmalim), Kekuatan Spritual inilah membuat Belanda kewalahan, maka sangat perlu bagi Belanda segera melumpuhkan kekuatan Guru Somalaing Pardede dahulu, Guru Somalaing tidak surut mengadakan perlawanan meskipun Lumban Jabi-jabi telah dikuasai Belanda , beliau terus melanjutkan perlawan hingga ke Parsoburan, pada tahun 1896 terjadi pertempuran disana selama sebelas hari . Belanda bertekad menangkap Guru Somalaing Pardede hidup-hidup yang kemudian akhirnya tertangkap dan pada tanggal 15 maret 1896 yang kemudian Beliau diasingkan ke pulau Jawa melalui pelabuhan Sibolga (DR.L.Manik)

Setelah tertangkapnya Guru Somalaing Pardede maka akhirnya keturunan Raja Toga Laut mencari perlindungan atau pengungsian termasuk ke Lumban Haumabange, yang akhirnya Belanda mensyahkan sebagai perkampungan dari keturunan Raja toga Laut yang kebetulan lumban tersebut masih bagian wilayah dari Paindoan. ( Dokumen Belanda).

Dilumban ini juga dimakam kan Raja Toga laut dan anak-anaknya dan omp. Panaluksuk dan lainnya. Setelah Belanda menguasai Lumban Jabi-jabi, maka lokasi pemakaman tersebut tidak terawat lagi menjadi semak penuh dengan tanaman sipaet-paet.

Pada tahun 1953 dibangunlah Tugu Raja Toga Laut dimana dulunya Opung Raja Toga Laut dimakamkan.

Pada Tahun 1956 Beberapa Orang Tua dari Pardede bermufakat dan sepakat untuk merenovasi Tugu Raja Toga Laut Pardede.dengan biaya ± Rp. 1.570.000,-

Kembali keturunan Raja Toga laut mendapat cobaan sehubungan status tanah Lumban jabi-jabi Pemda Taput pada saat itu dipimpin Bupati SM. Simanjuntak, seorang putra Batak, mengclaim tanah Lumban jabi-jabi adalah milik pemerintah dengan alasan pengalihan kekuasaan dari Belanda tanpa mempertimbangkan sejarah, kenapa Belanda Menguasai Lumban tersebut, juga SM. Simanjuntak sebagai putra Batak tidak meng-hormati hukum adat dan Budaya Batak, pembongkaran Tugu sangat tidak diperbolehkan aleh hukum adaat Batak, dan penghinaan terhadap keturunannya.

Pada Tanggal 5 Januari 1962 sekitar pukul 8.00 pagi dilaksanakan pembongkaran, semula hanya dengan pecok, martil dan linggis tetapi upaya tersebut tidak berhasil maka dipergunakan alat peledak (dinamit), pembongkaran tugu terbut berlangsung selama 8 (delapan) hari. Meskipun hasilnya tidak seperti diharapkan Bupati, pembangunan Lapangan Tennis terus dilakukan sedangkan puing-puing dibiarkan menumpuk disekitarnya.

Perlu diketahui niat Pemerintah untuk pembongkaran Tugu tersebut, mendapat perlawanan dari semua keturunan Raja Toga Laut dengan berbagai bentuk perlawanan, hal ini dilakukan mereka sesuai dengan pertimbangan situasi pada saat itu (Pemberontakan PPRI), dan pada saat itu daerah Taput dikuasai Pasukan Siliwangi dan pasukan Bukit Barisan, situasi saat itu sangat rawan.mengadakan perlawanan berarti pemberontak, menolak kebijakan pemerintak

Karena hal tersebut diatas belum pernah terjadi ditanah Batak, dan keturunan Raja Toga Laut tidak berdaya melakukan perlawanan terhadap pemerintah yang diatas namakan oleh Bupat Taput SM.Simanjuntak, maka semua keturunan Raja Sonakmalela ikut prihatin melihat penekanan, penghinaan terhadap adik siapudan mereka oleh pemerintah (sejak pemerintahan Belanda samapai pemerintah Republik Indonesia), dengan kata lain “Lungun ni angina lungunni haha na doi, jala lungun ni haha na lungunni angina doi.”, yang artinya “ Kesusahan adiknya juga kesusahan abangnya, dan kesusahan abangnya juga kesusahan adiknya.” Dengan demkian pada

Pada tanggal 12 Januari 1962, atas nama Keturunan Raja Sonakmalela juga mengadakan tuntutan kepada pemerintah sebagai saport kepada anggi doli mereka keturunan Raja Toga Laut Pardede yang terus melakukan penuntutan hak.Mereka saling mendukung untuk mendapatkan hakmilik mereka, yang akhirnya berbuah hasil, dengan keluarnya surat dari Panglima Kodam II Bukit Barisan, Nomor: PP/K-007/62 tertanggal 24 Maret 1962 yang menyatakan “bersedia membangun kembali Tambak/Tugu Toga Laut Pardede.

Lobe tinggi Pardede terus mengadakan kontak dengan Panglima Kodam II Bukit Barisan yang kebetulan saat itu adalah Kolonel A.Manaf Lubis, karena beliau ragu kalau surat Panglima tersebut tidak direalisasikan segera, maka kemudian disusul dengan surat kedua dari Panglima Kodam II Bukit Barisan, Nomor Pedarmilda/sp-007/3/1963, bertanggal 27 Maret 1963 yang isinya menyatakan kesedian membangun Tambak/ Tugu Toga Laut Pardede, yang ditanda tangani oleh Kolonel A.Manaf Lubis Nrp:12186, Apa yang dikhawatirkan oleh Keturunan Raja Toga Laut Pardede menjadi kenyataan, pem-bangunan kembali Tambak/Tugu tidak juga terwujud dengan alas an pemerintah akibat situasi Politik dan Ekonomi yang tidak kondusif.

Pada tanggal 17 Agustus 1969 Pihak Kodam II Bukit Barisan datang menemui A.Pardede sebagai Ketua Panitia Pembangunan kembali Tugu Raja Toga Laut Pardede, untuk menyerahkan surat yang berhubungan dengan pembangunan Tugu Raja Toga Laut. Namun pada saat itu pada waktu yang sama A. Pardede meninggal dan disemayamkan dikediamannya Losmen Toga Laut Tawar Balige sedang dikelilingi sanak keluarga, melihat situasi berkabung tersebut maka utusan Kodam II mengurung niat mereka,

Pada Tanggal 10 April 1974 utusan keturunan Raja Toga Laut yaitu H.Pardede dan S.Pardede kembali menemui Panglima Kodam II Bukit Barisan di Medan, hasilnya dikeluarkan pihak Kodam II surat ber Nomor K229/1974 tanggal 11 April 1974 yang isinya menyetujui pengembalian /Pembangunan Tambak/Tugu Raja Toga Laut Pardede sebagaimana semula atau sesuai ditempat yang pantas .

Rencana itupun tidak juga dapat direalisasikan karena beberapa factor, terutama kondisi kedua tokoh yang di percayakan untuk mengurus, keduanya orang-orang sibuk, karena kesibukan mereka maka tahun 1980, H.Pardede dan S.Pardede mempercayakan pengurusan tersebut kepada Opung Podang Pardede yang kebetulan beliau dikenal dikalangan pemerintahan sebagai tokoh Spritual Batak, dengan imbalan satu kaleng eme dari setiap anggota keturunan Raja Toga Laut Pardede. Tugas itupun tidak dapat diwujudkan sampai beliau meninggal di Medan.

Pada tahun 2007 terbentuk panitia persiapan atau panitia pengantar Pembangunan Raja Toga Laut Pardede di Jakarta di kantor B.Pardede di Pisangan baru dengan susunan pengurus sbb :

Ketua : J.Pardede
Ketua I: B.Pardede
Ketua II: T.H.Pardede
Ketua III: R.Pardede
Seketaris I : S.Pardede
Seketaris II: A.M.Pardede
BendaharaI; T. Pardede
Bendahara II: Ny. A.Pardede
Penasehat I: T.Pardede
Penasehat II: E.Pardede
Penasehat III: O.Pardede

Kemudian sebagai tindak nyata maka Panitia dengan beberapa keturunan Raja Toga Laut Pardede berangkat ke Bonapasogit show force atau dengan kata lain membuat ikrar bersama dan tekad untuk membangun Tambak/ Tugu Raja Toga Laut lebih dahaulu tanpa mengandalkan bantuan dari Kodam atau Pemerintah, yang akhirnya Panitia akan berusaha mengadakan tuntutan atau melanjutkan tuntutan kembali kepada Pemerintah.

Mari kita berdoa agar Tuhan Selalu membantu cita-cita kita yang luhur ini, dan saya sebagai penyimpul sejarah Tugu Raja Toga Laut Pardede, yang berdasarkan cerita/ Sumber:

1. Haji Abdul Halim Pardede (alias Lobe Tinggi Pardede),
2. A,Pardede (amanToga Pardede),
3. Opung Sittua Rudolf Pardede,
4. Ito Ny. Tampubolon ,
5. Opung pai 5(Omp. SiBosar),
6. Bapa Uda I.Pardede (omp si Luhut), dan
7. Bapa uda T.Pardede
8. DR. L Manik.(berdasarkan penelitian beliau di Museum Leiden sehubungan dengan rencana beliau membuat Buku Sejarah Guru Somalaing Aji Pardede)

Terima kasih – Horas.

Rabu, 17 Desember 2008

Bahasa Batak Toba -3

17 Desember
Bahasa Batak Toba - 3

Perbedaan lafal (ucapan):

Perbedaan itu berada pada bahasa, ,lafal diales Silindung dan Sibolga halus dan lembut, Lafal diales Humbang agak halus, Lafal diales Toba dan Samosir agak keras.

Perbedaan Semantis (menurut ilmu arti kata):

Kata ”Lae” /ipar dipergunakan pada dialek Silindung,Toba,Samo”n.dang koso”sir,dan Sibolga, sedangkan pada dialek Humbang kata Lae berarti saudara perempuan ayah.

Untuk panggilan pada anak saudara laki-laki ibu pada dialek Toba dan Samosir disebut ”Opung”, sedangkan di Humbang, Silindung dan Sibolga untuk anak saudara laki-laki ibu dipakai kata ”Tunggane”.Disamping itu kata tunggane dipakai juga untuk mengatakan saudara laki-laki istri.

Untuk mengatak ” belum lagi” pada dialek Toba, Silindungdan Sibolga dipergunakan kata ”ndang do pe”, pada dialek Humbang dipergunakan kata ”ndang kede”, dan pada dialek Samosir dipergunakan kata ”ndang poso” atau ” ndang koso”.

Kata ”Puang” panggilan kepada orang kedua yang menunjukkan hubungan akrab, dipergunakan pada dialek Silindung,Sibolga dan Humbang, sedangkan pada dialek Toba dipergunakan kata ”kedan” dan puan. Pada dialek Samosir kata kedua ini dianggap kasar, hanya dipergunakan kepada orang kedua yang statusnya jauh lebih rendah daripada kita..

Watas Isoglos diantara dialek-dialek Bahasa Batak Toba:

Seperti sudah dijelaskan diatas bahwa Isoglos( kesamaan dialek), garis watasvkata hádala garis yang memisahkan setiapgejala bahasa dari dua lingkungan kata atau bahasa berdasarkan wujud atau sistem kedua lingkungan itu yang berbeda, yang dinyatakan pada peta bahasa. Garis watas kata itu Madang-kadang juga disebut heteroglos. Oleh karena itu untuk memperoleh gambaran yang benar mengenai batas-batas dialek, harus dibuat watas kata yang menerangkum segala segi kebahasan dari hal-hal yang diperkirakan akan memberikan hasil yang memuaskan.

Dari garis watas kataitu akan terlihat bahtidakakan adasatupun diantara anasir yang memberikan garis yang benar-benar sama sehingga akan selalu terdapat beberapa perbedaan.,Walaupundemikian pada garis besarnya akan terlihat adanya suatu irama atau gerak garis itu yang sama sehingga dapat diperkirakan dimana batas-batas dialek yang dimaksud itu. Dalam bahasa Toba watas kata diantara dialek-dialek itu dapat dilihat pada peta berikut ini.”




Kesimpulan :
1- Bahasa Batak Toba termasuk bahasa tertua di Indonesia

2- Bahasa Batak Toba hádala bahasa yang paling banyak pendukungnya dan luas daerahnya.

3- Bahasa Batak baik Toba maupun batak lanilla memiliki akasara.



Habis. Th.Pardede

Rabu, 10 Desember 2008

Bahasa Batak Toba - 2


DIALEK:

Yang dimaksu dengan dialek adalah ditandai dengan ciri-ciri khas dalam tata bunyi, kata-kata, ungkapan-ungkapan dan lain-lain. Bahasa adalah rangkaian tutur kata , mangandung makna yang dapat dipahami oleh penuturnya, sedangkan dialek merupakan varian suatu bahasa. Dialek dalam fungsinya ditengah masyarakat merupakan bahasa setempat, dialek yang merupakan bahasa setempat itu bersifat turun temurun. Dialek ini terjadi karena adanya isolasi alami dalam jangka waktu yang lama.
Dialek Bahasa Batak Toba dapat dibagi 5 dialek yaitu :
1-Dialek Silindung. Yang dipergunakan diwilayah : Kecamatan Tarutung, Sipoholon ,Pahae Julu,Pahae JAe, Sipahutar, Pangaribuan dan GAroga. Sedang di Adiankoting dipergunakan dialek Sibolga.
2-Dialek Humbang. Dipergunakan oleh wilayah Siborong-borong, Dolok sanggul, Lintong ni huta, Muara, Parmonangan, dan Onan Ganjang.Sedangkan di Parlilitan dan Pakkat sebagian mempergunakan bahasa pakpak dairi dan sebagian lagi mempergunakan dialek humbang.
3-Dialek Toba. dipergunakan diwilayah Toba: Balige, Laguboti, Porsea, Lumbanjulu, Silaen, dan Parsoburan.
4-Dialek Samosir. dipergunakan di wilayah Samosir yaitu: Palipi, Pangururan, Onan Runggu, Simanindo, dan Harian.
5-dan Dialek Sibolga. Dipergunakan di Sibolga dan sebagian wilayah Silindung.
Perbedaan-Perbedaan dialek tersebut dapat di bagi 3 yaitu :
1- Perbedaan Fonologis, sebagai contoh:Kata"amang,Among,Apang"=Ayah.)
amang (dialek Silindung, dan Humbang), Among (dialek Toba, dan Samosir), Apang dialek Sibolga).
"Inang,Inong" = Ibu.
Inang (dialek Silindung,Humbang,Sibolga), Inong (dialek Toba, dan Samosir).
"Tu, Hu"= Ke. Tu (dialek Silindung, Humbang, Toba, dan Sibolga). Hu (dialek Samosir.
Pada dialek humbang konsonan /r/sebagai apiko alveolar diucapkan menjadi [R] velar. Jadi konsonan /r/ itu lebih dekat kepada /g/ dan /h/, yaitu dibentuk pada rongga tekak misalnya (disaRat-saRat? uRsa ReRe tu RuRa, dari contoh itu tampak bahwa perbedaan fonologis itu dapat terjadi, baik pada vokal maupun konsonan.
(bersambung.......3)

Sabtu, 06 Desember 2008

Kehancuran suatu peradaban dunia oleh kepongahan manusia !

Hulagu Khan, Si-barbar Penghancur Baghdad
Hulagu Khan (1217 - 8 Februari 1265 M) adalah cucu dari 'penyerbu besar' dari padang rumput di Asia Tengah, Mongolia: Jengis Khan. Hulagu adalah anak dari Tulai dan Sorghaghtani Beki seorang wanita Nasrani. Dia mempunyai tiga saudara Arik Boke, Mongke, dan Kublai Khan. Hulagu adalah 'Khan' pertama yang menaklukan banyak negara di Asia Barat atau Timur Tengah.
Sedangkan Baghdad adalah kota yang 'lahir' kembali pada 762 Masehi di bawah dinasti Daulat Abbasiyah I (750-1258). Sebelumnya adalah pusat peradaban bangsa Babilonia yang terkenal dengan peninggalan legendaris taman gantungnya. Kota ini berada di wilayah subur karena dibelah oleh sungai Eufrat. Saat itu adalah kota termegah dan pusat peradaban. Khalifah pertamanya adalah Abu Ja'far atau lebih dikenal dengan sebutan Al-Mansyur (754-775 M). Dialah yang membangun Baghdad dengan mendatangkan para tukang yang ahli, juru pahat, dan pelukis untuk membangunnya. Hasilnya, selain sebagai pusat peradaban, Baghdad juga menjadi pusat ilmu dan kesenian.
Salah satu dari beberapa faktor yang sangat mempengaruhi Hulagu sangat bernafsu menaklukkan wilayah muslim dan kejam setiap kali dia berhasil menguasainya adalah faktor pengaruh ibunya bernama Beqi, istri dan sahabat dekatnya, Kitbuqa. Mereka adalah penganut Kristen fanatik yang memendam kebencian mendalam terhadap orang muslim.
Selain itu, juga karena peran para penasehatnya yang banyak berasal dari Persia. Mereka selama ini selalu berharap dapat membalas dendam atas kekalahan mereka satu abad sebelumnya ketika Persia ditaklukan oleh pasukan muslim pada masa Khalifah Umar bin Khattab.
Pada tanggal 29 Januari 1258, kota Baghdad mulai dikepung pasukan Mongol di bawah pimpinan jendral China, Guo Khan. Sepekan kemudian, yakni pada tanggal 5 Pebruari, benteng di sekitar Baghdad dikuasainya. Khalifah kemudian berusaha bernegosiasi dengan Hulagu tetapi ditolaknya. Akhirnya pada tanggal 10 Februari, Baghdad resmi menyerah.
Pasukan Mongol mulai memasuki kota pada tanggal 13 Februari. Tak ayal lagi kebiadaan segera meledak. Pembantaian, penjarahan, pemerkosaan dan pembakaran terjadi di mana-mana. Bala tentara Mongol itu menjarah dan menghancurkan masjid, perpustakaan, istana, rumah sakit, dan juga banyak bangunan bersejarah. Perpustakaan di kota Baghdad pun dihancurkan.
Khalifah Al-Mus'tasim ditangkap dan disuruh melihat rakyatnya yang sedang disembelih di jalan-jalan dan hartanya yang dirampas. Kemudian setelah itu khalifah dibunuh dengan cara dibungkus dengan permadani dan diinjak-injak dengan kuda sampai mati. Semua anaknya dibunuh kecuali satu yang masih kecil dijadikan budak dan dibawa ke Mongol.
Hulagu Khan meninggal pada tahun 1265 dan dimakamkan di Pulau Kaboudi yang terletak di dalam Danau Urmia. Dia digantikan oleh anaknya, Abaqa.
Namun, masa panen pemikiran Islam mulai redup seiring dengan jatuhnya Baghdad dari serangan pasukan babar dari padang rumput Mongolia yang dipimpin cucu Jengis Khan, Hulagu. Pada tanggal 29 Januari 1258, kota Baghdad mulai dikepung pasukan Mongol di bawah pimpinan Jendral China, Guo Khan. Sepekan kemudian, yakni pada tanggal 5 Pebruari, benteng di sekitar Baghdad dikuasainya. Khalifah kemudian berusaha bernegosiasi dengan Hulagu tetapi ditolaknya. Akhirnya pada tanggal 10 Februari, Baghdad resmi menyerah.
Pasukan Mongol mulai memasuki kota pada tanggal 13 Februari. Tak ayal lagi kebiadaan segera meledak. Pembantaian, penjarahan, pemerkosaan dan pembakaran terjadi di mana-mana. Bala tentara Mongol itu menjarah dan menghancurkan masjid, perpustakaan, istana, rumah sakit, dan juga banyak bangunan bersejarah. Perpustakaan di kota Baghdad pun dihancurkan. Ribuan koleksi buku dibuang ke Sungai Tigris hingga warna air sungai itu berubah seperti warna tinta.
Khalifah Al-Mus'tasim ditangkap dan disuruh melihat rakyatnya yang sedang disembelih di jalan-jalan dan hartanya yang dirampas. Kemudian setelah itu khalifah dibunuh dengan cara dibungkus dengan permadani dan diinjak-injak dengan kuda sampai mati. Semua anaknya dibunuh kecuali satu yang masih kecil dijadikan budak dan dibawa ke Mongol.
Namun ironisnya, delapan ratus tahun kemudian Baghdad mengalami hal yang sama. Bala tentara Amerika Serikat dan sekutunya ganti datang memporakporandakan dan menjarah kota tua itu.

Minggu, 30 November 2008

TAROMBO RAJA TOGA LAUT PARDEDE

Sebelumnya saya menghimbau semua dongan tubuku untuk menanggapai tarombo yang ada dalam blog ini sebagai acuan, bukan saya mengkleim tarombo yang tertera ini adalah tarombo yang paling benar, namun saya menulis Tarombo ini tetap berdasarkan bukti kesepakatan orang-orang tua dari kalangan keturunan Raja Toga Laut Pardede dan tulisan Mangaraja Asal Siahaan dalam tulisannya "Tarombo Sibagot ni Pohan".
H.B. Siahaan gelar Mangaraja Asal seorang berprofesi guru. Beliau memfokuskan diri menulis tarombo kelompok marga turunan Sibagot Nipohan walau bukunya berjudul Tarombo ni T.S. Dibanua (1941). (T.S. dimaksudkan adalah Tuan Sorba-Pen). Pengkhususan ini menyebabkan bukunya berisi satu daftar nama yang sangat panjang, kering dan tanpa isi, sepertinya ditujukan khusus untuk turunan Sibagot ni Pohan yang sudah begitu marak. Buku Mangaraja Asal ini sampai sekarang masih dipergunakan turunan marga Sibagot Nipohan sebagai bahan acuan bilamana diantara mereka terjadi silang selisih.Meskipun demikian mari sama-sama kita gali kembali dan samakan pendapat sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang tua kita terdahulu. kita buktikan cara berpikir kita lebih baik dari pendahulu kita.
Menjadi kebanggaan bagi yang bermarga Pardede Tida ada sesuatu pun yang membuat mereka berpecah baik karena perbedaan pendapat dalam hal partaromboan maupun hal-hal yang menyangkut tempat asal, malah sebaliknya antara kedua keturunan Raja Bona Ni Onan ( Raja Tandang Buhit dan Raja Paindoan), Saling mendukung apabila terjadi sesuatu masalah terhadap salah satunya. Saling menghormati sesama marga Pardede sangat kental disesuaikan dengan urutannya (nomornya)sebagai contoh penulis bernomor 14 dihitung dari Raja Bonani Onan Pardede. Perbedaan Agama tidak menjadi penghalang bagi keturunan Raja Bona Ni Onan bersikap sopan santun (tatakrama).
Tarombo ini saya terima dari Opung Haji Abdul Halim Pardede alias Lobe Tinggi Pardede yang berdomisili di Parapat. begini ceritanya:



TAROMBO OMPU PANGUTANGAN:



TAROMBO DATU PAKSA

Jumat, 28 November 2008

GERAKAN SEKTE; AGAMA TRADISIONAL BATAK- 1

Parbaringin adalah agama tradisional Batak sebelum Islam, dan keristen masuk ke tanah Batak. Sekitar 1980 dengan masuknya Islam Keristen protestan dan katolik ketanah batak, maka bermunculanlah beberapa sekte baru agama tradisional Batak (reformasi dari Parbaringin), yang mengandung unsur-unsur sinkretisme, dan para pengikutnya disebut "Parmalim".
Pendiri sekte Parmalim adalah "Guru Somalaing Pardede" dari Pardede Jabi-Jabi (Pardede Hauma Bange), sebagai datu yang menguasai ilmu gaib, pengobatan dan tulisan Batak, dia kehilangan reputasi sosial dan finansial karena agama keristen menyebar dengan cepat disekitar daerah Balige dalam 2 (dua) dekade terakhir abad 19.
Gagasan tentang Agama baru ini diperolehnya dalam suatu perjalanan sebagai pemandu dan penerjemah ahli ilmu alam berkebangsaan Italy, Elio Modigliani. Perjalanan itu memperkenalkannya tidak hanya dengan agama Katolik tetapi juga agama Islam yang terdapat didaerah Asahan, dan Sumatera timur.Dibawah pengaruh demikian , dia memberi penafsiran baru tentang trinitas sebagai terdiri dari Yehowa, Maria dan Yesus.Disekitar atau dibawah mereka terdapat Sisingamangaraja, Raja Rum , Raja stambul , Raja Hatorusan, Ompu Raja Uti (tokoh mitologi Batak), Sideak Parujar dan Naga Padoha ( disadur dari tulisan Lance Castles)

Kamis, 20 November 2008

Bahasa Batak Toba -1


Dialek Bahasa Batak Toba


Pembinaan dan pembangunan kebudayaan nasional dalambidang kebahasaan dan kesastraan merupakan salah satu masalah kebudayaan nasional yang perlu di bahas dan disosialisasikan dengan sungguh-sungguhdan berencana, sehingga tujuan akhir pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dan bahasa daerah ,termasuk sastranya dapat tercapai Sebagaimana kita ketahui Budaya bangsa Indonesia cukup kaya dan beragam terutama dalam sastra dan bahasanya.
Van der tuuk telah menulis tentang Tata bahasa Batak Toba dan kamus Bahasa Batak Toba, seabad yang lalu dalam bukunya "A Grammar of Toba Batak", disusul William K.Percival juga menyusun buku nama nya sama denga tulisan Van der tuuk "A Grammar of Batak Toba" pada tahun 1964, dan kemudian penelitian-penelitian oleh P.W.J.Nababan dengan bukunya berjudul "Toba Batak a Grammatical Description pada tahun 1966, dan banyak lagi tokoh-tokoh penulis dan peneliti Batak dan yang orang asing yang mencintai budaya Batak. Namun didalam pensosialisasian sangatlah minim, meskipun didalam pemerintahan ada suatu lembaga yang menangani masalah kebudayaan.
Dalam kenyataan dapat peroleh gambaran bahwa jumlah dialek yang terdapat dalam bahasa Batak Toba cukup beragam
Peranan dan Kedudukan Bahasa bagai Orang Batak toba sangatlah komunikatif terutama dalam bahasa pargaulan sehari-hari dan upacara adat, maksudnya didalam pembicaraan sehari hari atau pembicaraan upacara adat sesama orang batak, sangatlah terasa kekeluargaan kalau mereka memakai bahasa Batak, sesuai dengan prinsip "Dalihan Natolu".
1- Bahasa Batak Toba dalam Upacara Adat:
Dalam penggunaan bahasa pada masyarakat Batak umumnya dan Batak Toba Khususnya,
akan terlihat keindahan penyajiaan bahasa tersebut, unsur-unsur sastranya akan lebih
menonjol, setiap perkataan selalu diselingi dengan umpama (pepatah) dan umpasa (pantun),
dan disajikan penuh dengan tata kerama (Dalihan Natolu)
2- Bahasa Batak Toba dalam pergaulan sehari-hari :
Bahasa BAtak Toba dalam kesehariannya sangatlah fungsional. Pemakaiannya meliputi
lingkungan yang sangat luas, hampir disemua tempat dan situasi. Penggunaan Bahsa dalam
pergaulan sehari-hari tidaklah sekaku dalam pemakaian dalam Upacara Adat istiadat. Saya
katakan kaku, banyak yang pintar berbicara bahasa batak toba belum tentu dapat berbicara
di forum upacara adat
Bahasa Sastra:
Sastra Batak terdiri dari sastra Tulisan dan sastra lisan:
Yang termasuk sastra Lisan adalah pemakaian bahasa yang bersifat puitis hal ini dapat ditemui dalam upacara Adat: Perkawinan, kematian memindahkan tulang belulang leluhur, dll. Dimana akan ditemui kata-kata dalam kalimat yang sangat puitis, didalam meratapi orang meninggal dia akan berkisah dengan kata-kata yang membuat orang terhanyut sedih karenanya. Juga Umpa dan umpasa akan ditemui disetiap acara adat sebagai contoh;
Umpama: " tedek songon indahan dibalanga">> artinya seperti nasi dalam kuali, maksudnya adalah bahwa semua yang telah diutarakan tidak adalagi yang tersembunyi
Umpasa:
Margondang sitidaon, mangan hoda sigapiton
Tu jolo nilangkahon,tupudi sinarihon.
artinya :Bergendang sitidaon,makan kuda sigapiton,
Melangkah kedepan, kebelakang dipikirkan"
Mantera:
"Tul tanjung holi ampe tu bulung bira, bisa ni tano bisa ni langit toh,lah,lah,lah,lah,lah,lah"
artinya: Luka pada tulang-tulang ditimpa kedaun talas,bisa tanah,bisa langit menjadi hilang,berkat Allah"
Tonggo-tonggo: (Mantera memanggil arwah nenek moyang untuk meminta berkat dan restu, menunjukkan kebenaran dan arti dari suatu kejadian).
Misal: "Hujou,hutonggo hupangalu-alui, sahala ni daompung boru Saniang naga, saniang naga tunggal, saniang naga jae, saniang naga di julu, partintinnaruminis, parsanggul na lumobi,...tumpak ma hami horas,maduma jala gabe"
artinya: " KAmi memanggil, mengundang, dan menjemput semangat dan arwah nenek boru saniang naga(dewa danau toba dan pengairan), saniang naga yang tunggal, saniang naga yang yang berada di hilir dan dihulu yang bercincin banyak dan berkode rapi, berkatilah kami selamat dan bahagia."
Andung-andung (bahasa ratapan , bentuk ini dipakai pada waktumeratapi orang yang meninggal.Kata-kata yang dipergunakan lain dari yang dipakai sehari-hari.
Misal:
Kata anak disebut menjadi Sinuan tunas>>> Putra
---- boru ---------------- Sinuan beu >>> Putri
---- amang -------------- Parsinuan >>>> Ayah
---- inang -------------- Pangintubu >>> Ibu

Sastra tertulis itu adalah berupa ilmu perbintangan atau astronomi, Tarombo (silsilah), ramuan pengobatan tradisional, turi-tirian (cerita dongeng mitos), tulisan tersebut ditulis dengan aksara Batak.

(Bersambung...........)

Minggu, 16 November 2008

PARDEDE JABI-JABI


Panggilan "Pardede Jabi-jabi", diperuntukkan kepada Pardede keturunan Raja Toga Laut, yang akhir-akhir ini sering dipanggil atau disebut "Pardede Hauma bange", yang sebenarnya adalah Pardede Jabi-jabi, karena asal muasal dari Pardede tersebut adalah berasal (berkampung) di Komplek Museum dan Tugu Jenderal Panjaitan sekarang. dan di belakang Museum ada sebuah Sumur, yang dahulunya adalah sebuah Mata air yang sangat jernih dan sumber air dan mandi dari orang-orang penghuni kampung dan sekitarnya, yang disebut "Mual Jabi-jabi". Menurut cerita orang tua dahulu Mual jabi-jabi juga dipergunakan untuk maranggir (mandi sakral) raja-raja, dan Sisingamangaraja XII pernah maranggir dimual jabi-jabi tersebut, dan Mual jabi-jabi itu hingga sekarang masih ada , hanya sayang sangat kurang terawat, siapa yang disalahkan keberadaan pompa dan PAM (teknologi atau orang batak umumnya/Pardede khususnya yang sudah memiliki keyakinan agama samawi dan menghindari kesirikan/ sipelebegu), konon ceritanya Mual jabi-jabi tersebut sejak Raja Bonani Onan Pardede (cikal bakal Pardede) sudah ada dan sangat disakralkan

Pada zaman Belanda berkuasa penghuni Kampung tersebut dipindahkan ke Hauma bange dengan alasan Pemerintah Belanda membutuhkan lokasi markas besar di Balige. Sebenarnya itu hanya alasan semata, sedang yang sebenarnya adalah untuk melemahkan perlawanan Guru Somalaing Pardede yang kebetulan berasal dari Kampung itu dan Perjuangan Guru Somalaing Pardede selalu mendapat dukungan baik morel maupun material dari saudara-saudaranya penghuni kampung tersebut . Sekarang Lokasi tersebut tepatnya dilapang tennis sedang dibangun Tugu Raja Toga Laut Pardede. Yang mudah-mudahan dalam waktu dekat ini dapat diresmikan.
Himbauan:

Kepada Semua keturunan Raja Toga Laut Pardede, diseluruh Dunia. agar memberi sumbangsih dan perhatiannya terhadap pembangunan TUGU tersebut.Dan dapt menghubungi panitia melalui e'mail :

  • togalaut@hotmail
  • pardedeth@yahoo.com
  • togapard@yahoo.com

Mauliate -Horass!

Barus 1000 tahu yang lalu

PELETAKAN BATU PERTAMA PEMBANGUNAN TUGU RAJA TOGA LAUT PARDEDE DI LUMBAN JABI-JABI - BALIGE

Setelah terbentuknya panitia pembangunan Tugu Raja Toga Laut Pardede di Jakarta oleh beberapa keturunan Raja toga Laut Pardede yang berdomisili di jakarta sekitarnya (sejabodetabek)
maka diputuskanlah agar semua keturunan Raja Toga Laut Pardede ikut serta dalam Napak tilas show force keliling kota Balige pada tanggal 18 Agustus 2007, dengan rute dimulai Losmen Toga Laut Tawar, Tugu Naga Baling, Makam Raja Bona Ni Onan Pardede & Raja Paindoan Pardede dan ber akhir di Lumban Jabi-jabi / Tugu Raja Toga Laut Pardede, yang kemudian dengan kata-kata sambutan, oleh Tokoh-tokoh Sonak malela dll.