Selasa, 01 Maret 2011

Orang Batak Menghormati Leluhurnya sama dengan Orang China

Orang Batak menghormati leluhurnya dengan membangun Monumen atau Tugu dari Lelurnya (cikal bakal dari Keluarga besar marga), Bisa saja dari generasi pertama bahkan ada juga yang membangun tugu dari generasi ke tiga atau empat.Sebelum mengenal tembok beton, orang Batak mengubur orangtuanya di dalam tanah, dan diberi tanda dengan batu besar berukir. Biasanya di situ juga ditanam pohon kayu jabi-jabi atau beringin, yang dianggap keramat.
Salah satu contoh; Hampir boleh dikatakan Tugu Raja Sonak Malela adalah Tugu cikal bakal dari empat Marga : Simangunsong, Marpaung, Napitupulu dan Pardede. Tetapi Tugu dari Persatuan Pardede, yaitu”Raja Bona Ni Onan” hingga kini tidak ada namun makam nya ada. Tetapi Tugu generasi selanjutnya ada dan cukup Megah.
Hal ini juga berlaku di marga lain, dan tugu-tugu umumnya dibangu didaerah mana asal marga atau leluhur tersebut. Apakah si Samosir Toba,Humbang Silindung,dan lainlainnya. Jadi kalau kita Memasuki wilayah simalungun hingga Sibolga
maka kita akan menikmati panorama yang sangat kotraversi dengan kenyataan kehidupan masyarakat sekitarnya. Dikanan kiri jalan kita akan menemui megahnya makam/kuburan ataupun Tugu dari leluhur setiap marga, bahkan kita menemui Tugu berdiri ditengah persawahan, bahkan ditepi jalan dandi pebukitan.
Tidak sekedar menghormati, Orang Batakpun mengsakralkan Tugu atau tambak tersebut.

Begitu sakralnya pekuburan akan membela mati-matian bila kuburan nenek moyang mereka diganggu atau dirusak, ada sebuah cerita tentang Pohon Jabijabi begitu sacral pohon tersebut bagi Marga bersangkutan; sebab cabang kayu jabi-jabi di kuburan nenek mereka hendak dipotong karena daunnya berguguran ke halaman kantor kepolisian sektor di sebelahnya. "Alasannya, jika cabang atau ranting kayu itu dipotong, bisa mengurangi keturunan keluarga Pardede,"
Sejak 1950-an, orang Batak mulai membangun kuburan dari semen, pengganti batu dan pohon beringin. Kadang-kadang kuburan itu juga diukir dengan relief dan ornamen khas Batak serta dilengkapi dengan patung berbagai bentuk, seperti orang berkuda, harimau, rumah adat, dan bahkan orang dicambuk. Itu mempunyai arti tersendiri, misalnya kuda yang melambangkan keluarga raja. Selain itu, diberi juga lambang salib,(setelah Agama Keristen Protestan menjadi Agama Mayoritas). Kini kuburan orang Batak merupakan pembauran unsur modern (bangunan), agamis (tanda salib), dan magis. Setidaknya, Dalam membangun tambak, seseorang harus memiliki "jaga badan", di samping niat yang lurus. Bila tidak, orang itu bisa jatuh sakit, diganggu roh, Selain itu, kita juga gampang letih dan kelaparan. Bisa jadi, daerah Tapanuli Utara yang berhawa dingin sering membuat orang merasa cepat lapar. Menyadari hal itu, biasanya pihak keluarga menjamu tukang yang membangun kuburan leluhur mereka sebaik-baiknya. Seperti diberi makanan yang lezat dan penginapan yang memadai. Bahkan, sebelum memulai pekerjaan, mereka didoakan pendeta agar jangan diganggu roh halus.

Pembuatan tambak juga bisa dipicu oleh gengsi. "Bila di sebuah kampung ada tambak besar dan mewah, warga dari marga lain akan berlomba membuat yang lebih wah. Apa itu lebih penting daripada membantu saudara-saudara yang miskin?"
Menurut Seorang tokoh Muda mengatakan , keyakinan terhadap tambak bertentangan dengan ajaran Kristen. Soalnya, warga meminta berkah kepada roh nenek moyang. Padahal, soal rezeki, kata Tambunan, bergantung pada usaha seseorang. Di mata Pemuda tersebut, pembangunan makam yang megah hanyalah pemborosan.

Anggapan pemborosan itu dibantah M.A. Simanjuntak. "Ini menyangkut keyakinan. Jangankan soal tempat, harta benda pun direlakan untuk membangun tambak. Jadi, soal adat ini jangan diutak-atik," kata salah seorang pengurus Lembaga Adat Dalihan Na Tolu, yang juga anggota DPRD Tapanuli Utara itu. Menurut Simanjuntak, apakah salah jika mereka ingat kepada leluhur? Biarkan adat berkembang, itu juga identitas orang Batak. "Cinta kasihlah yang paling menonjol," katanya. Pendapat itu dikuatkan Prof. Bonar Halomoan Pasaribu,

    
  
Bangunan-bangunan dari semen indah dan megah itu baru muncul pada paruh abad ke-20. Sebelumnya, makam asli keluarga Batak cukup ditandai dengan pohon (hariara)

yang kebanyakan berupa pohon beringin. Makam sendiri berupa tanah yang ditinggikan 
atau miniatur gereja,hingga vila. Banyak yang tampak sangat megah dan unik, bahkan bisa

untuk makam itu beraneka ragam, dari tugu dengan patung-patungnya, kapal, pagoda, 

menjadi penanda (landmark) sebuah kawasan.peti batu yang digeletakkan di dataran.

Orang bahkan banyak yang sudah lupa bahwa istilah makam Batak yang asli adalah tambak. 

Banyak orang menyebut makam Batak kini sebagai tugu karena saking banyaknya makam 
yang berbentuk tugu.




"Pembangunan Tugu Dipandang dari Segi Sosial-Ekonomi", pembangunan tugu makam secara besar-besaran mulai terjadi pada dasawarsa 1955-1965 di bona pasogit (kampung halaman orang Batak). Para perantau menjadi penyumbang terbesar pembangunan tugu.
 Beringin besar
 
Meskipun demikian, pohon-pohon beringin besar masih bisa ditemukan di banyak kawasan
di Humbang Hasundutan. Hampir bisa dipastikan, pohon beringin di Humbang Hasundutan
adalah tambak keluarga W Silaban (66), warga Desa Dolok Marbu, Kecamatan Lintong
Nihuta, Humbang Hasundutan, mengatakan, makam keluarga Silaban yang berada  persis
di samping rumahnya berisi ratusan jenazah. 
Makam dengan pohon beringin yang sangat besar itu dipagar seluas sekitar 6 x 6 meter.
Umur tambak keluarga itu juga ratusan tahun. "Saya saja sudah Silaban nomor sembilan,
tambak itu ada sejak Silaban nomor satu," tutur dia.

Warga percaya, jika pohon semakin besar dan rindang dengan cabang yang banyak,
keturunan keluarga itu dipercaya berhasil di masyarakat. "Jika pohon justru mati atau
tak banyak berdaun, keluarga besar itu pun tak banyak berguna di masyarakat," tutur
Marandut Manulang (42), warga Doloksanggul, Humbang Hasundutan.
Sri Hartini, dalam disertasinya yang berjudul "Kajian Bentuk dan Makna Tambak pada
Masyarakat Batak Toba" membagi makam keluarga Batak Toba dalam tiga tipe :
Pertama, tambak dari tanah yang ditinggikan yang biasanya ditanami pohon kosmis
(biasanya pohon beringin) atau ditancapi tanduk kerbau.
Kedua adalah makam dari batu alam utuh berbentuk segi empat panjang yang disebut batu
sada, parholian, atau sarkofagus. Tambak model ini merupakan peninggalan tradisi megalit
sejak 3.000 tahun sebelum Masehi. Hanya kaum bangsawan yang diduga mampu membuat
kubur batu mengingat butuh banyak tenaga untuk memindahkan dan membuatnya. 
 
MAKAM RAJA SIDABUTAR. Sejumlah pengunjung melihat makam tua raja Sidabutar
berusia 480 tahun di desa Tomok, Kecamatan Simaniado Kabupaten Samosir, Minggu, 
Raja Sidabutar merupakan orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Samosir 
serta penguasa Samosir pada masa itu. Foto antarasumut.com/Septianda Perdana
 


Kuburan tua dari batu, kabarnya banyak dijumpai di Samosir, tetapi tidak dipelihara bahkan 
nyaris terlupakan. Yang selalu dipelihara dan menjadi objek wisata adalah Kuburan Batu
Raja Sidabutar di Tomok.
Ketiga adalah tambak dari semen atau campuran pasir, bata, dan semen yang disebut
Sri Hartini sebagai tambak modern. Berdasarkan penelitiannya di wilayah bona pasogit, Sri membagi tambak modern menjadi 13 kelompok berdasarkan bentuk bangunan. "Orang Batak sangat adaptif dalam membuat bentuk bangunan," tutur Sri. Tiga model pemakaman itu bisa dilihat sekaligus salah satunya di Huta (Kampung) Sialagan di Pulau Samosir. Kampung kecil milik keluarga Sialagan itu juga menjadi daerah tujuan wisata Pulau Samosir.
 
 
Di sudut kampung tumbuh sebuah pohon beringin besar. Di bawah pohon terdapat sarkofagus batu dan tambak semen persegi berisi tulang belulang marga Sialagan. Ratusan orang dikubur dalam tambak itu. "Umurnya kira-kira 600 tahun," kata Wesley Guntur Sialagan (60), generasi ke-19 marga Sialagan.
Wesley meyakini tradisi pemakaman Batak sangat erat dengan tradisi Hindu. Saat melakukan penggalian untuk membangun pagar tembok batu di dalam kampung itu, pensiunan pegawai bank pemerintah itu menemukan abu dalam pinggan pasu (piring) porselen. Penemuan abu yang ia duga sebagai abu jenazah leluhurnya itu menunjukkan bahwa ada tradisi pembakaran mayat seperti tradisi Hindu Bali. "Ini memang dugaan yang butuh pembuktian," kata Wesley. Abu leluhurnya itu kini ia makamkan dalam tambak di Sialagan.
Keputusan untuk memasukkan anggota keluarga yang meninggal dalam tambak biasanya dilakukan dengan rapat adat.

Ada dua jenis pemakaman adat Batak. 

Pertama, penguburan langsung ke tanah sesaat setelah kematian, terutama bagi orang yang mati muda.
Kedua adalah penguburan jenazah ke tanah, yang dilanjutkan penguburan tulang belulang beberapa tahun kemudian setelah proses pembusukan terjadi. Proses pemakaman kedua ini disebut mangokal holi.
Mangongkal holi ini butuh dana besar.
Kini banyak warga Batak menyatukan proses pembusukan dan pemakaman tulang dalam satu tambak. Bagian bawah tambak menjadi makam tempat pembusukan, bagian atas tempat disemayamkan tulang-tulang.
Bagi orang Batak tak ada tambak yang menakutkan. Leluhur yang jasadnya masuk ke tambak adalah orang-orang yang justru jiwanya akan membantu mereka yang hidup.
Tambak menjadi representasi sebuah marga atau keluarga besar.

Kesimpulan:
Kenapa manusia batak sekarang ini (modern) tidak menyadari dampak dari pembangunan makam begitu megahnya dipertengahan sawah, meskipun itu adalah tanah sawah milik keluarga besar. Sedangkan Nenek moyangnya menyadari dampak global warning dengan menanam pohon berigin (hariara) di makam mereka. Alangkah baiknya meniru sikap positif dari nenek moyang kita tersebut.

Minggu, 30 Januari 2011

Tarombo Bercerita (1)




Tarombo Bercerita

(Th.Pardede)

Konon ceritanya Boru Sanggulhaomasan isteri ketiga dari Sorimangaraja melahirkan Tuan sorba dibanua (SiSuanon) dan sebagai generasi ke empat dari si Raja Batak dan bermukim di Lumban Gorat Balige, sedangkan abangnya anak pertama dari Sorimangaraja Tuan Sorbadijulu bermukim di Pangururan, dan anak kedua dari Sorimangaraja Tuan Sorba dijae bermukim di siBisa, Uluan.
Ibu dari Tuan Sorbadibanua boru Sanggulhaomasan adalah anak perempuan dari Sariburaja yang berada di Haunatas dilereng Dolok tolong Balige , Menurut kisah lainnya Boru sanggul haomasan masih mempunyai anak kedua setelah SiSuanon alias Tuan Sorbadibanua yakni bernama Raja Tunggul yang kemudian pergi kearah Pakpak .

Setelah si Suanon beranjak besar putra dari Sorimangaraja dengan Nai Suanon sebagai gelar dari Borusanggulhaomasan, kharismanya sudah kelihatan dia berperawakan tinggi besar dan atletis dan hobby sama dengan Sorimangaraja Bapaknya yaitu berburu dengan Ultop. Disuatu hari diapun pergi berburu kehutan:

“Inang aku pergi dulu ya “, Suanon pamit kepada ibunya si boru sanggul haomasan,

“kau mau kemana Suanon?’ Tanya Ibunya

“Kami mau berburu”,jawab si Suanon

”hati-hatia ya amang”, seru Inangnya dari dalam rumah.

“ya Inang aku bersama kawan-kawanku ke hutan” jawab Si Suanon sambil ketawa dia pergi dengan kawan-kawannya.

Setelah matahari beranjak sore dan mendapatkan beberapa hewan buruan merekapun pulang,ditengah perjalanan mereka berpisah dan menuju rumah masing-masing (maklum ketika itu rumah masih jarang-jarang dan jauh). SiSuanon pun berjalan sendiri dan diperjalanan pulang dia bertemu dengan seorang wanita terbilang cantik dia langsung mendekati wanita itu dan mengajak berkenalan sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman, namun wanita itu menghindar untuk tidak bersalaman dengan laki-laki yang belum dikenalnya tetapi dia memperkenalkan dirinya sebagai boru Pasaribu dan namanya Antingmalela , Suanon pun memperkenalkan dirinya pada wanita tersebut namun matanya terus mengamati wanita yang memperkenalkan dirinya bernama Antingmalela boru pasaribu, membuat Antingmalela malu tersipu-sipu,

“maaf ito menurut adat dikampungkami ini pantang seorang laki-laki berkenalan ditengah jalan”, kata Antingmalela memecah kesunyian dikarenakan saling mengagumi.

Mendengara teguran Antingmalela, Suanopun salah tingkah dan mencoba bersikap wajar didepan wanita yang dikaguminya itu, semua sikap Suanon diperhatiakn Antingmalela sembari berkata dalam hatinya”dia pasti anak orang yang terpandang dan beradat”,
Antingmalela pun tersenyum melihat kekaguman SiSuanon terhadap dirinya, lalu dia melangkah meninggalkan Suanon alias Tuan Sorbadibanua muda.

Sepeninggal antingmalela Suanon terpaku dihanyut dalam kekagumannya terhadap Antingmalela, tidak berapa lama diapun sadar dari lamunannya, tampa disadarinya dia telah sampai dihalaman rumah. Ibu Suanon heran melihat anaknya seperti kebingungan:

“ada apa anakku, kau kelihatan cape sekali”,tegur ibunya sembari menyodorkan minuman kepada Suanon yang terus melangkah ditangga rumah mereka .

“tidak apa-apa inang Cuma capek aku tadi berburu”, jawabnya singkat lalu meminum air yang sodorkan ibunya, namun wajah waniata yang ditemuinya dijalan selalu terbayang-bayang dimataanya, dia mencoba menghilangkan bayangan itu dengan mencari kesibukan dengan kawan-kawan sebayanya.

Pada suatu hari Ibunya memanggil Si Suanon alias Tuan Sorbadibanua :

“Anakku, sudahlah layak kau untuk mencari jodohmu, kuperhatikan kau selama ini kau tidak pernah bergaul dengan perempuan perempuan dari kampung manapun seperti kawan kawanmu yang lain bahkan kawanmu sudah ada yang kawin, seperti si Pijor nihuta itu,” kata Ibunya suanon gelisah melihat anaknya belumjuga berniat untuk kawin
Si Suanon kaget dan tersentak mendengar keluhan ibunya , tiba-tiba dia teringat perempuan yang pernah di temuinya diperjalanan dahulu yaitu Anting malela.

“Inang kau tidak usah khawatir, aku sebenarnya sudah menemui tambatan hatiku”kata Suanon kepada ibunya dengan muka yang ceriah dan senumnya yang menawan, membuat ibunya heran denga tidak sabar ibunya mendesak anaknya:

“Siapa yang mampu mengambil hatimu itu amang ?”, Tanya NaiSuanon.

“ada boru ni rajai diseberang kampung kita ini Inang”, sahut Suanon

“cantikkah permpuanitu Suanon, dan siapa namanya ?’ kembali Ibu suanon bertanya

“Bagaimana Inang ini mana mungkin pilihanku tidak cantik”Jawab Suanon membanggakan diri
“yah sudah kalau sudah cantik kau bilang dan senang hatimu bagi Inangpun senang jugalah , tapi namanya siapa? Tanya ibu Suanon mengulangi pertanyaannya.

“Namanya Antingmalela boru Pasaribu.” Jawab Suanon , melihat perobahan sikap si Suanon ibunyapun terdiam kegirangan sambil bertanya-tanya dalam hatinya “boru siapalah Antingmalela itu, alagkah bahagianya aku kalu betul Antingmalela itu bisa menjadi menantuku”.

Setelah Si Suanon didesak ibunya untuk kawin, maka pada suatu hari:
“Inang kami pergi dulu ya dengan kawanku kekampungseberang sana jalan-jalan kata si suanon kepada ibunya, Ibu Suanon mendengar nada anaknya dia hanya tersenyum lalu berseru kepada anaknya dengan penuh harapan semoga anaknya mendapa jodoh seperti yang diceritakan kepadanya:

“Yah baik-baik kau dikampung orang jaga kesopananmu dan adat, tunjukkan sikapmu bahwa kau adalah anaknya raja yang tahu dopan santun”,begitulah petuah Ibunya kepada si Suanon, Dengan restu ibunya Suanonpun berangkat dengan kawannya kekampung si Antingmalela., sebelum memasuki perkampungan mereka melihat ada pncuran disana mereka meliha ada beberapa orang sedang menuci sembari ketawa-ketawa mereka saling menyirami air kepada kawannya. Dari jauh Suanon berseru ,
“Siapa yang ada di pancuran itu” kata Suanon,tiba-tiba suara ketawa-dari pancuran berhenti, tidak berapa lama ada pertanyaan terdengar dari pancuran

“Siapa disana itu dan apa maksud kalian?” seru suara seorang wanita.

“Kami adalah yang sedang lewat mau kekampung itu, tetapi kami bermaksud hendak cuci muka,bolehkah?” Tanya Suanon dengan tetapa menjaga kesopanan sesuai dengan petuah ibunya NaiSuanon..Tidak berapa lama keluar lah seorang wanita separoh baya disusul beberapa orang anak gadis dengan menjujung cucian diatas kepalanya . Si Suanon terhenyak melihat salah satu diantara gadis-gadis itu seperti dikenalnya, tetapi dia ragu apakah dia Antingmalela yang dikenalnya berapa tahun lalu atau orang lain pikirnya memang wanita itu cantik dan lebih dewasa dibandingkan dengan wanita yang pernah dikenalnya.Suanon terdiam tetapi matanya terus memandangi wanita yang mirip dengan Antingmalela.seketika suasana hening dan wanita separoh baya memecah keheningan ,

“mari saya kenalkan kepada kalian maen saya ini, namanya Anting malela sedangkan saya namborunya nama saya Nai Pandanrumariboru “ seru namboru nya Antingmalela

“mauliate Inang kalau saya bernama Si Suanon bergelar Tuan Sorbadibanua , setelah saling memeprkenalkan diri Anting malela dan Suanonpun tersadar dan teringat akan perkenalan mereka pertama
“rumah kami dikampung yang akan kalian tuju dan kalian sebenarnya mau menemui siapa?” Tanya namborunya Antingmalela

“Cuma jalan-jalan saja Inang”, jawab Suanon malu, wanita separoh baya sadar bahwa kedua pemuda ini adalah mau martandang saja layaknya pikirnya sambil berjalan

“Antingmalela kalau kulihat si Suanon itu naksir kau”,kata namborunya sambil ketawa,lalu memanggil suanon yang masih ada dihalaman Rumah
“MARNGUNGUNG NGUNGUNG RONGIT DI JULU NI PATIAN,SANJONGKAL DUA JARI MANTAT LUBUK PANGKALIAN;BA HUNDULMA JOLO DAMANG DI DOLOK MARANTI MARADIAN, ASA TANGKAS DAMANG MARPANARIAN.DUNGI SO MA DAMANG SIANI,MARANGGIR MARTAPIAN,MANDAPTHON AEK SITIOTIO PANAILIAN,TUMPAHON NI OMPUNTA SAI TIO MA PARULIAN”
Tutur kata yang begitu indah dikuping si suanon membuat dia menarik kesimpulah bahwa penghuni rumah ini adalah orang terkemuka dikampung itu yang tahu adapt dan uhum Batak. Suanon dengan kawannya menerima undangan lalu mereka masuk dan duduk diatas tikar yang telah dibentangkan,kemudian Suanon alias Tuan Sorbadibanu:
“AMANG NA DIDOLOK PANGIDOAN HOTANG, AMANG NA DI HOLBUNG PANGIDOAN MUAL.PINASAE BONA NI GORAT I PARBUENA MA NIIDA;NIDAPOTHON MA PARIBAN NAPURANNA MA NA NIIDA” .
Mereka saling bersahutan antara Antingmalela dengan Suanon, yang akhirnya mereka saling mengagumi, setelah saling menuturkan kata kata yang sangat indah semua dengan perumpamaan ;
“HODONG DO PAHU HOLIHOLI SAKALIA;MOLODIPANGAN NAPURANKU HOLOM IDAON NASIDA!”
Demikian Antingmalela menjawab permintaan sekapur sirih dari si Suanon,yang kemudian ditanggapi suanon pula:
ADONG DO DIHUTA NAMI DA ITO LAPELAPE SATONGA ARIAN,ULOS SATONGA BORNGIN,PAGAR TU PARTONDION DOMUDOMU TU NASIRANG.SIPATUDUHON NA ADONG DOHOT SIPABALIK PUTAR NI PARBEGUAN.NAMANGUTAHON MUDAR,NA MANGALLANG SIRUMATA BULUNG.ON DO NIDOKNA DISI:MOLO RARA DO PANGANON NAPURANI, NDANG HOLOM IDAONKU,MOLO SO RARA, BAHOLOM IDAONKU
Kata-kata yang dilantunkan keduanya mencoba saling menjajaki .

“Saya heran melihat kau ito, siapa aku dan siapa kau kita belum betul-betul saling mengenal tetapi kau sudah berani memintak napuran (sekapur sirih)” seru Antingmalela

“aku datang kesini naik kuda , tetapi ditengah jalan kuda tadi menanyai aku kemana kau bawa aku? Pa kau mengenal paribanmu dikampung itumaka jawabku ;kukenal, kalau betul kau kenal nanti tolong mintakkan sirih untu aku tetapi tidak bertangkai dan tidak berujung”, Sualon kembali membuat perumpamaan , yang kemudian dijawan Antingmalela:

“Kalu begitu tolong kau belikan sama aku tali yang panjang sepanjang jalan dan lebarnya selebar tanah sebagai ganti rugi dari sirih ku itu.” Kata Anting malela

“kalau permintaanmu itu sudah ada dikantongku ini, karena sudah disiapkan ibundaku tercinta “,kata suanon menerima tantangan si Antingmalela.

Mendengar jawaban Si Suanon Antingmalela tidak berdaya lagi untuk menolak permintaan Sualon memberikan sekapur sirih, sebagai tanda kedatangannya kerumah Antingmalela diterima dengan baik
Singkat cerita Anting malelapun dilamar untuk menjadi isteri dari Suanon gelar Tuan Sorbadibanua. Pestapun digelar selama 40 hari 40 malam tanda kebahagiaan kedua belah pihak. Perkawinan ini membuahkan 5 orang anak laki-laki yaitu:

Boru sibasopaet:

Siapakah isteri kedua dari Tuan sorbadibanua (Suanon)?
Ada yang mengatakan putri dari jawa atau kerajaan Mojopahit, Ada juga mengatakan adala boru basopaet yang dtemuka Sorimangaraja di hutan lereng gunung dolok tolong. Tetapi semua sepakat bahwa isteri kedua dari Tuan Sorbadibanua adalah boru sipasopaet.
Dikisahkan bahwaTuan Sorbadibanuar mendapatka 3 orang anak dari isterinya kedua boru Sibasopaet Yaitu

Ada beberapa versi cerita kelahiran anak dari boru sibasopaet; menurut WM.Hutagalung sbb: Suatu ketika Boru sibasopaet akan mandi ke pancuran disana dia menemulan tiga buah telor sebesar periuk , dari kejauhan didengarnya suara burung ,dia mengarahkan pandangannya darimana suara burung irtu yang kemudian tertuju mata diatas kepanya seekor burung Elang terbang serta bersuara :

“Hulis,hulis wahai boru sibasopaet ambil ketiga telor itu kerumahmu dan letakkan lah di Sumban(tempat kaso atap rumah dipakukan)”apa yang disuru burung elang itu dilaksanakan boru sibasopaet. Beberapa lama kemudian ketiga telurpun menetas dengan bentuk manusia ,masing-masing anak dianamai sesuai dengan dimana dia menetas. Sbb:
Yang pertama kebetulan telurtersebut menetas diatas Sobuan (sekam) maka dinamai anak tersebut Raja Sobu, telur kedua menetas di Sumban (tempat kaso atap rumah dipakukan) maka anak tersebut dinamai Raja Sumba, sedangkan telor ketiga dinamai berdasarkan ada Iposipos(cirri) di dagunya maka dinamai Naipospos. Tetapi ini hanya sebagai mytos atau apaun namanya .namun sebenarnya kelahiran ketiga anak tersebut adalah wajar ,Nama yang dicantumkan adalah berdasarkan nama nenek moyang mereka

Bersambung –2

Selasa, 04 Januari 2011

Orang Batak yang cinta Budaya dan tradisi mampu mengatasi krisis Toleransi

Mulajadi Na Bolon adalah Sesembahan Orang Batak sebelum Agama-agama Hindu/Budha, Islam dan Nasrani (Protestan/Katolik), memasuki kepercayaan orang Batak.
Tanda-tanda pengaruh Agama-agama ini masih terlihat pada suku bangsa Batak, pengaruh Hindu/budha pada suku Batak Simalungun,dan Karo, Pengaruh Agama Islam pada suku Batak Mandailing(Tapsel), serta Pengaruh Agama Nasrani ( Protestan/Katolik ) sangat kental pada suku bangsa Batak Toba.
Agama adalah salah satu faktor yang menyebabkan sejarah Batak kabur, dan tidak jelas,Karena masing-masing Agama melalui intelektualnya membuat sejarah berdasarkan susut pandang agama yang dianutnya.
Sejarah Batak selama ini selalu menimbulkan polemik yang berkepanjangan dan tidak pernah ada kesepakatan berdasarkan kesadaran pentingnya sejarah didalam perjalanan suatu bangsa.
Churchil pernah berkata :”Semakin jauh anda melihat kebelakang (sejarah) akan semakin jauh pula anda melihat ke depan. Sedangkan Yesaya menyatakan:”Bahwa untuk melihat masa depan , engkau harus melihat kebelakang (sejarah). Begitu pentingnya sejarah didalam kemajuan suku bangsa, inilah yang menyebabkan Bangsa Batak sedikit tertinggal dari saudara-saudaranya suku bangsa lain di bumi Indonesia, seperti sulu Minang, Jawa, sunda bahkan Manado dll.
Agama Islam yang mayoritas dianut suka Batak Mandailing akan mengalami kesulitan menerima ulasan sejarah yang diuraikan oleh penulis suku Batak Toba yang mayoritas beragama Nasrani, dengan alasan bahwa isi dari tulisan tersebut selalu memojokkan agama Islam, dan mebesarbesarkan peranan tokoh Keristen dalam pembentukan kepribadian orang Batak, Oleh karenanya Batak Mandailing belakangan ini tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Batak. Dan Begitu juga sebaliknya apabila ada penulis-penulis sejarah Batak yang isi tulisannya menonjolkan peranan Islam, maka Orang Batak Nasrani tidak akan pernah menerimanya sebagai fakta sejarah. Sungguh sayang nama besar Batak tidak pernah dapat besar kerna pertikaian yang terselubung.

Sebagai Contoh , tanggapan terhadap tulisan Mangaradja Onggang Parlindungan tentang bukunya yang berjusul “Tuanku Rao” , banyak menimbulkan polemik dimulai dari Tokoh Muhammadiyah Hamka yang membantah bahwa Tuanku Rao bukanlah orang Batak, meskipun Mangaradja Onggang Parlindungan dalam penguraiannya lengkap dengan Tahun. Bagi Orang Batak beragama Keristen dapat menerimanya karena Buku tersebut dengan gamblangnya menguraikan penyerangan kelompok Paderi yang beragama Islam bermazhab Hambali (wahabi) ke tanah Batak, dimana didaerah Toba kaum paderi yang dipimpin Tuanku Rao membumi hanguskan tanah Batak.
Demikianjuga paparan sejarah Batak tulisan Julkifli Marbun yang belakangan ini banyak di copy paste orang (sama dengan MOP) dalam penguraiannya lengkap dengan tahun kejadian. Semuanya belum dapat diterima dengan sepakat dari kedua belah pihak baik Nasrani maupun Islam .
Himbauan, Sebenarnya apa yang dilakukan kedua tokoh tersebut diatas aganya dapat dibuat sebagai motivasi untuk penelitian yang lebih efektif dan akurat. Mari kita semua Suku Bangsa Batak, baik Toba, Mandailing, Karo, Dairi dan Simalungun, maupun Islam dan Keristen sama-sama membuka tabir misteri sejarah Suku Bangsa Batak.
Dan saya berkeyakinan sangat banyak Intelektual Batak yang mampu melakukan penelitian sejarah Batak secara objektif san menyadarai pentingnya sejarah didalam menata masa depan Suku bangsa Batak,

seperti saudara Sadar Sibarani yang menulis buku SIRAJA BATAK (2 jilid)dll -THP

Rabu, 04 Agustus 2010

Budaya Indonesia di Mata Dunia

Mari kita pelihara dan lestarikan:

Bukanlah hal yang aneh kalau budaya Indonesia menjadi perhatian Dunia, baik Seni tari, alat musik, seni Suara maupun tradisi Religi seperti upacara adat, pencak silat (bela diri). Semua ini dimiliki semua suku bangsa yang ada di Indonesia mulai dari Ujung Barat Aceh dan suku bangsa yang di ujung Barat Indonesia.

Oleh karenanya mari kita pelihara dan kembangkan agar dunia tahu ini adalah milik Bangsa Indonesia.

clip_image002 clip_image004

clip_image006 clip_image008

clip_image010 clip_image012

clip_image014 clip_image016

clip_image018 clip_image020

clip_image022 clip_image024

clip_image026 clip_image028

Hingga sekarang ada 6 budaya Indonesia diakui secara Internasional

Dalam beberapa waktu ini telah terjadi klaim-mengklaim berbagai budaya Indonesia oleh Malaysia. Setelah sekian lama, akhirnya perjuangan untuk mendapatkan pengakuan UNESCO secara Internasional akhirnya tercapai juga. Dan atas pengakuan itu, Malaysia pun seharusnya merasa malu.

Berikut adalah budaya-budaya yang diakui oleh UNESCO sebagai budaya Indonesia antara lain :
clip_image029

1. WAYANG KULIT
UNESCO pada tanggal 7 November 2003 telah MENETAPKAN bahwa WAYANG KULIT adalah warisan budaya dunia yang BERASAL DARI INDONESIA.
Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika mengungkapkan, sejak 7 November 2003 lalu Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) telah mengakui wayang sebagai World Master Piece of Oral and Intangible Heritage of Humanity.
clip_image0302. KERIS
United Nation Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) yang merupakan organisasi bidang pendidikan dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) MENGUKUHKAN KERIS INDONESIA sebagai karya agung warisan kemanusiaan milik seluruh bangsa di dunia. "Dunia telah mengakui keberadaan keris Indonesia, sekaligus mendapat penghargaan dunia sejak 25 November 2005," kata pendiri sekaligus Direktur Museum Neka Ubud, Pande Wayan Suteja Neka, Kamis (17/7).
clip_image0313. BATIK
Perjuangan Indonesia untuk mendapatkan pengakuan dunia atas batik sebagai warisan budaya asli Indonesia tidak sia-sia. United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) DIPASTIKAN akan mengukuhkan tradisi batik sebagai salah satu budaya warisan dunia ASLI INDONESIA pada Oktober 2009 mendatang di Perancis.
Demikian dikatakan oleh Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Tjetjep Suparman di Surakarta, Selasa (2/6/2009). “Butuh waktu tiga tahun untuk pengajuannya,” katanya. Sebelumnya, wayang dan keris juga telah mendapat pengakuan yang sama dari UNESCO beberapa waktu lalu.
“Enam negara yang merupakan perwakilan dari UNESCO telah melakukan pengkajian terhadap budaya batik,” kata Tjetjep. Setelah melakukan kajian serta verifikasi selama tiga tahun, akhirnya terdapat pengakuan terhadap budaya batik sebagai budaya MILIK INDONESIA. “Penetapannya pada 28 September 2009 besok,” kata Tjetjep. Sedangkan pengukuhannya baru akan dilakukan pada 2 Oktober 2009 di Perancis.
Sementara itu, perusahaan swasta produsen film dokumenter asal Malaysia, yakni KRU Sdn. Bhd. telah membuat film berjudul "Batik". Di situ dijelaskan bahwa batik Malaysia BERASAL DARI BATIK JAWA yang telah didesain menurut kultur Melayu di Malaysia. Begitu pula sejarah datangnya batik Jawa ke negara Malaysia.
Ada satu hal lagi yang lebih penting: MALAYSIA TIDAK PERNAH MEMATENKAN BATIK, karena BATIK MILIK INDONESIA. Yang dipatenkan oleh Malaysia HANYA MOTIF DAN CORAK, BUKAN BATIKNYA. "Kita sudah bicara dengan pihak budaya Malaysia dan mereka katakan tidak pernah patenkan batik. Yang dipatenkan motif dan coraknya," kata Sekretaris I Penerangan & Humas KBRI Kuala Lumpur, Malaysia, Eka A Suripto, Jumat (16/11/2007). Eka mengaku sudah melihat motif atau corak yang dipatenkan Malaysia dan bentuknya berbeda. "Motif Malaysia itu jarang. Kecuali kalau kita bisa buktikan. Dia tidak berani memakai motif batik Solo atau Pekalongan," imbuhnya.
Walaupun meskipun Malaysia tidak mematenkan batik, pemerintah RI tetap HARUS MEMATENKAN BATIK ke UNESCO - PBB untuk mengantisipasi adanya klaim batik oleh negara asing di masa-masa mendatang. Dan penetapan maupun pengukuhannya rencananya akan dilakukan pada tanggal 28 September 2009 dan 2 Oktober 2009 di Paris, Perancis.
4. RASA SAYANGE
Rasa Sayange
Reffrain:
Rasa sayange... rasa sayang sayange...
Eeee lihat dari jauh rasa sayang sayange
Bait:
Mana kancil akan dikejar, kedalam pasar cobalah cari...
Masih kecil rajin belajar, sudah besar senanglah diri
Si Amat mengaji tamat, mengaji Qur'an di waktu fajar...
Biar lambat asal selamat, tak kan lari gunung dikejar
Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi...
Kalau ada umurku panjang, boleh kita berjumpa lagi
Pemerintah Malaysia akhirnya menyerah soal polemik lagu Rasa Sayange. Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia Rais Yatim telah bertemu dengan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Dalam pertemuan itu, MALAYSIA MENGAKUI BAHWA LAGU RASA SAYANGE ADALAH MILIK INDONESIA.
Ketua Umum DPP Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI) Dharma Oratmangun mengatakan, dalam kunjungan ke Malaysia, lahir kesepahaman antara Jero Wacik dan Rais Yatim. "Persoalan lagu Rasa Sayange selesai. Secara de facto, Malaysia mengakui itu milik Indonesia," kata Dharma pada tanggal 12 November 2007.
clip_image032

5. REOG PONOROGO
Pemerintah Malaysia akhirnya MENGAKUI BAHWA REOG PONOROGO ADALAH MILIK INDONESIA. Tetapi, memang kebudayaan tersebut telah disebarkan di Johor dan Selangor oleh masyarakat Ponorogo yang tinggal di Malaysia sejak bertahun-tahun lalu.
"Reog tetap masih MILIK BANGSA INDONESIA," ujar Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Zainal Abidin Mohammad Zin dari atas mobil pengeras suara milik pendemo, di depan Kantor Kedubes Malaysia, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis, 29 November 2007.
Zainal yang mengenakan baju koko berwarna biru itu, juga menegaskan sejarah berkembangnya Reog Ponorogo yang di Malaysia disebut sebagai Tarian Barongan.
"Sejarahnya rakyat Ponorogo pernah hijrah ke Johor dan Selangor. Anak cucu dari rakyat ini mengembangkan kebudayaan Reog Ponorogo yang mereka bawa dari Ponorogo. Namun, tetap saja asal-usul budaya ini tetap MILIK BANGSA INDONESIA," paparnya.
clip_image0336. TARI PENDET
Perlu diketahui di sini bahwa pemerintah Kerajaan Malaysia TIDAK PERNAH MENGKLAIM Tari Pendet sebagai budaya asal negara tersebut. Iklan pariwisata Malaysia yang menampilkan Tari Pendet adalah DIBUAT OLEH SWASTA, yakni Discovery Channel yang berbasis di Singapura. Discovery Channel Singapore pun tidak memiliki relasi apapun dengan pemerintah Diraja Malaysia.
Discovery Channel Singapore pun sudah meminta maaf atas kelalaian tersebut dan menyatakan dengan jelas bahwa TARI PENDET ADALAH MILIK INDONESIA, BUKAN MILIK MALAYSIA.
Dengan demikian, Tari Pendet yang muncul di film promosi Enigmatic Malaysia bukanlah promosi wisata Malaysia. Bukan juga diproduksi dan didanai oleh kementerian pariwisata, kementerian kebudayaan Malaysia atau PH Malaysia, tapi dibuat oleh Discovery Channel yang berbasis di Singapura.
DC Asia Inc pun sudah mengakui bahwa kesalahan ada di staf bagian promosi mereka. DC Asia Inc pun sudah menyatakan permohonan maaf atas kesalahan itu kepada kementerian pariwisata Indonesia.
Tuduhan Malaysia telah mengklaim tari Pendet Bali itu tidak benar. Dan DC menyatakan tari Pendet itu milik Malaysia juga tidak benar, yang benar tari Pendet itu memang milik Indonesia dan Bali.
Sekarang udah kelihatan siapa yang bener dan siapa yang tidak. Kita tidak perlu caci maki bikin rusuh. Yang penting adalah bagaimana kita bisa mencintai dan melestarikan budaya kita sendiri sehingga tidak dicuri oleh negara lain.
UNESCO rencananya akan meresmikan batik di Paris, 2 Oktober 2009, mari kita semua pakai batik, untuk menghargai kerja pemerintah kita sehingga akhirnya batik diakui oleh masyarakat internasional.

Sabtu, 22 Mei 2010

Tata Cara Pelaksanaan adat -8

BAB VI

TATA CARA ADAT

AMPANG

-Tata Acara dan Urutan Sistem Pernikahan Adat Na Gok
1. Mangarisika.

Adalah kunjungan utusan pria yang tidak resmi ke tempat wanita dalam rangka penjajakan. Jika pintu terbuka untuk mengadakan peminangan maka pihak orang tua pria memberikan tanda mau (tanda holong dan pihak wanita memberi tanda mata). Jenis barang-barang pemberian itu dapat berupa kain, cincin emas, dan lain-lain.
2. Marhori-hori Dinding/marhusip.

Pembicaraan antara kedua belah pihak yang melamar dan yang dilamar, terbatas dalam hubungan kerabat terdekat dan belum diketahui oleh umum.

3. Marhata Sinamot.

Pihak kerabat pria (dalam jumlah yang terbatas) datang oada kerabat wanita untuk melakukan marhata sinamot, membicarakan masalah uang jujur (tuhor).

4. Pudun Sauta.

Pihak kerabat pria tanpa hula-hula mengantarkan wadah sumpit berisi nasi dan lauk pauknya (ternak yang sudah disembelih) yang diterima oleh pihak parboru dan setelah makan bersama dilanjutkan dengan pembagian Jambar Juhut (daging) kepada anggota kerabat, yang terdiri dari :

A.Kerabat marga ibu (hula-hula)

B.Kerabat marga ayah (dongan tubu)

C.Anggota marga menantu (boru)

D.Pengetuai (orang-orang tua)/pariban, Diakhir kegiatan Pudun Saut maka pihak keluarga wanita dan pria bersepakat menentukan waktu Martumpol dan Pamasu-masuon.

5. Martumpol (baca : martuppol).

Penanda-tanganan persetujuan pernikahan oleh orang tua kedua belah pihak atas rencana perkawinan anak-anak mereka dihadapan pejabat gerejab.. Tata cara Partumpolon dilaksanakan oleh pejabat gereja sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tindak lanjut Partumpolon adalah pejabat gereja mewartakan rencana pernikahan dari kedua mempelai melalui warta jemaat, yang di HKBP disebut dengan Tingting (baca : tikting). Tingting ini harus dilakukan dua kali hari minggu berturut-turut. Apabila setelah dua kali tingting tidak ada gugatan dari pihak lain baru dapat dilanjutkan dengan pemberkatan nikah (pamasu-masuon).

6. Martonggo Raja atau Maria Raja.

Adalah suatu kegiatan pra pesta/acara yang bersifat seremonial yang mutlak diselenggarakan oleh penyelenggara pesta/acara yang bertujuan untuk :

A. Mempersiapkan kepentingan pesta/acara yang bersifat teknis dan non teknisb..

B. Pemberitahuan pada masyarakat bahwa pada waktu yang telah ditentukan ada pesta/acara pernikahan dan berkenaan dengan itu agar pihak lain tidak mengadakan pesta/acara dalam waktu yang bersamaan.
C. Memohon izin pada masyarakat sekitar terutama dongan sahuta atau penggunaan fasilitas umum pada pesta yang telah direncanakan.
7. Manjalo Pasu-pasu Parbagason (Pemberkatan Pernikahan).
A. Pengesahan pernikahan kedua mempelai menurut tatacara gereja (pemberkatan pernikahan oleh pejabat gereja).

B. Setelah pemberkatan pernikahan selesai maka kedua mempelai sudah sah sebagai suami-istri menurut gereja.

C.Setelah selesai seluruh acara pamasu-masuon, kedua belah pihak yang turut serta dalam acara pamasu-masuon maupun yang tidak pergi menuju tempat kediaman orang tua/kerabat orang tua wanita untuk mengadakan pesta unjuk

D.Pesta unjuk oleh kerabat pria disebut Pesta Mangalap parumaen (baca : parmaen)

8. Pesta Unjuk.

Suatu acara perayaan yang bersifat sukacita atas pernikahan putra dan putri.

Ciri pesta sukacita ialah berbagi jambar :

[a]. Jambar yang dibagi-bagikan untuk kerabat parboru adalah jambar juhut (daging) dan jambar uang (tuhor ni boru) dibagi menurut peraturan.

.Jambar yang dibagi-bagikan bagi kerabat paranak adalah dengke (baca : dekke) dan ulos yang dibagi menurut peraturan. Pesta Unjuk ini diakhiri dengan membawa pulang pengantin ke rumah paranak.
9. Mangihut di ampang (dialap jual).

Yaitu mempelai wanita dibawa ke tempat mempelai pria yang dielu-elukan kerabat pria dengan mengiringi jual berisi makanan bertutup ulos yang disediakan oleh pihak kerabat pria.

10. Ditaruhon Jual.

Jika pesta untuk pernikahan itu dilakukan di rumah mempelai pria, maka mempelai wanita dibolehkan pulang ke tempat orang tuanya untuk kemudian diantar lagi oleh para namborunya ke tempat namborunya. Dalam hal ini paranak wajib memberikan upa manaru (upah mengantar), sedang dalam dialap jual upa manaru tidak dikenal.
11. Paranak makan bersama di tempat kediaman si Pria (Daulat ni si Panganon)


A. Setibanya pengantin wanita beserta rombongan di rumah pengantin pria, maka diadakanlah acara makan bersama dengan seluruh undangan yang masih berkenan ikut ke rumah pengantin pria.
B. Makanan yang dimakan adalah makanan yang dibawa oleh pihak parboru
12. Paulak Une.


A. Setelah satu, tiga, lima atau tujuh hari si wanita tinggal bersama dengan suaminya, maka paranak, minimum pengantin pria bersama istrinya pergi ke rumah mertuanya untuk menyatakan terima kasih atas berjalannya acara pernikahan dengan baik, terutama keadaan baik pengantin wanita pada masa gadisnya (acara ini lebih bersifat aspek hukum berkaitan dengan kesucian si wanita sampai ia masuk di dalam pernikahan).

B. Setelah selesai acara paulak une, paranak kembali ke kampung halamannya/rumahnya dan selanjutnya memulai hidup baru.

13. Manjahe.

Setelah beberapa lama pengantin pria dan wanita menjalani hidup berumah tangga (kalau pria tersebut bukan anak bungsu), maka ia akan dipajae, yaitu dipisah rumah (tempat tinggal) dan mata pencarian.
14. Maningkir Tangga (baca : manikkir tangga)


A. Beberapa lama setelah pengantin pria dan wanita berumah tangga terutama setelah berdiri sendiri (rumah dan mata pencariannya telah dipisah dari orang tua si laki-laki) maka datanglah berkunjung parboru kepada paranak dengan maksud maningkir tangga (yang dimaksud dengan tangga disini adalah rumah tangga pengantin baru).
B. Dalam kunjungan ini parboru juga membawa makanan (nasi dan lauk pauk, dengke sitio tio dan dengke simundur-mundur).Dengan selesainya kunjungan maningkir tangga ini maka selesailah rangkaian pernikahan adat na gok.

(bersambung-9)

Jumat, 26 Maret 2010

Akhirnya Tugu Raja Toga Laut di resmikan !

Setelah beberapa lama pembangunan tugu sempat berhenti sehubungan dengan kesibukan-kesibukan yang tidak terelakkan dari pengurus di Jakarta terutama ketua pembangunan yaitu Bapak Bolden Pardede. Keberhasilan dari Pembangunan tidak terlepas dari keseriusan beliau disamping pengurus yang berada di bona pasogit /Balige.
Ada keistemewaan lokasi pembangunan tugu tersebut dimana berdiri dua Tugu dua marga dengan latar belakang yang berbeda dan era yang berbeda pula, ditanah marga Pardede yang tidak terlepas dari sejarah perjuangan/pengorbanan Indonesia khususnya Batak toba :
1- Raja Toga Laut Pardede adalah penguasa lokasi tersebut yang namanya Lumban Jabijabi,
Lumban ini pernah melahirkan seorang tokoh yang cukup dikenal baik di Indonesia bahkan di eropah yang bernama Guru Somalaing Pardede di eropah namanya Guru Somalaing Aji Pardede sebagai toko spritual Batak disamping pejuang penasehat dan panglima Sisingamangaraja XII.
2- Mayor Jenderal Anumerta D.I. Panjaitan (1925-1965).


Jenderal kelahiran Balige, Tapanuli yang bernama lengkap Donald Isac Panjaitan, ini masuk militer pada jaman pendudukan Jepang. Setelah lebih dulu mengikuti latihan Gyugun, ia selanjutnya ditugaskan di Gyugun Pekanbaru, Riau. Setelah kemerdekaan RI, ia merupakan salah seorang pembentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Keberhasilan Mayor Jenderal Anumerta D.I. Panjaitan membongkar rahasia kiriman senjata dari Republik Rakyat Cina (RRC) untuk Partai Komunis Indonesia (PKI) serta penolakannya terhadap rencana PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri atas buruh dan tani, membuat dirinya masuk daftar salah satu perwira Angkatan Darat yang dimusuhi oleh PKI. Kebencian PKI itu kemudian berujung pada aksi penculikan serta pembunuhan dirinya saat pemberontakan Gerakan 30 September 1965.
Memang diakui letak lokasi Tugu berada di pusat kota dan strategis, oleh karenanya Belada pra kemerdekaan menguasai dengan paksa perkampungan Raja Toga Laut dan didirikan pusat kegiatan Belanda, hingga kemerdekaan.
Dengan Berkat Tuhan Yang Maha Esa akhirnya pendirian Tugu Raja Toga Laut boleh dikatakan selesai yang di putuskan oleh Panitia pesta peresmian Tugu yang diketuai oleh saudara Samson Pardede dan seketaris Sahala Pardede dilaksanakan pada tanggal 23 dan 24 Juni 2010 di Lumban Jabijabi Balige.
Bagi keturunan Raja Toga Laut yang ingin mendapat kan Informasi lengkapa dapat menghubungi seketariat panitia Pesta an Sahala Pardede HP: 0812-6443-0133 dengan alamat Losmen Toga Laut Tawar Balige, atau Bapak Bolden Pardede di Jakarta .

Kamis, 11 Februari 2010

Misteri Sisingamangaraja XII

Surat Sisingamangaraja ke Hatorusan

clip_image002 clip_image004

Surat menyurat antara dua kerajaan Batak, yakni Kerajaan Sisingamangaraja (Ada 12 Dinasti) dengan Kerajaan Batak lainnya, yakni Kerajaan Maritim Batak, yakni Kerajaan Hatorusan sering berlangsung sejak dahulu kala.
Kedua kerajaan ini memadukan kekhasan filosofi dan kekayaan kebudayaan batak. Dinasti Hatorusan dengan pendirinya Raja Uti dianggap sebagai tokoh spiritual dalam agama Sisingamaraja, Parmalim.
Di Barus sendiri, terdapat dua kerajaan Batak yang saling mendukung satu sama lainnya. Yang pertama, Kesultanan Dinasti Pardosi yang menjadi penguasa di Barus Hulu dan Kesultanan Dinasti Hatorusan (Pasaribu) yang menjadi penguasa di Hilir.
Sebuah surat, yang pernah terekam, dikirim oleh pihak dinasti SM Raja ke dinasti Hatorusan (Tuanku di Ilir) sebagai sebuah protes mengenai kedekatan pihak Hatorusan dengan pihak Belanda (Eropa) yang saat itu diyakini akan membawa malapetaka. Sebuah keyakinan yang terwujud dengan penjajahan Belanda di tanah Batak.
Gambar di atas merupakan, stempel kerajaan di atas surat yang dikirim pihak Sisingamangaraja ke Hatorusan. Uli Kozok menuliskannya dalam tulisannya: The Seals of The Last Sisingamangaraja. Surat tersebut dikirim pada tahun 1887.
Untuk lebih lengkapnya surat tersebut dapat di lihat di : Perpustakaan Nasional RI, di Jakarta, No. Vt. 158b.
Stempel yang sama juga pernah dikirimkan pihak Belanda di Padang Panjang. Dimana Sisingamangaraja mengumumkan bahwa dia sudah mengirim utusannya ke pihak Gubernur Jenderal Belanda di Batavia. Surat tersebut pernah dicetak kembali dan diterjemahkan dalam Lumbantobing (1967: 103)

Keristen, Parmalim atau Islam Sisingamangaraja XII

clip_image006

Selama ini banyak kontroversi yang muncul di masyarakat tentang agama yang dianut Sisingamangaraja XII.Ada yang mengatakan beragama Kristen, Islam, bahkan tidak sedikit yang menyebut beragama Parmalin.

Menurut sebagian orang, Parmalin merupakan agama aslinya orang Batak Menurut peneliti sejarah dari University of Hawaii, Minoa, Amerika Prof Uli Kozok, Raja Sisingamangaraja XII bukan beragama Islam, Kristen, maupun Parmalin, melainkan beragama Batak asli. “Dia bukan Kristen, Islam, atau Parmalin. Agama aslinya orang-orang Batak ada khusus, bukan Parmalin.

Kalau Parmalin campuran Islam dan Kristen”, papar Uli di Medan kemarin. Ketika agama Parmalin berkembang di Tanah Batak, Sisingamangaraja XII sendiri sudah berada di Dairi dalam pengungsian menghindari serbuan-serbuan tentara Belanda. “Jadi agama Sisingamangaraja XII adalah Batak asli yang usianya jauh lebih tua dari agama Parmalin”, bebernya.

Pada bagian lain peneliti senior ini menjelaskan, dalam melakukan komunikasi dengan pihak luar melalui surat, Sisingamangaraja XII ternyata menggunakan tiga jenis stempel berbeda. Hal itu diketahui dari cap yang dibubuhkan pada surat-suratnya yang ditujukan ke Pemerintah Belanda maupun Zending Kristen IL Nomensen. “Sisingamangaraja XII telah melakukan tiga kali percobaan dalam pembuatan stempel untuk berhubungan dengan pihak lain. Stempel yang ketiga bentuknya lebih baik dan sempurna dari dua stempel sebelumnya,” kata Uli Kozok. Ada empat surat Sisingamangaraja XII yang saat ini sedang dia teliti, tiga surat ditujukan kepada Zending Kristen IL Nomensen dan satu surat ditujukan kepada Pemerintah Hindia Belanda.

IL Nomensen sebenarnya sangat tidak suka terhadap Sisingamangaraja XII karena sangat menentang kehadirannya di tanah Batak. Bahkan IL Nomensen pernah mengatakan musuh abadi Pemerintah Belanda dan Zending Kristen adalah Sisingamangaraja XII. “Nommensen pula yang memanggil tentara Belanda agar masuk ke tanah Batak dengan menggunakan pasukan yang terdiri atas orangorang Jawa, Manado, dan Maluku.

Saat ini keempat surat-surat asli Sisingamangaraja XII tersebut masih tersimpan dengan cukup baik di Wuppertal Jerman,”ujarnya. Justru paling menarik di stempel dan isi surat itu, kata Uli, Sisingamangaraja XII tidak menggunakan aksara Batak Toba, sebagai daerah asalnya. Namun,sudah menggunakan campuran aksara Batak Mandailing Angkola, Arab Melayu, dan huruf kawi. Itu membuktikan campuran budaya sudah masuk pada masa itu. Selain itu, Sisingamangaraja XII sebenarnya tidak mengenal huruf dan tulisan. Untuk itu, digunakan dua orang juru tulis dalam persoalan surat- menyurat, yakni Heman Silaban dan Manse Simorangkir.  Kedua juru tulisnya tersebut merupakan alumni Zending IL Nomensen yang kemudian berbelok arah memihak Sisingamangaraja karena tidak lulus dalam ujian menjadi guru.

Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial Unimed Ichwan Azhari mengatakan, masih banyak misteri yang masih perlu diteliti lebih jauh tentang Sisingamangaraja XII, baik tentang hidupnya, surat-suratnya, maupun agamanya. Tentang kematiannya juga masih menjadi misteri. Kalau benar Sisingamangaraja XII di tembak mati oleh serdadu Belanda bernama Christopel, kenapa dia tidak naik pangkat seperti layaknya pasukan-pasukan Belanda lainnya yang berhasil mematahkan perlawanan-perlawanan musuh. “Begitu juga dengan surat-suratnya yang sudah berusia lebih dari 100 tahun. Kita tidak mengetahui apa sebenarnya isinya. Semua ini masih menjadi tanda tanya di kalangan sejarawan”, ujarnya.

Rabu, 27 Januari 2010

Sudahkah tepat Demokrasi yang kita anut - 2

B. Torehan Kolonial
Negara Indonesia secara yuridis memang baru berdiri pada tanggal 17 Agustus 1945. Dengan demikian, jika berbicara demokrasi Indonesia mustinya dibicarakan sejak Indonesia merdeka tersebut. Akan tetapi dalam perspektif waktu, kehadiran Republik Indonesia sesungguhnya melalui proses yang panjang, terutama masa Kolonial. Jika demokrasi dipandang sebagai pagam yang anti otokrasi, maka sesungguhnya demokrasi memiliki akar juga di masa Kolonial. Untuk itu sebagai kajian historis, perlu kiranya dilacak akar-akar demokrasi yang pernah diciptakan pada masa kolonial.
Negara Kolonial (Hindia Belanda) sesungguhnya bukan sebuah negara demokrasi. Akan tetapi di negeri induknya dijalankan sistem pemerintahan demokrasi. Ide-ide demokrasi berpengaruh terhadap pemikiran para pejabat kolonial, sehingga banyak muncul pemikiran untuk mengubah tatanan pemerintahan yang dianggapnya sebagai “feudal”. Percobaan demokrasi di Indonesia pada masa Kolonial dimulai dari tingkat desa. Ini sangat menarik untuk dicermati karena banyak pengamat yang mengatakan bahwa demokrasi merupakan sistem yang asli di Indonesia, terutama di tingkat desa.
Pertanyaannya mengapa ujicoba demokrasi dimulai dari desa?
Jan Breman (1979) mengemukakan bahwa paham yang mengatakan bahwa desa-desa di Jawa yang dikatakan sebagai desa demokratis sesungguhnya konstruksi kolonial. Desa-desa yang dikatakan “asli”, sebelum mendapat sentuhan Kolonial adalah kepanjangan tangan atau bagian dari sistem feudal yang lebih tinggi dalam tatanan masyarakat Jawa. Hal ini sesuai dengan temuan Wasino (2008) yang membuktikan bahwa di wilayah pusat kekuasaan Jawa, Surakarta tidak ada pemilihan kepala desa hingga awal kemerdekaan. Desa-desa di wilayah tersebut merupakan desa-desa yang terlambat menerima pengaruh Kolonialisme.
Menurut Schiecke (1929) desa-desa di Jawa bukanlah sebuah rumah tangga tertutup yang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Desa-desa itu sesungguhnya bagian dari struktur dualistik dari sistem kerajaan Jawa yang mendasarkan diri pada pembagian wilayah terdiri dari lingkungan keraton dan desa. Kepala desa merupakan penghubung antara petani dengan administrasi kerajaan. Situasi ini berlangsung sejak abad ke-7 hingga abad ke -18. Kepala-kepala desa diangkat berdasarkan keturunan, dan yang masih dianggap setia kepada administrasi kerajaan. Sejak abad XIX, Pemerintah Kolonial Belanda secara`resmi berkuasa atas wilayah Jawa. Sejak itu ada pemikiran bagaimana menguasai pemerintahan hingga tingkat desa agar dapat digunakan sebagai pendukung kebijakan-kebijakan Kolonial.
Salah satu caranya adalah memangkas hubungan feodal masyarakat Jawa dengan cara memperkuat institusi desa. Daendels pada tahun 1809 mulai memperkenalkan sebuah sistem pemungutan suara pada tingkat paling bawah. Di Cirebon, yang termasuk dalam wilayah Priangan di desa-desa yang lebih besar diangkat dua orang kepala ( Kuwu atau mantri dan dan prenta atau pretinggi). Sementara itu pada desa-desa yang lebih kecil hanya diangkat seorang parenta atau lurah. Dukuh-dukuh yang kurang dari enam keluarga digabungkan ke desa terdekat dan penduduknya dipaksa pindah ke sana. Tradisi pemilihan kepala desa yang dibuat di Cirebon awal abad XIX itu berkembang di kebanyakan desa-desa yang dikuasi secara langsung oleh Pemerintah Kolonial Belanda, misalnya di Pati di Jawa Tengah (Husken,1998).
Tradisi pemilihan kepala desa itu yang kini berlanjt dan dikenal sebagai demokrasi desa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa demokrasi yang menjadi ikon masyarakat desa pada saat ini asal-usulnya adalah sebuah konstruksi Kolonial.
Pada level nasional, awal mula berkembangnya gagasan dan konsep demokrasi di Indonesia tidak dapat dilepaskan dengan perkembangan situasi sosial politik masa kolonial pada tahun-tahun pertama abad ke-20 yang ditandai dengan beberapa perkembangan penting: Pertama, mulai terbuka terhadap arus informasi politik di tingkat global. Kedua, “migrasi” para para aktifis politik berhaluan radikal Belanda, umumnya mereka adalah para buangan politik, ke Hindia Belanda. Di wilayah yang baru ini mereka banyak memperkenalkan ide-ide dan gagasan politik modern kepada para pemuda bumiputera. Dapat dicatat disini para “migran politik’ tersebut antara lain; Bergsma, Baars, Sneevliet, dan beberapa yang lain. Ketiga, transformasi pendidikan di kalangan masyarakat pribumi (van Niel,1984).
Pemikiran tentang demokrasi mengelora di sejumlah aktivis pergerakan. Maka terbentuklah organisasi-organisasi yang berhaluan politik untuk menyuarakan suara rakyat di dalam sebuah sistem Kolonial. Suara-suara itu ada yang disalurkan melalui parlemen dan ada yang di di luar parlemen Hindia Belanda yang dikenal sebagai Volksraad atau Dewan Rakyat. Banyak anggota partai politik yang tidak bersedia duduk dalam parlemen Hindia Belanda itu, seperti para aktivis PNI, ISDV, NIP, dan sebagainya. Mereka dikenal sebagai kaum nasionalis radikal. Akan tetapi banyak juga, yang dikenal sebagai kaum nasionalis moderat yang bersedia duduk di Parlemen untuk memperjuangkan nasib rakyat Indonesia dalam lembaga demokrasi bentukan Belanda itu (Budi Utomo, 1995).
Saya kira perlu dikemukakan secara khusus tentang lembaga yang dinamakan Volsraad ini karena merupakan tempat berlatih demokrasi prosedural pasca Indonesia merdeka. Lemabaga ini d ibentuk sebagai dampak gerakan nasional serta perubahan yang mendasar di seluruh dunia dengan selesainya Perang Dunia I (1914-1918).
Volksraad dibentuk pada tanggal 16 Desember 1916 (Ind. Stb. No. 114 Tahun 1917) dengan dilakukannya penambahan bab baru yaitu Bab X dalam Regeerings Reglement 1914 yang mengatur tentang pembentukan Volksraad. Pembentukan tersebut baru terlaksana pada tahun 1918 oleh Gubernur Jeneral Mr. Graaf van Limburg Stirum.
Volksraad sebagai sebuah lembaga dalam konteks Indonesia sebagai wilayah jajahan pada saat itu memang hanya merupakan basa basi politik pemerintahan kolonial.
Lewat pemilihan yang bertingkat-tingkat dan berbelit, komposisi keanggotaan Volksraad pada mulanya tidak begitu simpatik.
Pemilihan orang untuk mengisi jabatan Volksraad diawali dengan pembentukan berbagai “Dewan Kabupaten” dan “Haminte Kota”, di mana setiap 500 orang Indonesia berhak memilih “Wali Pemilih” (Keesman). Kemudian Wali Pemilih inilah yang berhak memilih sebagian anggota Dewan Kabupaten. Kemudian setiap provinsi mempunyai “Dewan Provinsi”, yang sebagian anggotanya dipilih oleh Dewan Kabupaten dan Haminte Kota di wilayah provinsi tersebut. Sebagian besar anggota Dewan Provinsi yang umumnya dari bangsa Belanda, diangkat oleh Gubenur Jenderal. Susunan dan komposisi Volksraad yang pertama (1918) beranggotakan 39 orang (termasuk ketua), dengan perimbangan:
1. Dari jumlah 39 anggota Volksraad, orang Indonesia Asli melalui “Wali Pemilih” dari “Dewan Provinsi” berjumlah 15 anggota (10 orang dipilih oleh “Wali Pemilih” dan 5 orang diangkat oleh Gubernur Jenderal)
2. Jumlah terbesar, atau 23 orang, anggota Volksraad mewakili golongan Eropa dan golongan Timur Asing, melalui pemilihan dan pengangkatan oleh Gubernur Jenderal (9 orang dipilih dan 14 orang diangkat).
3. Adapun orang yang menjabat sebagai ketua Volksraad bukan dipilih oleh dan dari anggota Volksraad sendiri, melainkan diangkat oleh mahkota Nederland (Marbun, 1992).
Kebanyakan anggota Volksraad berasal dari dewan-dewan Kota Praja dan keresidenan, dan sebagian lagi diangkat oleh gubernur jenderal. Ketika itu telah terpilih 10 dari 15 orang bumiputra yang dicalonkan. Sutherland menyebutkan bahwa ada empat orang bupati yang menjadi anggota dewan rakyat saat pembentukannya, yaitu: Koesoemo Oetojo, Djajadiningrat, Koesoemojoedo dan Soejono. Sutherland (1983:178).
Dalam perkembangannya, Volksraad mengalami peubahan jumlah anggota.
Pada tahu 1927, lembaga ini terdiri dari seorang ketua yang diangkat oleh raja Belanda dengan anggota 55 orang. Ketika itu anggota dari kalangan bumiputra hanya 25 orang. Pada tahun 1930, Volksraad terdiri dari 1 orang ketua, dan 60 orang anggota. Anggota Volksraad dari kalangan bumiputra sebanyak 30 orang.
Setelah banyak orang Indonesia yang berpengalaman dalam dewan rakyat, maka muncul beberapa usul anggota untuk mengubah susunan dan pengangkatan Volksraad ini agar dapat dijadikan tahap menuju Indonesia merdeka, namun selalu ditolak. Salah satunya adalah “Petisi Sutardjo” pada tahun 1935 yang berisi "permohonan kepada Pemerintah Belanda agar diadakan pembicaraan bersama antara Indonesia dan Berlanda dalam suatu perundingan mengenai nasib Indonesia di masa yang akan datang", atau Gerakan Indonesia Berparlemen dari Gabungan Politik Indonesia. Petisi ini juga ditolak pemerintah kolonial Belanda.

C. Demokrasi Parlementer/ Liberal
Setelah Hindia Belanda berada di bawah pendudukan Jepang, lembaga Volksraad dibubarkan. Sistem pemerintahan menjadi sistem pemerintahan militer, sehingga demokrasi sama sekali mengalami kemandegan. Kondisi ini baru mengalami perubahan berarti setelah Indonesia merdeka.
Momentum historis perkembangan demokrasi setelah kemerdekaan di tandai dengan keluarnya Maklumat No. X pada 3 November 1945 yang ditandatangani oleh Hatta. Dalam maklumat ini dinyatakan perlunya berdirinya partai-partai politik sebagai bagian dari demokrasi, serta rencana pemerintah menyelenggarakan pemilu pada Januari 1946. Maklumat Hatta berdampak sangat luas, melegitimasi partai-partai politik yang telah terbentuk sebelumnya dan mendorong terus lahirnya partai-partai politik baru. Pada tahun 1953 Kabinet Wilopo berhasil menyelesaikan regulasi pemilu dengan ditetapkannya UU No. 7 tahun 1953 Pemilu. Pemilu multipartai secara nasional disepakati dilaksanakan pada 29 September 1955 (untuk pemilhan parlemen) dan 15 Desember 1955 (untuk pemilihan anggota konstituante).
Pemilihan Umum Indonesia 1955 adalah pemilihan umum pertama di Indonesia dan diadakan pada tahun 1955. Pemilu ini sering dikatakan sebagai pemilu Indonesia yang paling demokratis. Pemilu tahun 1955 ini dilaksanakan saat keamanan negara masih kurang kondusif; beberapa daerah dirundung kekacauan oleh DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) khususnya pimpinan Kartosuwiryo. Dalam keadaan seperti ini, anggota angkatan bersenjata dan polisi juga memilih. Mereka yang bertugas di daerah rawan digilir datang ke tempat pemilihan. Pemilu akhirnya pun berlangsung aman.
Pemilu ini bertujuan untuk memilih anggota-anggota DPR dan Konstituante. Jumlah kursi DPR yang diperebutkan berjumlah 260, sedangkan kursi Konstituante berjumlah 520 (dua kali lipat kursi DPR) ditambah 14 wakil golongan minoritas yang diangkat pemerintah. Pemilu ini dipersiapkan di bawah pemerintahan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo. Namun, Ali Sastroamidjojo mengundurkan diri dan pada saat pemungutan suara, kepala pemerintahan telah dipegang oleh Perdana Menteri Burhanuddin Harahap. Sesuai tujuannya, Pemilu 1955 ini dibagi menjadi dua tahap, yaitu:
Tahap pertama adalah Pemilu untuk memilih anggota DPR. Tahap ini
diselenggarakan pada tanggal 29 September 1955, dan diikuti oleh 29 partai politik dan individu,
Tahap kedua adalah Pemilu untuk memilih anggota Konstituante. Tahap ini diselenggarakan pada tanggal 15 Desember 1955.
Lima besar dalam Pemilu ini adalah Partai Nasional Indonesia mendapatkan 57 kursi DPR dan 119 kursi Konstituante (22,3 persen), Masyumi 57 kursi DPR dan 112 kursi Konstituante (20,9 persen), Nahdlatul Ulama 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante (18,4 persen), Partai Komunis Indonesia 39 kursi DPR dan 80 kursi Konstituante (16,4 persen), dan Partai Syarikat Islam Indonesia (2,89 persen). Partaipartai lainnya, mendapat kursi di bawah 10. Seperti PSII (8), Parkindo (8), Partai Katolik (6), Partai Sosialis Indonesia (5). Dua partai mendapat 4 kursi (IPKI dan Perti). Enam partai mendapat 2 kursi (PRN, Partai Buruh, GPPS, PRI, PPPRI, dan Partai Murba). Sisanya, 12 partai, mendapat 1 kursi (Baperki, PIR Wongsonegoro, PIR Hazairin, Gerina, Permai, Partai Persatuan Dayak, PPTI, AKUI, PRD, ACOMA dan R. Soedjono Prawirosoedarso.
Pemilu pertama nasional di Indonesia ini dinilai berbagai kalangan sebagai proses politik yang mendekati kriteria demokratis, sebab selain jumlah parpol tidak dibatasi, berlangsung dengan langsung umum bebas rahasia (luber), serta mencerminkan pluralisme dan representativness. Fragmentasi politik yang kuat berdampak kepada ketidakefektifan kinerja parlemen hasil pemilu 1955 dan pemerintahan yang dibentuknya. Parlemen baru ini tidak mampu memberikan terobosan bagi pembentukan pemerintahan yang kuat dan stabil, tetapi justru mengulangi kembali fenomena politik sebelumnya, yakni “gonta-ganti” pemerintahan dalam waktu yang relatif pendek.
Ketidakefektifan kinerja parlemen memperkencang serangan-serangan yang mendelegitimasi parlemen dan partai-partai politik pada umumnya. Banyak kritikan dan kecaman muncul, bahkan tidak hanya dilontarkan tokoh-tokoh “anti demokrasi”.
Hatta dan Syahrir menuduh para politisi dan pimpinan partai-partai politik sebagai orang yang memperjuangkan kepentingannya sendiri dan keuntungan kelompoknya, bukan mengedepankan kepentingan rakyat. Namun begitu, mereka tidak menjadikan demokrasi parlementer sebagai biang keladi kebobrokan dan kemandegan politik. Hal ini berbeda dengan Soekarno yang menempatkan demokrasi parlementer atau demokrasi liberal sebagai sasaran tembak. Soekarno lebih mengkritik pada sistemnya.
Kebobrokan demokrasi liberal yang sedang diterapkan, dalam penilaian Soekarno, merupakan penyebab utama kekisruhan politik. Maka, yang paling mendesak untuk keluar dari krisis politik tersebut adalah “mengubur” demokrasi liberal yang dalam pandangannya tidak cocok untuk dipraktikkan di Indonesia. Akhirnya, Soekarno menyatakan demokrasi parlementer tidak dapat digunakan untuk revolusi, “parliamentary democracy is not good for revolution”.
Pemilu 1955 tidak dilanjutkan sesuai jadwal pada lima tahun berikutnya, 1960.
Hal ini dikarenakan pada 5 Juli 1959, dikeluarkan Dekrit Presiden yang membubarkan Konstituante dan pernyataan kembali ke UUD 1945

Bersambung ….

Barus 1000 tahu yang lalu

PELETAKAN BATU PERTAMA PEMBANGUNAN TUGU RAJA TOGA LAUT PARDEDE DI LUMBAN JABI-JABI - BALIGE

Setelah terbentuknya panitia pembangunan Tugu Raja Toga Laut Pardede di Jakarta oleh beberapa keturunan Raja toga Laut Pardede yang berdomisili di jakarta sekitarnya (sejabodetabek)
maka diputuskanlah agar semua keturunan Raja Toga Laut Pardede ikut serta dalam Napak tilas show force keliling kota Balige pada tanggal 18 Agustus 2007, dengan rute dimulai Losmen Toga Laut Tawar, Tugu Naga Baling, Makam Raja Bona Ni Onan Pardede & Raja Paindoan Pardede dan ber akhir di Lumban Jabi-jabi / Tugu Raja Toga Laut Pardede, yang kemudian dengan kata-kata sambutan, oleh Tokoh-tokoh Sonak malela dll.