Senin, 28 November 2011

Riwayat Pulau Sumatera-N.Venn Snelspersdrukkerij Insulinde

Tambo Raja-Raja Mandailing - Oleh Dja Endar Moeda


Adapoen jang dinamai Mandailing itoe, adalah terbahagi atas doea bahagian: pertama Groot Mandailing dan Patang Natal: kedoea Klein Mandailing Oeloe dan Pakantan. Djoega radja radja pada kedoea loehak itoe berbahagi atas doea soekoe; jaitoe, radja radja Mandailing Besar bersoekoe “Nasoetion”, (nasaktion): ertinja soekoe kiramat, di Mandailing ketjil ialah soekoe (Loebis), maka nama soekoe loebis itoe, jang diambilnja dari pada nama sesaorang orang Poelau Soeloe namanja Si Angin Boegis, klak akan datang bitjaranja.


Sekarang soedah 17 soendoet orang, telah laloe, adalah kedapatan diloehak Mandailing ini, doea radja yang termasjhoer; pertama Soetan Perampoen di Padang Garoegoer; kedoea Soetan Poeloengan di Oeta Bargot.

Alkesah terseboetlah soeatoe riwajat, pada soetoe hari, pergilah Soetan Poeloengan radja Oeta Bargot jang terseboet berboeroe roesa, dengan beberapa pengiringnja. Takdir Allah menjalaklah andjingnja, jang bernama Sampaga-Toea, maka bereboetlah segala pengiringnja mengedjar perboeroean itoe, tiba tiba dilihat merikaitoe kiranja saorang anak laki-laki jang disalak andjing itoe, terletak diatas batoe, jang diboengkoes dengan kain soetera pelangi, dibawah sepoehoen kajoe beringin. Maka anak itoepoen diambil oranglah dan dibawak kepada Soetan Poeloengan, selaloe dibawak poelang ke kampoeng dan diberikan kepada saorang boedak perampoean namanja Saoewa, maka dipiaranjalah anak itoe dengan sepertinja.

Kata setengah riwajat, sebab si Saoewa tiada mempoenjai ajer soesoe, maka di soesoekannjalah anak itoe kepada saekor ……. jang sedang menjoesoekan anaknja, tempat itoe di namai (baoeroar), sebab itoelah anak itoe dinamai Nabaoeroar, tetapi setengah riwajat Nabaoeroar itoe diambil dari pada nama saorang laki laki jang didjadikan pengasoehnja anak itoe, maka Nabaoeroarpoen semakin hari semakin besar.

Kata sehiboelhikajat, Soetan Poeloengan ada mempoenjai saorang anak laki laki jang sama besar dan seroepa dengan Nabaoeroar, baq pinang dibelah doea, sebab itoelah atjap kali orang kampoeng dan hamba hambanja, sesat memberi hormat dan memberi makan, oleh kerena itoelah mendatangkan tjimboeroe kepada Soetan Poeloengan dan isterinja.
Hatta pada soeatoe hari, waktoe Soetan Poeloengan hendak menegakkan astana, maka diparentahkanja, soepaja Nabaoeroar dijadikan alas tiang di bosoer (tiang toea) astana itoe, dan diberi bertanda dengan tjoreng sadah dikenang Nabaoeroar. Takdir Allah anak Soetan Poeloengan menjoreng keningnja poela dengan sadah, seperti tjoreng kening Nabaoeroar.

Setelah Si Saoewa mendengar chabar behasa Nabaoeroar akan didjadikan alas tiang toea astana, maka dengan segira dibawaknja lari anak itoe dan bersemboeni pada seboeah dangau sawah jang tinggal, jang soedah dipaloet oleh akar-akar. Djadi ditangkap oranglan anak Soetan Poeloengan sselaloe dialaskannjalah ke tapakan tiang astanah roemah gedang, hingga mati.

Waktoe hendak makan, riboetlah orang mentjahari anak Soetan Poeloengan itoe, maka tetekala ketahoean bahoea jang dialaskan itoe anak Soetan Poeloengan, maka orang tjarilah Nabaoeroar, tetekala merikaitoe sampai hampir dengau tadi, maka barboenilah boeroeng ketitiran diboeboengan dengan dangau itoe, djadi pada persangkaan orang itoe, tentoe tiada orang disitoe, bila beorang, njatalah ketitiran itoe, tiada berani hinggap di sitoe, maka kembalilah merikaitoe, sebab itoelah segala ketoeroenan Nabaoeroar marsabang (berpantang) makan boeroeng ketitiran, sampai kepada masa ini.
Sjahdan nabaoeroarpoen dibawak lari oleh si Saoewah ke seberang Aek Gadang (Batang Gadis) sehingga damai poroemahan itoe “parbagasan babiat soboeon”, itoelah tempat peroemahan astana Panjaboengan Tonga jang sekarang.Tjerita ini dipendekkan sahadja, kerena banjak dalamnja tjerita jang tiada kena oleh akal, apa lagi penoelis bermaksoed sekedar bergoena boeat taal-land-en volkenkunde sadja.

Di sitoelah Nabaoeroar di gelar Soetan di Aroe, dan meradjai doea kampoeng jang dinamai anak ni Dolok anak ni Lombang.Tempat itoelah pertengahan pada segenapo kampoeng jang berkoeliling disana, maka orang perboeatlah tempat itoe, tempat perdjoedian saboeng ajam, sebab itoelah tempat itoe orang namakan Panjaboengan sampai kepada masa sekarang. Lama kelamaan tempat itoe, mendjadi ramai, dan lagi Soetan di Aroe, sangat ditjinta oleh anak boeah, kerena boedinja sangat baik, dan amat ditakoeti orang, sebab persangkaan orang Soetan di Aroe anak dewa.

Soenggoehpoen Soetan Poeloengan soedah tahoe,bahasa Nabaoeroar ada di Panjaboengan, tetapi ia tiada berani lagi, hanja berdendam sahadja didalam hatinja.
Apakah sebab Nabaoeroar seroepa dengan anak Soetan Poeloengan itoe? Soenggoehpoen penoelis memaaloemi hal itoe, akan tetapoi beratlah rasanja akan menerangkan itoe, melainkan terseboet didalam tambo, Nabaoeroar anak dari Iskander Sjah. Itoelah laksana hikajat Toeankoe, Pagar Roejoeng, jang asalnja dari boeah kerambil nioer gading jang di pandjat oleh Salamat Pandjang Gombak; dimanakah nioer gading itoe sekarang?

Maka oleh kerena saktinjalah Nabaoeroar itoe, diseboet orang soekoe Nasoetion.
Adapoen Soetan di Aroe itoe, mempoenjai saorang anak jang amat berbahagia ialah Baginda Mengaradja Enda, Baginda inilah jang mengembangkan dan memasjhoerkan keradjaan Panjaboengan.

Masa Baginda inilah Soetan Perampoean Padang Garoegoer dialahkan perang. Adapoen perang ini asalnja, dari saorang boedak Baginda bernama ompoe ni Mangaroeng terboenoeh di Loemban Koeajan (Soeroematinggi Ankola Djae) oleh Radja Bengkas, soedara dari Soetan Perampoean.

Dalam perang ini, adalah 4 radja radja serikat melawan Baginda; jaitoe, Padang Garoegoer, Soetan Mendeda, Oeta Bargot, Radja Goemanti Porang, Pidoli Dolok, Radja Sordang Nagori, Pidoli Lombang, lagi dibantoe saorang panglima jang amat bernai, Baroeang sodang-dangon, namanja, orang dari Moera Tais Ankola Djae.Pada peperangan ini, menanglah Baginda Mengaradja Enda, oleh kerena Baroeang Sodangdangon, panglima jang terseboet di atas berchianat, dan djoega oleh kerena kegagahan saorang poetera Baginda jang bernama Soetan Koemala Sang Jang di Partoean Radja Oeta Siantar.

Adapoen Soetan Koemala Sang Jang di Pertoean orang seboet anak dewa djoea, kerena boroe loebis Roboeran Dolok isteri jang pertama dari Baginda Mangaradja Enda, soedah toea, tetapi beloem berpoetera. Dengan takdir Allah hamilah permisoeri itoe dengan tiada di samai oleh Baginda, hal ini mendatangkan tjimboeroean baginja.Pada soeatoe malam diintai oleh Baginda pada astanah permaisoeri itoe, maka terlihatlah oleh Baginda datang soeatoe tjahaja merahapi kepada permaisoeri itoelah jang djadi bapak oleh Sang Jang di Pertoean.

Alkesah waktoe poetoes waris radja di Loemban Sibagoeri, didjepoet oranglah Sang Jang di Pertoean mendjadi radja di Loemban Sibagoeri, maka diantarlah ia kesana dengan segala adat kebesaran, sebab itoelah Loemban Sibagoeri ditoekar nama dengan Oeta Siantar, sebab radjanja, jang diantar kesana. Masa itoelah Mandailing besar terbahagi atas doea bahagian 1e; Mandailing Djoeloe, 2e Mandailing Djae; segala jang taaloek kepada Sang Jang di Pertoean dinamai Mandailing Djoeloe dan segala jang taaloek kepada Baginda Maharadja Enda dinamai Mandailing Djae, dan diwataskan di Batoe Gondit dan Ajoeara sidjoembe Porang.

Waktoe perang Padang Garoegoer soedah selesai, maka tjerai berailah segala radja jang 4 serikat itoe. Soetan Perampoean dan anak soedaranja Radja Iro Rongit Sigongonan lari ke Aiti (Tamoese). Fihak Maharadja Tinaja tinggal di Mompang, itoelah ketoeroenannja Kepala Koeria Aek na Ngali jang sekarang. Radja Goemanti Porang dan Sordang Nagori lari ke Rao, ketoeroenan itoelah Toeankoe Laras Sontang dan Tjoebadak, dan Soetan Mandeda tinggal di Oeta Bargot djoega, sekarang soedah djadi djadjahan Penjaboengan.Adapoen kepada koeria Pidolo, Goenoeng Toea, Baringin, Maga, Moeara Sama dan Moeara Perlampoengan ialah ke toeroenan Soetan Koemala Sang Jang di Pertoean Oeta Siantar.

Adapoen sekalian radja radja (kepala boemi poetera) di keresidinan Tapanoeli jang teroetama sekali, banjak berboeat bakti kepada daulat Gouvernement, ialah radja radja Mandailing, sebab menoeloeng Gouvernement waktoe perang paderi, dan beberapa jang ternama di dalam perang Bondjol dan Rao, seperti regent Radja Gadoembang, jang di Pertoean kota Siantar, Gegar Tengah Hari Limo Manis, d. l. l., apa lagi sampai sekarang amat bersetia dan berchadamat kepada Gouvernement.

Sedjak keradjaan Baginda Mangradja Enda dan Sang Jang di Pertoean, sampai sekarang, termasjhoerlah tanah Mandailing sampai kemana mana, hingga orang Batak, jang pergi merantau kemana mana menjeboetkan jang ia orang Mandailing djoea, sebab pada negeri lain lain, orang beloem kenal.

Kata sahib berita, pada masa keradjaan Madjopahit ditanah Djawa, adalah saorang Nachoda, orang dari Poelau Soeloe bernama si Angin Boegis berlajar ke Tanah Djawa, maka menjaboenglah nachoda itoe disana. Dalam perdjoedian menjaboeng ajam ini, ia selaloe kalah, hingga habis hartanja, tetapi pada soeatoe hari dapat oleh si Angin Boegis toeah ajam poesakanja, jang dinamakan “Idjo bingkoeang poetih boetan toekang Madjopahit”. Adapoen sebab dinamainja toeah ajam itoe boeatan toekang Madjopahit, sebab pada koetika ajam itoe diboeboeh orang, kedapatanlah padanja didjaitkan orang Madjopahit, bidji sawi hitam. Maka ajam si Angin Boegis inipoen menang hingga kembali segala kekalahannja, sampai sekarang toeah ajam jang terseboeat, menjadi poesaka bagi ketoeroenannja ditanah Mandailing.

Maka si Angin Boegispoen kawinlah ditanah Djawa beroleh anak laki laki, Raden Patah namanja. Raden Patah inilah pergi berlajar ke Sumatra pesisir Barat dan mengadoe kerbau dengan radja Pagar Roejoeng, itoelah atsal nama Menang Kerbau.
Sesoedah Raden Patah kalah dari pada mengadoe kerbau itoe, maka berlajarlah ia meneodjoe sebelah oetara dan meninggalkan saorang anaknja di Moeara Sjngkoeang bernama Namora Pandai Besi. Namora Pandai Bosipoen moediklah ke hoeloe sampai ke Siondop jang sekarang, akan tetapi ia tiada tinggal disana, sebab disitoe soedah ada radja ketoeroenan Toean Tongga Magek Djabang dari Pariaman., Ranggar Laoet namanya, itoelah ketoeroenan Siondop dan Soeroematinggi Ankola.

Namora Pandai Bosi, singgah di Partihaman dekat Losoeng Batoe sekarang, dan ia mendjadi saorang doekoen jang sangat dihormati orang.Sjahdan pada soeatoe hari, adalah radja dari Pidjorkoling, mendapat penjakit keras sekali, maka dipanggillah Namora Pandai Bosi akan mengoebati radja itoe, setelah dioebatinja radja itoepoen semboehlah dari penjakitnja. Namora Pandai Bosi memintak djadi selimoet jang lebar, jaitoe sapotong tanah, itoelah Loboe Sitardas jang dekat Tolang sekarang. Maka Namora Pandai Bosi mendirikan kampoenglah disana dan mendjadi radja disitoe, lagi ia sangat pandai didalam pekerdjaan toekang besi, sampai sekarang masih banjak keris boetannja jang djadi poesaka bagi ketoeroenannja dan kepada orang lain djoega.

Kata Sahiboelhikajat, maka pada soeatoe hari, Namora Pandai Bosi pergi menjoempit boeroeng ke Ajoeara na bobar namanja, [sepoehoen kajoe baringin]. Maka Namora Pandai Bosi, menjoempitlah dari satoe tempat jang soedah diperboeatnja diatas dahan kajoe baringin itoe, maka banjaklah jang soedah djatoeh boeroeng jang di soempitnja itoe, laloe toeroenlah ia, tetapi saekorpoen tiada diperolehnja, djadi hairanlah ia memikiri hal itoe maka bersemboenilah ia laloe menjoempit poela, tetekala boeroeng itoe djatoeh, nampaklah padanja datang saorang perampoen mengambil boeroeng jang djatoeh kena soempit itoe. Setelah Namora Pandai Bosi, melihat perampoean itoe, maka toeroeanlah ia, laloe ditangkapnja perampoean itoe, hingga regang meregang, achirnja perempoean itoe membawa dia keroemah bapanja, dan iapoen kawinlah dengan perempoean itoe.

Kata setengah riwajat perampoean itoe anak Loeboe, kerena sekarang pada goenoeng barisan jang bersamboeng dengan goenoeng disitoe, terdapat beberapa Loeboe. Tetapi pada pendapat penoelis ini, boleh djadi dari anak oarng boenian, kerena sekarang adalah terdapat, jang diseboet orang kampoeng, orang siboeniandi Naboendong djalan ke Padang Lawas, bertentangan dengan kajoe baringin jang terseboet diatas. Sesoedahnja hamil perampoean itoe, Namora Pandai Bosipoen kembalilah ke kampoengnja.Setelah genap boelannja, dilahirlah anak Namora Pandai Bosi, kembar, jaitoe doea orang laki laki jang dinamai oleh maknya Si Baitang dan Si Langkitang.

Sesoedah Si Baitang dan Si Langkitan beroemoer 16 tahoen maknjapoen menjoeroeh merikaitoe mentjahari bapanja; maka pergilah merikaitoe mentjahari bapanja, Namora Pandai Bosi. Lama kelamaan sampailah merikaitoe di Loboe Sitardas, dimana kampoeng bapanja.

Maka maaloemlah bagaimana besar hati Namora Pandai Bosi waktoe ia tahoe, bahoea kedoea anak itoe anaknja.Adapoen Si Baitang dan Si Langkitang, tinggallah dengan bapanja, bekerja toekang besi. Oleh ketjakapan dan kepandaian kedoea anak itoe, maka tjimboeroeanlah isteri Namora Pandai Bosi jang toea, kerena pada sangkanja, tentoe anaknja nanti terbelakang dan Si Baitang serta Si Langkitang termoeka. Oleh sebab itoe, setiap hari ditjatjinja kedoea anak itoe dan dikatanja anak bintjatjak, anak bintjatjau, anak singiang ngiang rimbo, anak dapeq ditepi bandar.

Oleh kerena maki dan nista itoe, moefakatlah kedoea anak itoe akan pergi dari sana laloe pergilah merekaitoe minta idzin dari bapanja, dan bapanjapoen memberi idzin, dan memberikan tandoek kerbau moering dan saboeah soempitan; maka kedoea barang itoe, kiranja telah diisi oleh Namora Pandai Bosi dengan emas, soepanja bininja djangan tahoe ia memberikan emas itoe. Maka pergilah merikaitoe dan tinggal berladang diloear kampoeng, tiada begitoe djaoeh dari kampoeng itoe.

Waktoe Namora Pandai Bosi meninggal doenia datanglah Si Baitang dan Si Langkitang membawa saekor kerbau akan toeroet berkaboeng, dalam hal itoe, isteri Namora Pandai Bosi dan anak anaknja tiada memberi idzin merikaitoe masoek dikampoeng Sitardas, maka dipotongnja kerbau jang dibawa merikaitoe diloear kampoeng itoe, diikatnja dimana sapoehoen kajoe bangsa patai, jang poetjoeknja dihantakkan ketanah, sampai kini dahan kajoe itoe semoeanja mengadap kebawah, jang orang namai poehoen itoe “rampa simanoenggaling”.

Setelah selesai dari pada jang demikian itoe, maka pergilah merikaitoe mentjahari tempat, dimana ada bersoea moeara batang ajer jang bertentangan, kerena sepandjang oesiat bapanja Namora Pandai Bosi. Maka bersoealah merikaitoe dengan moeara batang ajer bertentangan di Kota Nopan, maka tinggallah merikaitoe disitoe mendirikan kampoeng, itoelah kampung jang dinamai Si Ngengoe.

Si Baitang tinggal di Si Ngengoe, itoelah ketoeroenan Kepada koeria Si Ngengoe, Tambangan dan Soeroematinggi, dan Si Langkitang pergi arah kemoedik, itoelah ketoeroenan kepala koeria Tamiang, Manambin, Pakantan Lambah dan Pakantan Boekit; demikianlah tambo kedoea ketoeroenan ini ditoelios dengan ringkas sahadja menoeroet karangan Radja Moelia.

Senin, 04 April 2011

Batak Menurut William Marsden (2)

TAPPANULI (TAPANULI)

Teluk Tapanuli yang ramai membentang ke pusat Tanah Batak, dan pantainya dimana-mana telah dihuni oleh manusia, berdagang barter untuk setiap keperluannya dari luar, tetapi mereka tidak melakukan sendiri pelayarannya ke laut. Kawasan yang dapat dilayari ini merupakan kekayaan alam teluk yang sangat menguntungkan dibanding kawasan lain di seantero bumi, sehingga semua pelaut dari seluruh dunia dapat mengunjunginya dengan sangat aman disetiap musim, bahwa cukup sulit untuk melepas jangkar karena ramainya sehingga kapal-kapal besarpun tersembunyi dan sulit terlihat dan sulit dicari bila tidak dengan cermat melihatnya.
Di pulau Punchong kechil, dimana kami tinggal (membuat pemukiman), menjadi memudahkan untuk menambat kapal pada pohon yang tumbuh di pantai. Balok kayu untuk tiang kapal dan balok layar dapat dibeli di banyak tempat di pinggiran pantai dengan fasilitas yang sangat baik. Keadaannya kurang menyenangkan dalam hal jalur umum untuk hubungan perkapalan timbal balik, dan jaraknya yang jauh dari basis utama kita di India sebagai pertimbangannya, masih belum banyak dimanfaatkan untuk angkatan laut besar; tetapi pada saat yang bersamaan pemerintahan kita harus berhatihati terhadap bahaya yang mungkin muncul dari kekuatan angkatan laut lain yang akan tersinggung bila menguasai kawasan ini.
Pribumi umumnya tidak bersifat menyerang, dan hanya memberikan sedikit gangguan terhadap pendudukan kita; tetapi kelompok pedagang orang Aceh (tanpa persetujuan atau pemberitahuan, karena ada alasan yang dapat diyakini, akan muncul dari pemerintahan mereka), cemburu atas penguasaan dagang kita, mereka akan melakukan perjuangan yang panjang untuk mengusir kita dari teluk itu dengan pemaksaan bersenjata, dan kita ada dalam keadaan siap dengan senjata perang yang baik yang cukup untuk tahunan demi mengamankan penguasaan secara perlahan dan halus.
Di tahun 1760 Tappanuli dikuasai oleh skwadron kapal Prancis dibawah perintah Comte d’Esting; dan di bulan Okrober 1809, menjadi hampir tanpa pertahanan, namun kemudian dikuasai oleh Creole French Frigate, oleh Kapten Ripaud, yang kemudian bergabung dengan kapal perang Venus dan kapal perang La Manche, dibawah komando Commodore Hemelin. Dengan syarat-syarat untuk menyerah, harta pribadi harus diamankan, tetapi dalam beberapa hari, setelah jaminan yang sangat bersahabat diberikan kepada residen yang sedang menjabat, ditempat mana tentara Prancis juga tinggal, kesepakatan ini dilanggar paksa atas kepura-puraan sakit sehingga sejumlah emas telah disembunyikan, dan semua yang dimiliki oleh orang-orang Inggris, termasuk milik pribumi yang menjadi sahabat, dirampas dan dibakar, secara kejam dalam kebrutalan yang biadab. Rumah taman milik pimpinan (Mr. Prince, yang pernah menjabat Tappanuli) di Batu-buru seluruhnya dibakar, termasuk kuda-kudanya, dan ternaknya ditembak dan dicederai. Bahkan buku catatan, berisi catatan-catatan hutang dalam perdagangan di tempat itu, termasuk perjanjian, dihancurkan sehingga samasekali tak terpakai lagi tetapi musuh menjadi tidak mendapat keuntungan dari catatan itu, tetap terjaga oleh para penderita yang malang. Tidak dapat dibayangkan bahwa pemerintahan dari sebuah kerajaan yang besar dan agung memberikan hukumannya dengan cara tak terhormat dalam sebuah perang.
Di dalam Philosophical Transactio (Perjanjian Taktertulis, red.) selama tahun 1778 adalah sejarah singkat bagi Tanah Batak dan perilaku penduduknya, dikemukakan dari surat pribadi Mr. Charles Miller, seorang ahli tumbuh-tumbuhan Perusahaan, dimana pengamatannya yang saya miliki telah mengulangi kejadian untuk dikenang. Saya sekarang ini harus mengatakannya kepada pembaca pokok-pokok dari sebuah laporan yang dibuat olehnya dalam sebuah perjalanan yang dilakukan bersama-sama Mr. Giles Holloway, yang kemudian menjadi Residen Tappanuli, sampai ke pedalaman Tanah Batak yang sedang kita bicarakan ini, dengan sebuah pandangan untuk mendalami hasilnya, khususnya cassia (kayu-manis, red.), yang pada saat itu dianggap untuk membuktikan bahan perdagangan yang layak untuk diberi perhatian.

Mr. Miller bercerita:

Sebelum kami menetapkan perjalanan ini, kami menanyai orang-orang yang dulunya pernah berhubungan dengan perdagangan kayu manis (kulit manis) ke tempat yang paling tepat untuk dikunjungi. Mereka menginformasikan kepada kami bahwa pohon-pohon itu dapat ditemukan di dua kawasan; yaitu disebagian daratan arah utara dari perkampungan tua di Tapanuli; dan juga di negri Padambola (Padang Bolak, red.), yang terletak antara 50 sampai 60 mil jauh ke arah selatan. Mereka menganjurkan kami lebih baik pergi ke negri Padambola, walaupun agak jauh, dengan pertimbangan bahwa penduduk negri Tappanuli (sebagaimana mereka sebutkan) lebih sering melakukan gangguan kepada pendatang (orang asing). Mereka juga mengatakan kepada saya bahwa ada dua jenis kulit manis, satu diantaranya, menurut penjelasan mereka, diharapkan dapat terbukti bahwa benar-benar sebagai pohon kulit manis.
Pada tanggal 21 Juni 1772, kami berangkat dari Pulo Punchong dan berangkat dengan menggunakan sampan ke arah quallo (kuala, red.) sungai Pinang Suri (Pinang Sori, red.), dimana teluknya kira-kira 10 atau 12 mil arah tenggara Punchong. Besok paginya kami menyusuri sungai kearah atas dengan menggunakan sampan, dan kira-kira 6 jam tiba disebuah tempat bernama Quallo Lumut (Kuala Lumut, red.). Seluruh daratan di arah dua sisi sungai adalah dataran rendah, yang ditumbuhi pohon-pohon dan tidak berpenduduk. Di hutan ini saya mengamati adanya pohon kapur barus, dua jenis kayu jati, meranti, rangi, dan beberapa jenis kayu lainnya.
Sekitar seperempat mil dari sana, di arah berlawanan dari sisi sungai terdapat kampung Batak, yang berlokasi diatas bebukitan dan puncak gunung yang sangat indah, yang mencuat berbentuk pyramidal, ditengah-tengah padang rumput kecil. Raja dari kampung ini, yang diberitahukan oleh orang Melayu dimana kami berada dirumahnya, datang mengunjungi kami, dan mengundang kami untuk berkunjung kerumahnya, lalu kami diterima dengan sebuah sambutan yang besar, dan disambut penghormatan dengan kira-kira 30 tembakan. Kampung ini terdiri dari kira-kira 8 atau 10 unit rumah, yang juga terdapat padi house (rumah lumbung, red.).
Kampung itu mempunyai pertahanan yang kuat dengan pagar berlapis terbuat dari papan kasar dari pohon kapur barus, yang ditancapkan dalam kedalam tanah dan sekitar 8 atau 9 kaki (2,5 – 3 m) tingginya di atas tanah. Pagar-pagar ini kira-kira 12 kaki (4 m) berjajar,
dan diantara pagar tersebut digunakan untuk menambat kerbau pada malam hari. Di sisi luar pagar ini ditanami mereka dengan sejenis bambu berduri, yang hampir tak dapat ditembus denga ketebalan dari 12 sampai 20 kaki (4-7 m) tebalnya. Di Sapiyau atau dimana raja menerima tamu asing kami melihat tengkorak kepala manusia bergelantungan, menurut yang diceritakannya bahwa digantungkan disana adalah sebagai tropi, tengkorak itu adalah tengkorak musuh yang mereka tawan, dimana tubuhnya (berdasarkan adat Batak-nya), mereka telah memakannya kira-kira dua bulan yang lalu.
Pada tanggal 23 Juni 1772, kami berjalan melalui daerah berhutan datar ke kampung Lumut, dan hari berikutnya ke Satarong, dimana saya amati beberapa perkebunan pohon kemenyan, kapas, pohon biru, kunyit, tembakau, merica. Kemudian kami berlanjut ke Tappolen, ke Sikia, dan ke Sapisang (Sipisang, red.). Yang terakhir ini berlokasi di tebing sungai Batang-tara (Batang Toru, red.), tiga atau empat hari perjalanan dari laut; sehingga perjalanan kami hampir sejajar dengan pantai.

Tanggal 1 Juli 1772, kami meninggalkan Sapisang dan mengambil arah ke pebukitan, mengikuti jalur Batang-tara. Kami berjalan sepanjang hari melalui daerah dataran rendah, berhutan, dan daerahnya belum terjamah, dan sepertinya tak ada yang masuk dalam observasi. Penunjuk jalan kami telah mengarahkan untuk sampai disebuah kampung, bernama Lumbu; tetapi salah jalan yang seharusnya menyusuri sungai antara empat atau lima mil (7-8 km), dan setelah waktu agak lama tibalah di sebuah ladang sudah sangat melelahkan; dimana buruknya cuaca memaksa kami untuk berhenti dan beristirahat seperempat jam di sebuah pondok terbuka ditengah sawah.
Hari berikutnya, sungai terlihat banjir setelah hujan deras sehari sebelumnya sehingga kami tidak dapat melanjutkan perjalanan kami, dan bermaksud untuk melewatkan saja malam itu dalam keadaan yang tidak menyenangkan. (Saat ini adalah pertengahan musim kering di bagian selatan pulau.)
Pada tanggal 3 Juli 1772, Kami meninggalkan ladang dan berjalan melalui jalur yang jarang dilalui dan tak berpenghuni, penuh dengan bebatuan dan berhutan belantara. Hari ini kami menyeberangi tebing yang sangat curam dan bukit yang tinggi, dan pada sore harinya tiba disebuah negri yang berpenghuni dan persawahan yang diusahai dengan baik dan pada ujungnya yang tanahnya datar disebut Ancola (Angkola, red.). Kami tidur semalaman disebuah gubuk ladang terbuka, dan besoknya melanjutkan perjalanan menuju sebuah kampung yang disebut Koto Lambong (Huta Lambung, red.).
Pada tanggal 5 Juli 1772, berjalan melalui sebuah negri yang lebih terbuka dan sangat menyenangkan yaitu Terimbaru (Huta Imbaru, red.), sebuah kampung besar disebelah ujung selatan dataran Ancola. Daerah ini samasekali tak berhutan dan dibajak serta ditanami padi dan jagung, atau ditanami untuk makanan kerbau dan kuda. Raja telah diberitahukan tentang keinginan kami untuk datang ke sana, dan raja itu mengirim anaknya yang dikawal oleh sekitar 30 atau 40 orang diperlengkapi dengan senjata seperti pedang dan senjata lantak, mereka menemui kami dan mengawal kami sampai ke kampungnya, disambut dengan pukulan gong, dan menembakkan senjatanya sepanjang jalan.
Raja menerima kami dengan penyambutan yang hebat, dan memerintahkan untuk menyembelih seekor kerbau, menahan kami sehari, dan sewaktu kami mau melanjutkan perjalanan, raja menyertakan anaknya dan sejumlah orang untuk mengawal kami. Saya mengamati bahwa semua wanita yang belum kawin memakai banyak sejenis cincin ditelinganya (ada yang berjumlah 50 cincin pada sebelah telinganya), dari keadaannya, sama seperti suasana negeri itu kelihatannya menunjukkan kaya denga kandungan mineral; tetapi sewaktu tanya sanasini diketahui bahwa timah itu dibawa dari Selat Malaka.
Setelah memberikan cendramata sebagai hadiah kepada raja maka kami meninggalkan Terimbaru pada tanggal 7 Juli 1772 dan melanjutkan perjalanan ke Samasam (Simasom, red.), dimana raja ditempat itu dikawal oleh sekitar 60 atau 70 pengawal yang diperlengkapi dengan senjata lengkap menjumpai kami dan mengawal kami sampai dikampungnya, dimana sudah dipersiapkan sebuah rumah untuk menerima kami, memperlakukan kami dengan penuh hormat dan keramahan.
Negeri sekeliling Samasam penuh berbukitan tetapi tidak banyak pepohonan, dan kebanyakan ditumbuhi rerumputan untuk ternak merumput, oleh karenanya mereka memiliki banyak ternak. Tidak banyak yang mengagumkan saya temukan disini kecuali satu jenis bumbu yang mereka sebut Andalimon andaliman, red), dimana bijinya dan daunnya rasanya sangat spicy taste (menyengat, red.), dan selalu digunakan untuk jenis masakan kari.
Pada tanggal 10 Juli 1772, melanjutkan perjalanan kami ke Batang Onan, dimana biasanya orang Melayu membeli kulit manis dari orang Batak. Setelah kira-kita 3 jam perjalanan melalui negeri yang berbukit terbuka, kemudian kami masuk kedalam hutan lebat, dimana kami bermaksud bermalam disitu. Besok paginya kami menyeberangi lagi tebing curam dari sebuah bukit yang tinggi dan dipenuhi hutan lebat. Disini kami menemukan pohon kemenyan liar. Pohonnya tumbuh jauh lebih besar dari pohon yang diperkebunkan, dan menghasilkan jenis dammar yang disebut keminian dulong atau kemenyan manis (sweet scented benzoin). Perbedaannya biasanya lebih lengket, dan aromanya mirip biji almon yang digerus.
Tiba di Batang Onan disore hari. Kampung ini berada di dataran sangat luas ditepian sungai besar yang langsung menuju selat Malaka, dan disebutkan dapat dilayari sekitar satu hari perjalanan dari Batang Onan.

Pohon Kayu Manis

(Lanjutan Cerita Perjalanan Mr. Miller)

Abstrak:
Pohon Kayu Manis atau Kulit Manis disebut juga sebagai Cassiavera atau bahasa latinnya disebut Cinnamomum verum, synonym C. zeylanicum. Kayu Manis ini diberitakan sudah dikenal oleh Bangsa Mesir Kuno sekitar 5000 tahun lalu dan banyak juga disebutkan dalam Kitab Perjanjian Lama. Sebagai contoh ayat-ayat berikut:
Karena omelan Bangsa Israel maka Musa berdoa: “Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka,” (Keluaran 15:25 TB).
Perintah Tuhan kepada Nabi Musa: “Ambillah rempah-rempah pilihan, mur tetesan lima ratus syikal, dan kayu manis yang harum setengah dari itu, yakni dua ratus lima puluh syikal, dan tebu yang baik dua ratus lima puluh syikal,” (Keluaran 30:23-TB)
Perkataan seorang cewek perayu: “Tempat tidurku telah kututupi dengan seperei beraneka warna dari Mesir, dan sudah kuharumkan dengan wangi-wangian mur, cendana dan kayu manis.” (Amsal 7:16-17 BIS)
Nyanyian cinta Sulaiman: Disana tumbuh pohon-pohon delima, dengan buah-buah yang paling lezat. Bunga pacar dan narwatsu, narwatsu dan kunyit, kayu manis dan tebu, dengan macam-macam rempah pilihan. (Kidung Agung 4: 13-14, BIS)
Terbukti bahwa kayu manis sejak zaman Nabi Musa dan Raja Sulaiman sudah menjadi komoditi berharga. Mengapa Bangsa Eropah (Inggris dan Belanda) mencarinya ke Tanah Batak abad-18? Sudah barang tentu pohon ini sebagai tumbuhan endemik Tanah Batak, walaupun orang-orang menyebutkannya berasal dari Sri Lanka. Oleh karena itu catatan ini menjadi satu bukti bahwa Bangsa Batak memang sudah eksis sejak zaman purba berhubungan dengan dunia luar.
Berikut adalah lanjutan Perjalanan Mr. Miller ke Tanah Batak yang dikutip dari History of Sumatra oleh William Marsden.

KAYU MANIS

Tanggal 11 Juli 1772. Berangkat ke Panka-dulut, raja yang mengaku memiliki lahan pohon Kayu Manis (cassia-trees), dan orang-orangnya biasanya memotong dan mengupas kulit kayunya dan mengirimnya ke tempat yang disebutkan sebelumnya (Batang Onan). Pohon Kayu Manis yang terdekat letaknya kira-kira 2 jam perjalanan (jalan kaki) dari Panka-dulut di pegunungan dataran tinggi. Pohon itu tumbuh setinggi 40 – 60 kaki (12 – 20 m) tingginya, dan bercabang rimbun. Pohon Kayu Manis ini bukan di budidayakan tetapi dibiarkan tumbuh sendiri di hutan. Kulitnya biasanya diambil dari batang pohon yang berdiameter 1 atau 1½ kaki (30 – 50 cm); kulitnya menjadi agak tipis bila pohonnya dipanen semasih muda, sehingga akan menurunkan kualitasnya.
Disini saya membutuhkan jenis Kayu Manis yang berbeda yang telah diebutkan sebelumnya, tetapi sekarang diberitahukan bahwa hanya ada satu jenis, dan perbedaan yang mereka sebutkan itu bisa ada karena perbedaan tanah dimana pohon itu tumbuh, bahwa yang tumbuh di tanah kering bebatuan pohonnya berwarna kemerahan, dan kulitnya memiliki kualitas super dibanding yang tumbuh di tanah liat lembab dan pohonnya cenderung berwarna kehijauan. Saya juga berusaha mendapatkan informasi bagaimana cara mereka mengupas dan memproses kulit manis, dan menyampaikan kepada mereka niat saya untuk mencoba beberapa eksperimen untuk meningkatkan kualitas dan menjadikannya lebih berharga.
Mereka mengatakan belum ada yang dipanen dalam dua tahun belakangan ini, sehingga terhenti jual-belinya di Tapanuli; dan jika saya datang dengan suatu kewenangan untuk membuka perdagangannya, saya harus memanggil orang-orang sekitar kampung untuk berkumpul bersama membicarakannya, menyembelih kerbau untuk mereka, dan meyakinkan mereka semua bahwa Kayu Manis akan ditampung lagi; dalam hal ini mereka akan segera memulai panen dan memproduksinya, dan dengan rela mengikuti semua perintah yang saya berikan kepada mereka; tetapi sebaliknya mereka bisa saja tak mematuhinya.
Saya melihat bahwa saya dihambat mendapatkan informasi yang memuaskan sebagaimana saya harapkan karena kelakuan licik orang yang menemani kami sebagai penunjuk jalan, karena dia mengetahui seluk beluk negri itu, dan tentang Pohon Kayu Manis, dimana dia sebelumnya adalah orang yang mengatur perdagangannya, Kami kira kami beralasan berharap atas semua yang kami inginkan seperti bantuan dan informasi, tetapi bukan hanya menolak memberikannya, tetapi mencegah kami sebisa mungkin mendapatkan keterangan dari orang-orang negri itu.
Tanggal 14 Juli 1772, kami meninggalkan Batang Onan untuk kembali pulang, singgah semalaman disebuah kampung bernama Koto Moran untuk bermalam, dan malam berikutnya kami sampai di Sa-masam (Simasom, red.) tempat dimana kami sebelumnya menempuh jalur jalan yang berbeda dari jalan kami menuju ke Si-pisang; dimana kami mengadakan sampan, dan kembali menyusuri sungai Batang-tara menuju ke laut. Tanggal 22 Juli 1772 kami kembali ke Pulo Punchong.

Akhir Dari Catatan Mr. Miller.

Sudah sejak awal difahami bahwa mereka salah pengertian, dan membawa jalan yang berputar-putar untuk menghindari kampung tertentu dalam mempertimbangkan jalan pulang ke Tapanuli, atau mungkin karena alasan lain. Dekat dengan tempat berikutnya, di jalan utama, Mr. John Marsden, yang menyusuri jalan menuju tempat penguburan salah satu pimpinan mereka, mengamati dua buah monument batu berusia tua, yang satu berbentuk seorang laki-laki, yang satu lagi seorang laki-laki sedang menunggang gajah, terlihat cukup bagus dilakukan, bahkan tak satupun diantara mereka sekarang ini mampu lakukan seperti itu. Ciri tersebut sangat kuat tentang Batak.
Pemukiman kami di Natal (sebenarnya Natar), beberapa mil arah selatan sungai besar di Tabuyong, dan berbatasan dengan Tanah Batak, yang membentang dibelakangnya, adalah sebuah tempat yang ramai perdagangan, tetapi diperuntukkan bukan karena terjadi alami atau kepentingan politik. Tempat itu dihuni oleh penduduknya untuk tujuan perdagangan yang datang dari negri Achin, Rau, dan Menangkabau (Aceh, Rao, dan Minangkabau, red.), yang memakmurkan penduduk dan kaya. Emas dengan kualitas sangat tinggi diproduksi disini (beberapa penambangannya berjarak sekitar 10 mil dari pabriknya), dan ada transaksi dagang untuk barang-barang impor, sebagai penggantinya adalah kapur barus yang sangat mudah pembuatannya.
Sama seperti kota-kota di daerah Melayu lainnya, mereka diperintah oleh datu-datu sebagai pimpinan bergelar datu besar (datu bolon, red.) atau hakim kepala yang tidak menetap; dan walaupun pengaruh perusahaan dagang disini sangat kuat kuasanya bukan berarti berdiri kokoh sebagaimana di kawasan-rempah2 di bagian selatan yang memiliki sejumlah pegawai, memiliki harta kekayaan mereka, dan berbentuk perusahaan, bersemangat mandiri. Boleh dikatakan bahwa mereka lebih mengarah kepada menjalankan menejemen perusahaan dan mendapat dukungan daripada memerintah. Mereka menganggap orang Inggris bermanfaat sebagai penengah antara mereka dan lawan dagangnya, yang tak jarang menjurus kepada perang, walaupun dalam bentuk unjuk kekuatan, dan sebagai alasan kehadiran orang-orang kami (Inggris) berada diantara mereka.
Di awal periode proteksi kami melindungi adalah menyenangkan mereka melawan orang-orang yang melakukan kecurangan, seperti yang mereka tuduhkan pada Belanda, yang memulai masalah dan mengakui mereka cemburu. Melalui artikel Perjanjian Paris di tahun 1763 pernyataan claim ini dijelaskan bahwa mereka menghormati dua kekuatan Eropah ini, dan kependudukan Natal dan Tapanuli secara jelas harus dikembalikan kepada Inggris. Mereka kenyataannya telah diduduki kembali. bahkan telah memiliki hak atas apa yang dikemukakan dari keinginan dan persetujuan oleh raja-raja setempat.
[Catatan kaki sebelumnya: Setelah pendirian kembali pabrik di tahun 1762 residen menuduh Datu besar (Datu Bolon, red.), dengan sikap marah besar. Sejumlah mayat selalu terlihat mengambang dihilir sungai, dan mengajukan kerjasamanya untuk mencegah pembunuhan di negri itu, oleh karena kekacauan terjadi di daerah itu selama penanganan sementara dari pengaruh Perusahaan. “Saya tak dapat menyetujui apapun alasannya untuk pendirian pabrik itu” kata Datu itu: “Saya mendapat bagian dari pembunuhan-pembunuhan ini dengan keuntungan duapuluh dollar untuk setiap kepala bila keluarga-keluarga itu menuntut.” Satu kompensasi sebesar 30 dollar per bulan ditawarkan kepadanya, walaupun hal ini berat untuk diberikan padanya, melihat bahwa dia adalah pihak yang kalah, sebagaimana dalam kasus ini setidaknya tiga orang setiap bulan. Dilain waktu, sewaktu residen mencoba untuk menerapkan peraturan untuk dilaksanakan, dia (Datu,red..) mengatakan, “kami tiadah suka begito, orang kaya!”, dan mengangkat tangan kanannya sebagai tanda kepada bawahannya untuk menyerang apabila yang dia usulkan tidak dipenuhi. Tahun-tahun berikutnya sikap dan sifat untuk kepentingan bersama telah melunakkan hati mereka menjadi lebih akomodatif.]

(Buku History of Sumatra karangan William Marsden)
Bersambung —— 3

Batak Menurut William Marsden (1)

Buku History of Sumatra karangan William Marsden yang diterbitkan pada tahun 1811 sebenarnya sudah ada yang diterjemahkan oleh Remaja Rosdakarya di tahun 1999 dan oleh Komunitas Bambu pada tahun 2008.
Apabila anda belum memiliki buku-buku tersebut, maka Batakone mencoba untuk menerbitkan beberapa posting berserial khususnya untuk Bab-20 tentang Batak. Postingan ini tidak diambil dari dua buku terjemahan yang disebutkan di atas tetapi langsung dari teks bahasa Inggris koleksi Universitas Michigan yang dicetak oleh pengarang J. McCreery, dan diterjemahkan secara bebas. Apabila ada interpretasi yang berbeda dengan buku terjemahannya harap dimaklumi.

PENGANTAR

The History of Sumatra adalah sebuah buku yang diterbitkan tahun 1810 oleh penulisnya William Marsden (1754 – 1836). Bukunya edisi-2 diterbitkan pada tahun 1784 sebanyak 373 halaman, dan Edisi-3 – pada tahun 1811 sebanyak 479 halaman berasal dari buku asli koleksi Universitas Michigan yang dicetak oleh pengarang J. McCreery dan dipasarkan oleh Longman, Hurst, Rees, Orme, dan Brown di tahun 1811.
Buku The History of Sumatra berisi tentang pemerintahan, hokum, adat istiadat, karakter dasar penduduk pribumi, serta penjelasan tentang hasil-hasil bumi, dan hubungan antar pemerintahan kerajaan di Pulau Sumatra.
William Marsden yang lahir tanggal 16 Nopember 1754 dan meninggal tanggal 6 Oktober 1836 merupakan pionir dalam studi tentang Indonesia dan Sumatra secara umum dan khususnya Bangsa Batak. William Marsden juga sebagai seorang ahli di bidang studi bangsa-bangsa di timur, termasuk sebagai ahli dibidang studi bahasa-bahasa asli, dan sebagai kolektor koin-koin kuno.
William Marsden adalah anak seorang pedagang dari Dublin. Dia diangkat sebagai pelayan umum disebuah Perusahaan India Timur pada usia 16 tahun dan dikirim ke Bengkulu pada tahun 1771. Kemudian William Marsden diangkat menjadi Sekretaris Utama Pemerintah karena memahami bahasa melayu termasuk pengetahuannya tentang negri Sumatra. Sekembalinya ke London di tahun 1779, dia menulis History of Sumatra (Sejarah Sumatra).
Buku Sejarah Sumatra terdiri dari 23 bab dimana pada Bab-20 khusus menceritakan tentang BATAK. Pada Buku Sejarah Sumatra ini, William Marsden menulis 17 sub-bab mengenai BATAK yang berisi tentang: Negri Batak, Teluk Tapanuli, Perjalanan ke Pedalaman, Kayu Manis (Cassia Trees), Pemerintahan, Tentara, Peralatan Perang, Perdagangan, Dewa-dewa, Makanan, Sifat-sifat, Bahasa, Tulisan, Agama, Acara Penguburan, Kriminal, Kebudayaan yang Luarbiasa.

B A T A K

Satu diantara penduduk pulau yang dapat disebutkan sangat berbeda, dan dengan segala hormat disebutkan secara tegas sebagai orang asli Sumatra, adalah Bangsa Batak (Battas), yang sangat jauh berbeda dari penduduk lainnya, dari segi adat istiadat dan kebiasaannya yang sangat luarbiasa, dan khususnya dalam beberapa penerapannya yang diluar dari kebiasaan, sehingga harus dibuat perhatian khusus untuk menjabarkannya.

LETAK NEGRI BATAK (TANO BATAK)

Negri Batak dibatasi sebelah utara berbatasan dengan Aceh, yang dibatasi oleh Gunung Papa dan Gunung Deira, dan disebelah selatan dibatasi oleh kawasan bebas yang disebut Rau atau Rawa (Daerah Rao sekarang, red.); memanjang sepanjang pantai laut disebelah barat dari mulai sungai Singkel (Singkil, red.) sampai ke Tabuyong, dan didaratannya, berbatasan dengan Ayer Bangis (Air Bangis, red.), dan secara umum berbatasan sepanjang pulau, yang menyempit disekitar kawasan itu, sampai ke pantai bagian timur, kira-kira lebih kurang sampai ke batasan kekuasaan Melayu dan Aceh dibagian daerah maritimnya, sebagai kekuasaan komersial. Kawasan Tanah Batak sangat padat penduduknya, terutama di kawasan pusat, dimana terdapat dataran terbuka dan masih perawan, di perbatasannya (sebagaimana disebutkan) terdapat sebuah danau yang sangat besar, tanahnya subur, dan pertaniannya jauh lebih maju daripada di daerah negri bagian selatan, yang masih ditutupi oleh hutan lebat, dimana terlihat pohon-pohon kosong kecuali pohon-pohon yang ditanami oleh penduduk disekitar kampung, kecuali disepanjang tebing sungai masih tumbuh lebat, tetapi dimanapun terlihat suasana yang kuat menggambarkan keberadaan daerah itu. Jumlah air kelihatan tidak begitu melimpah dibanding kawasan bagian selatan, yang boleh dikatakan berada agak lebih rendah, di bukit barisan yang memanjang kearah utara dari mulai Selat Sunda sampai daerah pedalaman pulau, yang berukuran luas sampai berakhir di Gunung Passumah (Pasamah, red.) atau Gunung Ophir (Pusuk Buhit, red.). Disekitar Teluk Tappanuli (Tapanuli, red.) dataran tingginya berhutan lebat sampai ke dekat pantai.

Resitasi Sub-Bab LETAK NEGRI BATAK:

William Marsden menyebutkan bahwa Bangsa Batak adalah yang paling pantas disebut sebagai penduduk asli Pulau Sumatra.
Bangsa Batak sangat jauh berbeda dengan penduduk dari segi adat istiadat dan kebiasaannya yang sangat luarbiasa sehingga harus dibuat perhatian khusus untuk menjabarkannya.
William Marsden menggambarkan bahwa Letak Negri Batak adalah sepenuhnya Sumatra Utara Sekarang, yang berbatasan dengan Propinsi Sumatra Barat dan daratan sampai
ke Propinsi Riau dan disebelah baratnya di Singkil dan Air Bangis berbatasan dengan Propinsi Nangro Aceh.
William Marsden juga menggambarkan bahwa di Pusat Tanah Batak (Silindung dan Toba, red.) sudah sangat padat penduduknya yang dikatakan dekat dengan danau yang sangat besar (Danau Toba, red.).
Pertanian di Pusat Tanah Batak (Toba, Silindung, red.) sudah sangat baju dan semua dataran terpakai untuk pertanian tetapi pohon-pohon besar sudah agak kosong kecuali disekitar perkampungan.
Di bagian selatan Tanah Batak disebutkan masih banyak hutan lebat, tetapi jumlah air masih lebih melimpah di daerah selatan karena tanahnya lebih rendah.
Tanah Batak pedalaman disebutkan terletak di Bukit Barisan yang memanjang dari mulai Selat Sunda sampai berakhir di Gunung Passumah atau Gunung Ophir.

Catatan:
Gunung Ophir adalah suatu tempat yang masih menjadi misteri. Sejak dikemukakan oleh Plato di abad-4&5, banyak kalangan yang meneliti dimana keberadaan Gunung Ophir. William Marsden menyebutkan bahwa Gunung Ophir adalah Gunung Passumah. Dari berbagai alas an argumentative, penulis lebih mengakui bahwa Gunung Ophir adalah Gunung Pusuk Buhit.
Kisah-kisah di Alkitab menyebutkan bahwa Raja Salomo (Sulaiman, red.) mendapatkan emas, perak, Kayu Cendana, batu mulia, gading gajah, monyet, merak, dikirim dari sebuah pelabuhan yang ada di Negri Ophir (Ofir) sekali dalam tiga tahun.
Dalam Kitab Kejadian-6,10 disebutkan bahwa Ofir adalah anak dari Joktan keturunan Sem. Dan mengenai barang-barang yang pesan Raja Sulaiman yang berasal dari Negri Ophir ada dalam Kitab 1-Raja-raja-9-10-22, 1-Tawarikh-29, 2-Tawarikh-8, Ayub-22-28, Mazmur-45, Yesaya-13:
Kejadian:-6: (Allah memerintahkan Nuh untuk membuat kapal terbuat dari kayu gofir)
Kejadian-10: (Setelah peristiwa Air-bah Nuh berketurunan dan salah satu bangsa keturunannya pada generasi ke-7 adalah Ofir, dimana mereka bermukim meluas dari Mesa dan Sefar yaitu daerah pegunungan di sebelah timur.)
1 Raja-raja-9-10: (Raja Salomo ‘Sulaiman, red.’ Sewaktu mendirikan rumah Tuhan dengan kerja paksa, juga mengirimkan kapal-kapalnya berlayar ke negri Ofir untuk mengambil 14.000 kg emas,termasuk yang diangkut oleh kapal Hiram sejumlah 4.000 kg dan setiap tahun menerima hampir 23.000 kg emas yang berasal dari Ofir). Riwayat yang sama diceritakan juga dalam kitab 1 Tawarikh dan 2 Tawarikh
Ayub-22 + 28: (Percakapan antara Elifas dan Ayub dan Sofar, yang menyinggung emas dari Ofir yang sangat bermutu tinggi).
Mazmur-45: (tentang nyanyian kaum Korah yang mengkisahkan tentang pakaian yang harum berbau Mur, Gaharu, Cendana, dan berlapis emas yang didatangkan dari Ofir.)
Yesaya-13: (tentang rencana Tuhan akan menghukum manusia karena kejahatannya dan mengumpamakan manusia akan lebih sedikit dari emas Ofir.
Sampai saat ini belum dapat dipastikan dimana letak Negri Ophir, akan tetapi dari data-data yang berkaitan dapatlah diambil pendekatannya bahwa Negri Ophir terdapat di Tanah Batak.

PEMBAGIAN TANAH BATAK

Teritorial Batta country – Tano Batak (menurut informasi yang diperoleh dari Penduduk Inggris) terbagi dalam distrik utama sebagai berikut; Angkola, Padambola (Padang Bolak, red.), Mandiling (Mandailing, red.), Toba, Selindong (Silindung, red.), dan Singkel (Singkil, red.), dimana Angkola mempunyai 5 sub-suku, Mandailing menpunyai 3 sub-suku, Toba mempunyai 5 sub-suku. Berdasarkan catatan Belanda yang dipublikasikan dalam Transaksi Masyarakat Batavia, yang terperinci, Batak dibagi dalam tiga kerajaan. Satu diantaranya bernama Simamora yang berada di pedalaman dan terdiri dari sejumlah perkampungan, diantaranya bernama Batong, Ria, Allas, Batadera, Kapkap (daerah penghasil kemenyan), Batahol, Kotta Tinggi (tempat rumah tinggal raja), dengan dua kawasan terletak di pantai timur yang disebut Suitara-male dan Jambu-ayer.
Disebutkan bahwa kerajaan ini menghasilkan banyak emas dari pertambangan di Batong dan Sunayang. Bata-salindong (Batak Silindung, red.) juga terdiri dari banyak distrik, beberapa diantaranya penghasil kemenyan dan distrik lainnya penghasil mas-murni. Tempat tinggal raja adalah di Salindong (Silindung, red.). Bata-gopit (Batu Gopit, red.) terletak dikaki gunung aktif, yang pernah meletus, dari situlah penduduk mengambil belerang, untuk kemudian diproduksi menjadi gunpowder (mesiu senjata, red.). Kerajaan kecil yang disebut Butar terletak di arah timurlaut sampai kearah pantai timur, dimana tempat tersebut dinamai Pulo Serony (Pulau Seruni, red.) dan Batu Bara yang banyak menikmati perdagangan; juga Longtong (Lantung, red.) dan Sirigar (Siregar, red.). yang berada di muara sungai yang besar bernama Assahan (Sungai Asahan, red.). Butar tidak menghasilkan kapurbarus, juga tidak menghasilkan kemenyan, dan juga tidak menghasilkan emas, dan penduduknya hidup dari pertanian. Rajanya bertempat tinggal di kota juga bernama sama, Butar.

BANGUNAN KUNO

Jauh ke pedalaman sungai di Batu Bara, yang ujungnya bermuara ke selat Malaka, ditemukan sebuah bangunan besar terbuat dari batubata, mengenai bangunannya sepertinya bukan tradisinya dibangun oleh penduduk setempat. Dijelaskan bahwa bentuknya segi-empat, atau beberapa bentuk segi empat, dan di satu sisinya terdapat pilar yang sangat tinggi, mungkin bagi mereka dirancang untuk menempatkan bendera. Bentuk-bentuk gambar atau reliefnya berbentuk gambar manusia yang dipahat di dinding temboknya, sepertinya mirip dewa-dewa bangsa Cina (mungkin juga Hindu). Batu batanya, yang dibawa ke Tapanuli berukuran lebih kecil dari yang umum digunakan di Inggris.

SINGKEL (SINGKIL)

Sungai Singkel, merupakan sungai terbesar di pantai barat pulau itu, yang berasal jauh dari pegunungan Daholi, di kawasan Achin (Aceh, red.), dan panjangnya sekitar 30 mil dari laut yang mengaliri airnya dari Sikere, di sebuah tempat bernama Pomoko, yang mengalir sepanjang Tanah Batak. Sehabis persimpangan ini sungainya sangat lebar, dan cukup dalam untuk dialiri kapal untuk muatan berat, tetapi pangkalnya sangat dangkal dan berbahaya, dalamnya tak lebih dari 6 kaki (1,8 m) saja pada saat surut, dan kalau sedang pasang akan naik 6 kaki (1,8 m) juga. Lebarnya pada daerah ini sekitar ¾ mil. Pada dataran rendal daerah ini banyak yang tergenang air sewaktu musim hujan, tetapi ada dua daerah yang disebutkan oleh Kapten Forrest tidak tergenang air yaitu bernama
Rambong dan Jambong, di dekat muaranya.
Kota utama terletak sekitar 40 mil ke hulu sungai di pencabangan sebelah utara. Di sebelah selatan ada sebuah kota bernama Kiking, dimana ramai perdagangan dilakukan oleh orang Malays (orang Melayu, red.) dan Achinese (orang Aceh, red.) di daerah yang dulunya gunung Samponan atau gunung Papa menghasilkan banyak kemenyan daripada di Daholi. Disebutkan dalam sebuah catatan Belanda bahwa selama 3 hari pelayaran lebih kehulu Singkil maka anda akan menemukan danau yang sangat besar, yang luasannya belum diketahui.

Barus, tempat berikutnya yang berada dibagian selatan, sudah sangat terkenal di negri timur yang disebut kapur-barus atau kamfer, bahkan yang diimport dari Jepang atau Cina disebut juga namanya kapur-barus. Inilah kawasan paling terpencil dimana Belanda sudah lama membangun pabriknya sebelum kemudian meninggalkannya. Mirip seperti pemerintahan Melayu yang diperintah oleh seorang raja, seorang bandhara (bendahara, red.), dan delapan orang pangulus (penghulu, red.), dan dengan kekhususan ini, bahwa raja-raja dan para bendahara dapat silih berganti harus dari kalangan keluarga utama yang disebut Dulu (di hulu, red.) dan D’illir (di hilir, red.). Daerah kekuasaan dulunya dikatakan sampai ke Natal. Kotanya bertempat kira-kira 1 league (3 mil) dari tepi pantai dan 2 league (6 mil) ke daratan terdapat 8 perkampungan yang semuanya dihuni oleh orang Batak, sebagai penduduk yang membeli kapur barus dan kemenyan dari orang-orang di pegunungan Diri (Dairi, red.), yang memanjang dari Singkil di selatan sampai dataran tinggi Lasa, di dekat Barus, dimana daerah ini sudah berada di distrik Toba.

Bersambung —-2

Selasa, 01 Maret 2011

Orang Batak Menghormati Leluhurnya sama dengan Orang China

Orang Batak menghormati leluhurnya dengan membangun Monumen atau Tugu dari Lelurnya (cikal bakal dari Keluarga besar marga), Bisa saja dari generasi pertama bahkan ada juga yang membangun tugu dari generasi ke tiga atau empat.Sebelum mengenal tembok beton, orang Batak mengubur orangtuanya di dalam tanah, dan diberi tanda dengan batu besar berukir. Biasanya di situ juga ditanam pohon kayu jabi-jabi atau beringin, yang dianggap keramat.
Salah satu contoh; Hampir boleh dikatakan Tugu Raja Sonak Malela adalah Tugu cikal bakal dari empat Marga : Simangunsong, Marpaung, Napitupulu dan Pardede. Tetapi Tugu dari Persatuan Pardede, yaitu”Raja Bona Ni Onan” hingga kini tidak ada namun makam nya ada. Tetapi Tugu generasi selanjutnya ada dan cukup Megah.
Hal ini juga berlaku di marga lain, dan tugu-tugu umumnya dibangu didaerah mana asal marga atau leluhur tersebut. Apakah si Samosir Toba,Humbang Silindung,dan lainlainnya. Jadi kalau kita Memasuki wilayah simalungun hingga Sibolga
maka kita akan menikmati panorama yang sangat kotraversi dengan kenyataan kehidupan masyarakat sekitarnya. Dikanan kiri jalan kita akan menemui megahnya makam/kuburan ataupun Tugu dari leluhur setiap marga, bahkan kita menemui Tugu berdiri ditengah persawahan, bahkan ditepi jalan dandi pebukitan.
Tidak sekedar menghormati, Orang Batakpun mengsakralkan Tugu atau tambak tersebut.

Begitu sakralnya pekuburan akan membela mati-matian bila kuburan nenek moyang mereka diganggu atau dirusak, ada sebuah cerita tentang Pohon Jabijabi begitu sacral pohon tersebut bagi Marga bersangkutan; sebab cabang kayu jabi-jabi di kuburan nenek mereka hendak dipotong karena daunnya berguguran ke halaman kantor kepolisian sektor di sebelahnya. "Alasannya, jika cabang atau ranting kayu itu dipotong, bisa mengurangi keturunan keluarga Pardede,"
Sejak 1950-an, orang Batak mulai membangun kuburan dari semen, pengganti batu dan pohon beringin. Kadang-kadang kuburan itu juga diukir dengan relief dan ornamen khas Batak serta dilengkapi dengan patung berbagai bentuk, seperti orang berkuda, harimau, rumah adat, dan bahkan orang dicambuk. Itu mempunyai arti tersendiri, misalnya kuda yang melambangkan keluarga raja. Selain itu, diberi juga lambang salib,(setelah Agama Keristen Protestan menjadi Agama Mayoritas). Kini kuburan orang Batak merupakan pembauran unsur modern (bangunan), agamis (tanda salib), dan magis. Setidaknya, Dalam membangun tambak, seseorang harus memiliki "jaga badan", di samping niat yang lurus. Bila tidak, orang itu bisa jatuh sakit, diganggu roh, Selain itu, kita juga gampang letih dan kelaparan. Bisa jadi, daerah Tapanuli Utara yang berhawa dingin sering membuat orang merasa cepat lapar. Menyadari hal itu, biasanya pihak keluarga menjamu tukang yang membangun kuburan leluhur mereka sebaik-baiknya. Seperti diberi makanan yang lezat dan penginapan yang memadai. Bahkan, sebelum memulai pekerjaan, mereka didoakan pendeta agar jangan diganggu roh halus.

Pembuatan tambak juga bisa dipicu oleh gengsi. "Bila di sebuah kampung ada tambak besar dan mewah, warga dari marga lain akan berlomba membuat yang lebih wah. Apa itu lebih penting daripada membantu saudara-saudara yang miskin?"
Menurut Seorang tokoh Muda mengatakan , keyakinan terhadap tambak bertentangan dengan ajaran Kristen. Soalnya, warga meminta berkah kepada roh nenek moyang. Padahal, soal rezeki, kata Tambunan, bergantung pada usaha seseorang. Di mata Pemuda tersebut, pembangunan makam yang megah hanyalah pemborosan.

Anggapan pemborosan itu dibantah M.A. Simanjuntak. "Ini menyangkut keyakinan. Jangankan soal tempat, harta benda pun direlakan untuk membangun tambak. Jadi, soal adat ini jangan diutak-atik," kata salah seorang pengurus Lembaga Adat Dalihan Na Tolu, yang juga anggota DPRD Tapanuli Utara itu. Menurut Simanjuntak, apakah salah jika mereka ingat kepada leluhur? Biarkan adat berkembang, itu juga identitas orang Batak. "Cinta kasihlah yang paling menonjol," katanya. Pendapat itu dikuatkan Prof. Bonar Halomoan Pasaribu,

    
  
Bangunan-bangunan dari semen indah dan megah itu baru muncul pada paruh abad ke-20. Sebelumnya, makam asli keluarga Batak cukup ditandai dengan pohon (hariara)

yang kebanyakan berupa pohon beringin. Makam sendiri berupa tanah yang ditinggikan 
atau miniatur gereja,hingga vila. Banyak yang tampak sangat megah dan unik, bahkan bisa

untuk makam itu beraneka ragam, dari tugu dengan patung-patungnya, kapal, pagoda, 

menjadi penanda (landmark) sebuah kawasan.peti batu yang digeletakkan di dataran.

Orang bahkan banyak yang sudah lupa bahwa istilah makam Batak yang asli adalah tambak. 

Banyak orang menyebut makam Batak kini sebagai tugu karena saking banyaknya makam 
yang berbentuk tugu.




"Pembangunan Tugu Dipandang dari Segi Sosial-Ekonomi", pembangunan tugu makam secara besar-besaran mulai terjadi pada dasawarsa 1955-1965 di bona pasogit (kampung halaman orang Batak). Para perantau menjadi penyumbang terbesar pembangunan tugu.
 Beringin besar
 
Meskipun demikian, pohon-pohon beringin besar masih bisa ditemukan di banyak kawasan
di Humbang Hasundutan. Hampir bisa dipastikan, pohon beringin di Humbang Hasundutan
adalah tambak keluarga W Silaban (66), warga Desa Dolok Marbu, Kecamatan Lintong
Nihuta, Humbang Hasundutan, mengatakan, makam keluarga Silaban yang berada  persis
di samping rumahnya berisi ratusan jenazah. 
Makam dengan pohon beringin yang sangat besar itu dipagar seluas sekitar 6 x 6 meter.
Umur tambak keluarga itu juga ratusan tahun. "Saya saja sudah Silaban nomor sembilan,
tambak itu ada sejak Silaban nomor satu," tutur dia.

Warga percaya, jika pohon semakin besar dan rindang dengan cabang yang banyak,
keturunan keluarga itu dipercaya berhasil di masyarakat. "Jika pohon justru mati atau
tak banyak berdaun, keluarga besar itu pun tak banyak berguna di masyarakat," tutur
Marandut Manulang (42), warga Doloksanggul, Humbang Hasundutan.
Sri Hartini, dalam disertasinya yang berjudul "Kajian Bentuk dan Makna Tambak pada
Masyarakat Batak Toba" membagi makam keluarga Batak Toba dalam tiga tipe :
Pertama, tambak dari tanah yang ditinggikan yang biasanya ditanami pohon kosmis
(biasanya pohon beringin) atau ditancapi tanduk kerbau.
Kedua adalah makam dari batu alam utuh berbentuk segi empat panjang yang disebut batu
sada, parholian, atau sarkofagus. Tambak model ini merupakan peninggalan tradisi megalit
sejak 3.000 tahun sebelum Masehi. Hanya kaum bangsawan yang diduga mampu membuat
kubur batu mengingat butuh banyak tenaga untuk memindahkan dan membuatnya. 
 
MAKAM RAJA SIDABUTAR. Sejumlah pengunjung melihat makam tua raja Sidabutar
berusia 480 tahun di desa Tomok, Kecamatan Simaniado Kabupaten Samosir, Minggu, 
Raja Sidabutar merupakan orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Samosir 
serta penguasa Samosir pada masa itu. Foto antarasumut.com/Septianda Perdana
 


Kuburan tua dari batu, kabarnya banyak dijumpai di Samosir, tetapi tidak dipelihara bahkan 
nyaris terlupakan. Yang selalu dipelihara dan menjadi objek wisata adalah Kuburan Batu
Raja Sidabutar di Tomok.
Ketiga adalah tambak dari semen atau campuran pasir, bata, dan semen yang disebut
Sri Hartini sebagai tambak modern. Berdasarkan penelitiannya di wilayah bona pasogit, Sri membagi tambak modern menjadi 13 kelompok berdasarkan bentuk bangunan. "Orang Batak sangat adaptif dalam membuat bentuk bangunan," tutur Sri. Tiga model pemakaman itu bisa dilihat sekaligus salah satunya di Huta (Kampung) Sialagan di Pulau Samosir. Kampung kecil milik keluarga Sialagan itu juga menjadi daerah tujuan wisata Pulau Samosir.
 
 
Di sudut kampung tumbuh sebuah pohon beringin besar. Di bawah pohon terdapat sarkofagus batu dan tambak semen persegi berisi tulang belulang marga Sialagan. Ratusan orang dikubur dalam tambak itu. "Umurnya kira-kira 600 tahun," kata Wesley Guntur Sialagan (60), generasi ke-19 marga Sialagan.
Wesley meyakini tradisi pemakaman Batak sangat erat dengan tradisi Hindu. Saat melakukan penggalian untuk membangun pagar tembok batu di dalam kampung itu, pensiunan pegawai bank pemerintah itu menemukan abu dalam pinggan pasu (piring) porselen. Penemuan abu yang ia duga sebagai abu jenazah leluhurnya itu menunjukkan bahwa ada tradisi pembakaran mayat seperti tradisi Hindu Bali. "Ini memang dugaan yang butuh pembuktian," kata Wesley. Abu leluhurnya itu kini ia makamkan dalam tambak di Sialagan.
Keputusan untuk memasukkan anggota keluarga yang meninggal dalam tambak biasanya dilakukan dengan rapat adat.

Ada dua jenis pemakaman adat Batak. 

Pertama, penguburan langsung ke tanah sesaat setelah kematian, terutama bagi orang yang mati muda.
Kedua adalah penguburan jenazah ke tanah, yang dilanjutkan penguburan tulang belulang beberapa tahun kemudian setelah proses pembusukan terjadi. Proses pemakaman kedua ini disebut mangokal holi.
Mangongkal holi ini butuh dana besar.
Kini banyak warga Batak menyatukan proses pembusukan dan pemakaman tulang dalam satu tambak. Bagian bawah tambak menjadi makam tempat pembusukan, bagian atas tempat disemayamkan tulang-tulang.
Bagi orang Batak tak ada tambak yang menakutkan. Leluhur yang jasadnya masuk ke tambak adalah orang-orang yang justru jiwanya akan membantu mereka yang hidup.
Tambak menjadi representasi sebuah marga atau keluarga besar.

Kesimpulan:
Kenapa manusia batak sekarang ini (modern) tidak menyadari dampak dari pembangunan makam begitu megahnya dipertengahan sawah, meskipun itu adalah tanah sawah milik keluarga besar. Sedangkan Nenek moyangnya menyadari dampak global warning dengan menanam pohon berigin (hariara) di makam mereka. Alangkah baiknya meniru sikap positif dari nenek moyang kita tersebut.

Minggu, 30 Januari 2011

Tarombo Bercerita (1)




Tarombo Bercerita

(Th.Pardede)

Konon ceritanya Boru Sanggulhaomasan isteri ketiga dari Sorimangaraja melahirkan Tuan sorba dibanua (SiSuanon) dan sebagai generasi ke empat dari si Raja Batak dan bermukim di Lumban Gorat Balige, sedangkan abangnya anak pertama dari Sorimangaraja Tuan Sorbadijulu bermukim di Pangururan, dan anak kedua dari Sorimangaraja Tuan Sorba dijae bermukim di siBisa, Uluan.
Ibu dari Tuan Sorbadibanua boru Sanggulhaomasan adalah anak perempuan dari Sariburaja yang berada di Haunatas dilereng Dolok tolong Balige , Menurut kisah lainnya Boru sanggul haomasan masih mempunyai anak kedua setelah SiSuanon alias Tuan Sorbadibanua yakni bernama Raja Tunggul yang kemudian pergi kearah Pakpak .

Setelah si Suanon beranjak besar putra dari Sorimangaraja dengan Nai Suanon sebagai gelar dari Borusanggulhaomasan, kharismanya sudah kelihatan dia berperawakan tinggi besar dan atletis dan hobby sama dengan Sorimangaraja Bapaknya yaitu berburu dengan Ultop. Disuatu hari diapun pergi berburu kehutan:

“Inang aku pergi dulu ya “, Suanon pamit kepada ibunya si boru sanggul haomasan,

“kau mau kemana Suanon?’ Tanya Ibunya

“Kami mau berburu”,jawab si Suanon

”hati-hatia ya amang”, seru Inangnya dari dalam rumah.

“ya Inang aku bersama kawan-kawanku ke hutan” jawab Si Suanon sambil ketawa dia pergi dengan kawan-kawannya.

Setelah matahari beranjak sore dan mendapatkan beberapa hewan buruan merekapun pulang,ditengah perjalanan mereka berpisah dan menuju rumah masing-masing (maklum ketika itu rumah masih jarang-jarang dan jauh). SiSuanon pun berjalan sendiri dan diperjalanan pulang dia bertemu dengan seorang wanita terbilang cantik dia langsung mendekati wanita itu dan mengajak berkenalan sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman, namun wanita itu menghindar untuk tidak bersalaman dengan laki-laki yang belum dikenalnya tetapi dia memperkenalkan dirinya sebagai boru Pasaribu dan namanya Antingmalela , Suanon pun memperkenalkan dirinya pada wanita tersebut namun matanya terus mengamati wanita yang memperkenalkan dirinya bernama Antingmalela boru pasaribu, membuat Antingmalela malu tersipu-sipu,

“maaf ito menurut adat dikampungkami ini pantang seorang laki-laki berkenalan ditengah jalan”, kata Antingmalela memecah kesunyian dikarenakan saling mengagumi.

Mendengara teguran Antingmalela, Suanopun salah tingkah dan mencoba bersikap wajar didepan wanita yang dikaguminya itu, semua sikap Suanon diperhatiakn Antingmalela sembari berkata dalam hatinya”dia pasti anak orang yang terpandang dan beradat”,
Antingmalela pun tersenyum melihat kekaguman SiSuanon terhadap dirinya, lalu dia melangkah meninggalkan Suanon alias Tuan Sorbadibanua muda.

Sepeninggal antingmalela Suanon terpaku dihanyut dalam kekagumannya terhadap Antingmalela, tidak berapa lama diapun sadar dari lamunannya, tampa disadarinya dia telah sampai dihalaman rumah. Ibu Suanon heran melihat anaknya seperti kebingungan:

“ada apa anakku, kau kelihatan cape sekali”,tegur ibunya sembari menyodorkan minuman kepada Suanon yang terus melangkah ditangga rumah mereka .

“tidak apa-apa inang Cuma capek aku tadi berburu”, jawabnya singkat lalu meminum air yang sodorkan ibunya, namun wajah waniata yang ditemuinya dijalan selalu terbayang-bayang dimataanya, dia mencoba menghilangkan bayangan itu dengan mencari kesibukan dengan kawan-kawan sebayanya.

Pada suatu hari Ibunya memanggil Si Suanon alias Tuan Sorbadibanua :

“Anakku, sudahlah layak kau untuk mencari jodohmu, kuperhatikan kau selama ini kau tidak pernah bergaul dengan perempuan perempuan dari kampung manapun seperti kawan kawanmu yang lain bahkan kawanmu sudah ada yang kawin, seperti si Pijor nihuta itu,” kata Ibunya suanon gelisah melihat anaknya belumjuga berniat untuk kawin
Si Suanon kaget dan tersentak mendengar keluhan ibunya , tiba-tiba dia teringat perempuan yang pernah di temuinya diperjalanan dahulu yaitu Anting malela.

“Inang kau tidak usah khawatir, aku sebenarnya sudah menemui tambatan hatiku”kata Suanon kepada ibunya dengan muka yang ceriah dan senumnya yang menawan, membuat ibunya heran denga tidak sabar ibunya mendesak anaknya:

“Siapa yang mampu mengambil hatimu itu amang ?”, Tanya NaiSuanon.

“ada boru ni rajai diseberang kampung kita ini Inang”, sahut Suanon

“cantikkah permpuanitu Suanon, dan siapa namanya ?’ kembali Ibu suanon bertanya

“Bagaimana Inang ini mana mungkin pilihanku tidak cantik”Jawab Suanon membanggakan diri
“yah sudah kalau sudah cantik kau bilang dan senang hatimu bagi Inangpun senang jugalah , tapi namanya siapa? Tanya ibu Suanon mengulangi pertanyaannya.

“Namanya Antingmalela boru Pasaribu.” Jawab Suanon , melihat perobahan sikap si Suanon ibunyapun terdiam kegirangan sambil bertanya-tanya dalam hatinya “boru siapalah Antingmalela itu, alagkah bahagianya aku kalu betul Antingmalela itu bisa menjadi menantuku”.

Setelah Si Suanon didesak ibunya untuk kawin, maka pada suatu hari:
“Inang kami pergi dulu ya dengan kawanku kekampungseberang sana jalan-jalan kata si suanon kepada ibunya, Ibu Suanon mendengar nada anaknya dia hanya tersenyum lalu berseru kepada anaknya dengan penuh harapan semoga anaknya mendapa jodoh seperti yang diceritakan kepadanya:

“Yah baik-baik kau dikampung orang jaga kesopananmu dan adat, tunjukkan sikapmu bahwa kau adalah anaknya raja yang tahu dopan santun”,begitulah petuah Ibunya kepada si Suanon, Dengan restu ibunya Suanonpun berangkat dengan kawannya kekampung si Antingmalela., sebelum memasuki perkampungan mereka melihat ada pncuran disana mereka meliha ada beberapa orang sedang menuci sembari ketawa-ketawa mereka saling menyirami air kepada kawannya. Dari jauh Suanon berseru ,
“Siapa yang ada di pancuran itu” kata Suanon,tiba-tiba suara ketawa-dari pancuran berhenti, tidak berapa lama ada pertanyaan terdengar dari pancuran

“Siapa disana itu dan apa maksud kalian?” seru suara seorang wanita.

“Kami adalah yang sedang lewat mau kekampung itu, tetapi kami bermaksud hendak cuci muka,bolehkah?” Tanya Suanon dengan tetapa menjaga kesopanan sesuai dengan petuah ibunya NaiSuanon..Tidak berapa lama keluar lah seorang wanita separoh baya disusul beberapa orang anak gadis dengan menjujung cucian diatas kepalanya . Si Suanon terhenyak melihat salah satu diantara gadis-gadis itu seperti dikenalnya, tetapi dia ragu apakah dia Antingmalela yang dikenalnya berapa tahun lalu atau orang lain pikirnya memang wanita itu cantik dan lebih dewasa dibandingkan dengan wanita yang pernah dikenalnya.Suanon terdiam tetapi matanya terus memandangi wanita yang mirip dengan Antingmalela.seketika suasana hening dan wanita separoh baya memecah keheningan ,

“mari saya kenalkan kepada kalian maen saya ini, namanya Anting malela sedangkan saya namborunya nama saya Nai Pandanrumariboru “ seru namboru nya Antingmalela

“mauliate Inang kalau saya bernama Si Suanon bergelar Tuan Sorbadibanua , setelah saling memeprkenalkan diri Anting malela dan Suanonpun tersadar dan teringat akan perkenalan mereka pertama
“rumah kami dikampung yang akan kalian tuju dan kalian sebenarnya mau menemui siapa?” Tanya namborunya Antingmalela

“Cuma jalan-jalan saja Inang”, jawab Suanon malu, wanita separoh baya sadar bahwa kedua pemuda ini adalah mau martandang saja layaknya pikirnya sambil berjalan

“Antingmalela kalau kulihat si Suanon itu naksir kau”,kata namborunya sambil ketawa,lalu memanggil suanon yang masih ada dihalaman Rumah
“MARNGUNGUNG NGUNGUNG RONGIT DI JULU NI PATIAN,SANJONGKAL DUA JARI MANTAT LUBUK PANGKALIAN;BA HUNDULMA JOLO DAMANG DI DOLOK MARANTI MARADIAN, ASA TANGKAS DAMANG MARPANARIAN.DUNGI SO MA DAMANG SIANI,MARANGGIR MARTAPIAN,MANDAPTHON AEK SITIOTIO PANAILIAN,TUMPAHON NI OMPUNTA SAI TIO MA PARULIAN”
Tutur kata yang begitu indah dikuping si suanon membuat dia menarik kesimpulah bahwa penghuni rumah ini adalah orang terkemuka dikampung itu yang tahu adapt dan uhum Batak. Suanon dengan kawannya menerima undangan lalu mereka masuk dan duduk diatas tikar yang telah dibentangkan,kemudian Suanon alias Tuan Sorbadibanu:
“AMANG NA DIDOLOK PANGIDOAN HOTANG, AMANG NA DI HOLBUNG PANGIDOAN MUAL.PINASAE BONA NI GORAT I PARBUENA MA NIIDA;NIDAPOTHON MA PARIBAN NAPURANNA MA NA NIIDA” .
Mereka saling bersahutan antara Antingmalela dengan Suanon, yang akhirnya mereka saling mengagumi, setelah saling menuturkan kata kata yang sangat indah semua dengan perumpamaan ;
“HODONG DO PAHU HOLIHOLI SAKALIA;MOLODIPANGAN NAPURANKU HOLOM IDAON NASIDA!”
Demikian Antingmalela menjawab permintaan sekapur sirih dari si Suanon,yang kemudian ditanggapi suanon pula:
ADONG DO DIHUTA NAMI DA ITO LAPELAPE SATONGA ARIAN,ULOS SATONGA BORNGIN,PAGAR TU PARTONDION DOMUDOMU TU NASIRANG.SIPATUDUHON NA ADONG DOHOT SIPABALIK PUTAR NI PARBEGUAN.NAMANGUTAHON MUDAR,NA MANGALLANG SIRUMATA BULUNG.ON DO NIDOKNA DISI:MOLO RARA DO PANGANON NAPURANI, NDANG HOLOM IDAONKU,MOLO SO RARA, BAHOLOM IDAONKU
Kata-kata yang dilantunkan keduanya mencoba saling menjajaki .

“Saya heran melihat kau ito, siapa aku dan siapa kau kita belum betul-betul saling mengenal tetapi kau sudah berani memintak napuran (sekapur sirih)” seru Antingmalela

“aku datang kesini naik kuda , tetapi ditengah jalan kuda tadi menanyai aku kemana kau bawa aku? Pa kau mengenal paribanmu dikampung itumaka jawabku ;kukenal, kalau betul kau kenal nanti tolong mintakkan sirih untu aku tetapi tidak bertangkai dan tidak berujung”, Sualon kembali membuat perumpamaan , yang kemudian dijawan Antingmalela:

“Kalu begitu tolong kau belikan sama aku tali yang panjang sepanjang jalan dan lebarnya selebar tanah sebagai ganti rugi dari sirih ku itu.” Kata Anting malela

“kalau permintaanmu itu sudah ada dikantongku ini, karena sudah disiapkan ibundaku tercinta “,kata suanon menerima tantangan si Antingmalela.

Mendengar jawaban Si Suanon Antingmalela tidak berdaya lagi untuk menolak permintaan Sualon memberikan sekapur sirih, sebagai tanda kedatangannya kerumah Antingmalela diterima dengan baik
Singkat cerita Anting malelapun dilamar untuk menjadi isteri dari Suanon gelar Tuan Sorbadibanua. Pestapun digelar selama 40 hari 40 malam tanda kebahagiaan kedua belah pihak. Perkawinan ini membuahkan 5 orang anak laki-laki yaitu:

Boru sibasopaet:

Siapakah isteri kedua dari Tuan sorbadibanua (Suanon)?
Ada yang mengatakan putri dari jawa atau kerajaan Mojopahit, Ada juga mengatakan adala boru basopaet yang dtemuka Sorimangaraja di hutan lereng gunung dolok tolong. Tetapi semua sepakat bahwa isteri kedua dari Tuan Sorbadibanua adalah boru sipasopaet.
Dikisahkan bahwaTuan Sorbadibanuar mendapatka 3 orang anak dari isterinya kedua boru Sibasopaet Yaitu

Ada beberapa versi cerita kelahiran anak dari boru sibasopaet; menurut WM.Hutagalung sbb: Suatu ketika Boru sibasopaet akan mandi ke pancuran disana dia menemulan tiga buah telor sebesar periuk , dari kejauhan didengarnya suara burung ,dia mengarahkan pandangannya darimana suara burung irtu yang kemudian tertuju mata diatas kepanya seekor burung Elang terbang serta bersuara :

“Hulis,hulis wahai boru sibasopaet ambil ketiga telor itu kerumahmu dan letakkan lah di Sumban(tempat kaso atap rumah dipakukan)”apa yang disuru burung elang itu dilaksanakan boru sibasopaet. Beberapa lama kemudian ketiga telurpun menetas dengan bentuk manusia ,masing-masing anak dianamai sesuai dengan dimana dia menetas. Sbb:
Yang pertama kebetulan telurtersebut menetas diatas Sobuan (sekam) maka dinamai anak tersebut Raja Sobu, telur kedua menetas di Sumban (tempat kaso atap rumah dipakukan) maka anak tersebut dinamai Raja Sumba, sedangkan telor ketiga dinamai berdasarkan ada Iposipos(cirri) di dagunya maka dinamai Naipospos. Tetapi ini hanya sebagai mytos atau apaun namanya .namun sebenarnya kelahiran ketiga anak tersebut adalah wajar ,Nama yang dicantumkan adalah berdasarkan nama nenek moyang mereka

Bersambung –2

Selasa, 04 Januari 2011

Orang Batak yang cinta Budaya dan tradisi mampu mengatasi krisis Toleransi

Mulajadi Na Bolon adalah Sesembahan Orang Batak sebelum Agama-agama Hindu/Budha, Islam dan Nasrani (Protestan/Katolik), memasuki kepercayaan orang Batak.
Tanda-tanda pengaruh Agama-agama ini masih terlihat pada suku bangsa Batak, pengaruh Hindu/budha pada suku Batak Simalungun,dan Karo, Pengaruh Agama Islam pada suku Batak Mandailing(Tapsel), serta Pengaruh Agama Nasrani ( Protestan/Katolik ) sangat kental pada suku bangsa Batak Toba.
Agama adalah salah satu faktor yang menyebabkan sejarah Batak kabur, dan tidak jelas,Karena masing-masing Agama melalui intelektualnya membuat sejarah berdasarkan susut pandang agama yang dianutnya.
Sejarah Batak selama ini selalu menimbulkan polemik yang berkepanjangan dan tidak pernah ada kesepakatan berdasarkan kesadaran pentingnya sejarah didalam perjalanan suatu bangsa.
Churchil pernah berkata :”Semakin jauh anda melihat kebelakang (sejarah) akan semakin jauh pula anda melihat ke depan. Sedangkan Yesaya menyatakan:”Bahwa untuk melihat masa depan , engkau harus melihat kebelakang (sejarah). Begitu pentingnya sejarah didalam kemajuan suku bangsa, inilah yang menyebabkan Bangsa Batak sedikit tertinggal dari saudara-saudaranya suku bangsa lain di bumi Indonesia, seperti sulu Minang, Jawa, sunda bahkan Manado dll.
Agama Islam yang mayoritas dianut suka Batak Mandailing akan mengalami kesulitan menerima ulasan sejarah yang diuraikan oleh penulis suku Batak Toba yang mayoritas beragama Nasrani, dengan alasan bahwa isi dari tulisan tersebut selalu memojokkan agama Islam, dan mebesarbesarkan peranan tokoh Keristen dalam pembentukan kepribadian orang Batak, Oleh karenanya Batak Mandailing belakangan ini tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Batak. Dan Begitu juga sebaliknya apabila ada penulis-penulis sejarah Batak yang isi tulisannya menonjolkan peranan Islam, maka Orang Batak Nasrani tidak akan pernah menerimanya sebagai fakta sejarah. Sungguh sayang nama besar Batak tidak pernah dapat besar kerna pertikaian yang terselubung.

Sebagai Contoh , tanggapan terhadap tulisan Mangaradja Onggang Parlindungan tentang bukunya yang berjusul “Tuanku Rao” , banyak menimbulkan polemik dimulai dari Tokoh Muhammadiyah Hamka yang membantah bahwa Tuanku Rao bukanlah orang Batak, meskipun Mangaradja Onggang Parlindungan dalam penguraiannya lengkap dengan Tahun. Bagi Orang Batak beragama Keristen dapat menerimanya karena Buku tersebut dengan gamblangnya menguraikan penyerangan kelompok Paderi yang beragama Islam bermazhab Hambali (wahabi) ke tanah Batak, dimana didaerah Toba kaum paderi yang dipimpin Tuanku Rao membumi hanguskan tanah Batak.
Demikianjuga paparan sejarah Batak tulisan Julkifli Marbun yang belakangan ini banyak di copy paste orang (sama dengan MOP) dalam penguraiannya lengkap dengan tahun kejadian. Semuanya belum dapat diterima dengan sepakat dari kedua belah pihak baik Nasrani maupun Islam .
Himbauan, Sebenarnya apa yang dilakukan kedua tokoh tersebut diatas aganya dapat dibuat sebagai motivasi untuk penelitian yang lebih efektif dan akurat. Mari kita semua Suku Bangsa Batak, baik Toba, Mandailing, Karo, Dairi dan Simalungun, maupun Islam dan Keristen sama-sama membuka tabir misteri sejarah Suku Bangsa Batak.
Dan saya berkeyakinan sangat banyak Intelektual Batak yang mampu melakukan penelitian sejarah Batak secara objektif san menyadarai pentingnya sejarah didalam menata masa depan Suku bangsa Batak,

seperti saudara Sadar Sibarani yang menulis buku SIRAJA BATAK (2 jilid)dll -THP

Barus 1000 tahu yang lalu

PELETAKAN BATU PERTAMA PEMBANGUNAN TUGU RAJA TOGA LAUT PARDEDE DI LUMBAN JABI-JABI - BALIGE

Setelah terbentuknya panitia pembangunan Tugu Raja Toga Laut Pardede di Jakarta oleh beberapa keturunan Raja toga Laut Pardede yang berdomisili di jakarta sekitarnya (sejabodetabek)
maka diputuskanlah agar semua keturunan Raja Toga Laut Pardede ikut serta dalam Napak tilas show force keliling kota Balige pada tanggal 18 Agustus 2007, dengan rute dimulai Losmen Toga Laut Tawar, Tugu Naga Baling, Makam Raja Bona Ni Onan Pardede & Raja Paindoan Pardede dan ber akhir di Lumban Jabi-jabi / Tugu Raja Toga Laut Pardede, yang kemudian dengan kata-kata sambutan, oleh Tokoh-tokoh Sonak malela dll.